Oleh: Muhammad Ash Shidqy, Mahasiswa STEI SEBI
Mata Akademisi, Milenianews.com – Menjadi mahasiswa hari ini rasanya tidak cukup hanya dengan datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang. Ada tuntutan lain yang semakin kuat yakni harus punya pengalaman, aktif organisasi, memiliki sertifikat, membangun portofolio, sampai mulai mencari pengalaman kerja sebelum benar-benar lulus. Salah satu jalurnya adalah dengan mengikuti magang.
Bagi mahasiswa, magang memang bisa menjadi kesempatan untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Namun, di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, muncul persoalan lain. Apakah magang masih menjadi ruang belajar bagi mahasiswa atau justru mulai bergeser menjadi cara mendapatkan tenaga kerja murah?
Persoalan ini semakin terasa ketika mahasiswa harus menjalani magang bersamaan dengan kuliah, tugas, bahkan skripsi.
Baca juga: Overclaim dalam Promosi Produk: Candu Pemasaran dan Ancaman Kepercayaan Konsumen
Ketika Magang Tidak Lagi Sekadar Belajar
Pada dasarnya, magang merupakan proses pembelajaran. Mahasiswa diberi kesempatan untuk mengenal lingkungan kerja, belajar berkomunikasi secara profesional, memahami budaya organisasi, serta menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
Namun, persoalan muncul ketika posisi mahasiswa sebagai peserta “intern” mulai diperlakukan seperti pekerja tetap. Diberi target, mengejar tenggat waktu, mengurus pekerjaan administratif, mengikuti rapat, hingga bertanggung jawab terhadap pekerjaan tertentu. Di sisi lain, kompensasi yang diberikan terkadang tidak sebanding, bahkan ada program yang tidak memberikan bayaran sama sekali.
Tentu, tidak semua perusahaan memperlakukan mahasiswa seperti itu. Banyak pula perusahaan yang memberikan mentoring, pengalaman yang relevan, serta lingkungan belajar yang baik.
Namun, jika seorang mahasiswa mengerjakan pekerjaan yang memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan, pertanyaan mengenai kompensasi dan perlindungan terhadap intern menjadi sesuatu yang wajar untuk dibicarakan.
Jangan sampai istilah “mencari pengalaman” menjadi alasan untuk menormalisasi pekerjaan tanpa batas.
Fresh Graduate Dituntut Berpengalaman
Persoalan magang juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan tuntutan dunia kerja. Hari ini, mahasiswa bahkan sering kali merasa harus mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin sebelum lulus.
Organisasi, kepanitiaan, volunteer, freelance, sertifikasi, kursus, portofolio, hingga magang menjadi daftar yang harus dicentang. Ironisnya, beberapa lowongan pekerjaan tingkat pemula atau entry-level juga menyantumkan pengalaman kerja sebagai salah satu persyaratan.
Disinilah muncul pertanyaan sederhana: Kalau untuk mendapatkan pekerjaan pertama harus punya pengalaman, pengalaman itu sebenarnya harus didapat dari mana? Situasi tersebut akhirnya menciptakan tekanan tersendiri bagi mahasiswa.
Belum lagi kehadiran LinkedIn dan media sosial profesional. Membuka linimasa bisa menjadi pengalaman yang cukup membuat cemas. Teman mengunggah keberhasilan mendapatkan internship, teman lain mendapat sertifikat, sementara yang lain sudah bekerja sebagai part-time atau freelancer. Tanpa disadari, pencapaian orang lain kemudian menjadi standar untuk mengukur diri sendiri.
“Teman sudah magang, saya kapan?” “Dia sudah punya pengalaman, saya punya apa?” “Kalau semester ini belum magang, apakah saya akan tertinggal?”
Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi, kesempatan, dan sumber daya yang berbeda.
Beban Ganda Mahasiswa Magang
Masalah berikutnya adalah persoalan waktu. Mahasiswa yang mengambil magang sambil kuliah pada dasarnya menjalani dua tanggung jawab sekaligus. Di satu sisi ada jadwal kuliah, tugas, ujian, dan kegiatan akademik. Di sisi lain ada pekerjaan, target, rapat, serta tanggung jawab dari tempat magang.
Ketika memasuki semester akhir, bebannya bisa semakin berat karena harus mengerjakan skripsi. Pagi hingga sore menjalani aktivitas magang. Malam mengerjakan tugas kuliah. Akhir pekan digunakan untuk menyelesaikan laporan atau revisi. Di sela-selanya masih harus mengurus skripsi.
Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa sering kali hanya diberi nasihat untuk “pintar mengatur waktu”. Padahal, manajemen waktu memang penting, tetapi tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan time management.
Ada perbedaan antara belajar mengatur waktu dengan menanggung beban yang memang terlalu banyak. Persoalannya menjadi semakin serius bagi mahasiswa yang secara ekonomi tidak memiliki banyak pilihan.
Mahasiswa yang tinggal di kos, harus membayar makan, transportasi, internet, kebutuhan kuliah, dan biaya lainnya tentu memiliki pertimbangan berbeda ketika ditawari magang tanpa bayaran.
Bagi sebagian mahasiswa, unpaid internship mungkin masih memungkinkan karena ada dukungan finansial dari keluarga.
Namun bagi mahasiswa lain, mengambil magang tanpa penghasilan berarti harus mengorbankan kebutuhan hidup atau mencari pekerjaan tambahan. Artinya, akses terhadap pengalaman kerja juga dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.
Lalu, Magang Seharusnya Seperti Apa?
Magang tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Justru pengalaman magang dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia profesional. Yang perlu diperbaiki adalah bagaimana sistem magang tersebut dijalankan. Perusahaan perlu memiliki tujuan pembelajaran yang jelas bagi mahasiswa. Intern juga sebaiknya mendapatkan arahan dan mentor, bukan hanya daftar pekerjaan.
Beban kerja perlu disesuaikan dengan posisi mahasiswa sebagai peserta magang. Jika mahasiswa diberikan tanggung jawab yang menghasilkan kontribusi nyata bagi perusahaan, kompensasi yang layak juga perlu menjadi bagian dari pembahasan. Di sisi lain, kampus juga memiliki peran penting. Kampus dapat memastikan program magang mahasiswa benar-benar memberikan pengalaman yang relevan dengan bidang studinya, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Mahasiswa sendiri juga perlu memahami bahwa tidak semua kesempatan harus diambil.
Baca juga: Perlu Adanya Batas Waktu dan Larangan Membawa Pulang Makanan MBG Demi Keamanan Pangan Anak
Magang bukan sekadar tentang menambah satu baris di CV atau membuat unggahan di LinkedIn. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sebenarnya kita pelajari dari pengalaman tersebut?
Sebab pada akhirnya, karier bukan perlombaan untuk menjadi mahasiswa yang paling cepat mengumpulkan pengalaman.
Kita memang perlu mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Namun, persiapan tersebut seharusnya tidak membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk belajar, beristirahat, dan menjalani proses pendidikan secara sehat. Magang seharusnya menjadi jembatan dari dunia kampus menuju dunia profesional. Bukan jalan pintas untuk mendapatkan tenaga kerja murah.
Mahasiswa memang perlu pengalaman. Tetapi pengalaman juga seharusnya menghargai mahasiswa sebagai manusia, bukan sekadar sebagai tenaga tambahan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













