News  

Dari Jalanan ke Kebun, Petani Punk Bangun Ekonomi Desa

Milenianews.com, Gunung Kidul – Di bawah terik matahari Gunungkidul, suara bising knalpot dan riuh jalanan perlahan tergantikan oleh gesekan cangkul dengan tanah. Rambut mohawk, jaket lusuh, dan sepatu penuh debu kini berdiri di antara petak-petak sawah. Bukan untuk sekadar singgah mereka datang untuk menanam.

Di Kapanewon Karangmojo, sebuah gerakan yang tak biasa tumbuh dari tempat yang tak disangka yaitu komunitas anak punk.

Baca juga: Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Gunung Kidul, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami 

Punk yang Memilih Akar, Bukan Asap Kota

Gerakan itu bernama Petani Punk diinisiasi oleh Pratisna Sibag pada 2018. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti ironi. Anak punk, yang identik dengan jalanan dan kebebasan tanpa aturan, justru memilih disiplin alam menanam, merawat, dan menunggu.

Namun, bagi Sibag, ini bukan soal gaya. Ini soal kegelisahan.

“Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya sudah 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang,” ujarnya. Dilansir dari radar jogja.
“Itu aneh bagi saya. Daripada habis waktu di kota tapi hasilnya tidak jelas, lebih baik garap lahan di dusun. Kami buktikan kalau bertani itu bisa menghidupi,” tuturnya.
Ia melihat satu per satu pematang sawah mulai sepi. Anak muda pergi, meninggalkan tanah yang dulu memberi hidup. Kota menjadi tujuan, meski tak semua menemukan apa yang dicari.
Dari 40 Jalanan ke 120 Harapan

Awalnya hanya puluhan. Sekitar 40 anak jalanan yang terbiasa hidup tanpa arah yang pasti, kini diajak mengenal ritme baru menanam, menyiram, dan memanen.

Di Padukuhan Kalangan, jumlahnya kini mencapai sekitar 120 pemuda. Bukan hanya anak punk, tapi juga warga sekitar yang mulai percaya bahwa masa depan tak selalu harus dicari jauh dari rumah.

Lahan-lahan yang dulu tak terurus perlahan hidup kembali. Tanah seluas 800 hingga 1.500 meter persegi dihibahkan oleh warga, bukan karena terpaksa, tapi karena percaya.

Hasil panen tak hanya menghidupi individu, tapi juga menggerakkan kegiatan sosial. Dari perayaan 17-an hingga malam tahun baru, semuanya ditopang oleh hasil tanah yang dulu dianggap tak lagi bernilai.

Lebih dari Sekadar Gerakan

Petani Punk bukan hanya cerita tentang pertanian. Ini adalah cerita tentang perubahan yang tidak selalu datang dari mereka yang “rapi” atau “ideal”.

Kadang, perubahan justru datang dari mereka yang pernah dianggap tak punya arah. Dari jalanan yang keras, mereka belajar bertahan. Dari tanah yang diam, mereka belajar sabar.

Baca juga: Trio Punk Bekasi, Sukses Lancar Rejeki, Rilis Album Debut “Bisa Meledak”

Pada akhirnya, Petani Punk bukan tentang punk, bukan pula semata tentang bertani.

Ini tentang keberanian untuk memilih jalan yang berbeda di saat semua orang berlari ke arah yang sama. Karena di tengah dunia yang sibuk mengejar kota, mereka memilih pulang.

Dan di tanah yang dulu ditinggalkan, mereka justru menemukan masa depan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *