Milenianews.com, Banjarmasin– Dalam rangka merayakan the 20th Anniversary of ULM Postgraduate Program & FORPIMPAS, Universitas Lambung Mangkurat menggelar Seminar Nasional Pascasarjana ULM 2026 dengan tema “Integration of Environmental Management through Science and Technology, Transformation of Science, Law, Socio Economics and Culture Towards a Sustainable Ecosystem”.
Acara yang digelar di Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin, Senin, 6 Juli 2026 itu menghadirkan para keynote speakers Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS (Anggota Komisi IV DPR RI dan Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University), Prof. Dr. Eng. Agus Haryono (Deputi Riset dan Inovasi BRIN), dan Prof. Madya Dr. Zainudin bin Hassan (Universiti Teknologi Malaysia – UTM).
Dalam keempatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) membawakan makalah berjudul “Kolaborasi Penta-Helix untuk Pembangunan Blue Economy yang Meningkatkan Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi Secara Berkelanjutan Dalam Rangka Mewjudukan Indonesia Emas 2045”.
Ia menegaskan, jika Potensi Blue Economy (Ekonomi Biru) didayagunakan dan dikelola berbasis inovasi Iptek dan manajemen profesional, maka sektor-sektor ekonomi kelautan diyakini akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi segenap permasalahan bangsa, dan mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia serta Indonesia Emas paling lambat pada 2045.
Untuk itu, kata dia, Kolaborasi Penta-Helix sangat penting untuk Pembangunan Blue Econony tersebut dengan sebaik mungkin. Penta-Helix merupakan sebuah model kerjasama inovatif yang menghubungkan Akademisi, Bisnis (Industri), Komunitas Pemerintah, dan Media Masa untuk menciptakan ekosistem kerjasama berdasarkan pada Kreatifitas dan Inovasi Iptek.
Menyoroti peran Perguruan Tinggi dalam kolaborasi Penta-Helix tersebut, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Perguruan Tinggi jangan hanya mencetak sarjana untuk mencari pekerjaan (karyawan), tapi menjadi pelaku usaha bisnis. “Perguruan Tinggi harus mencetak pelaku sektor, bukan sekadar sarjana Kelautan dan Perikanan. Kampus Kelautan dan Perikanan harus melahirkan pelaku Ekonomi Biru, bukan hanya pencari kerja di sektor kelautan,” tegas Prof. Rokhmin yan juga Ketua Umum GNTI (Gerakan Tani Nelayan Indonesia).
Karena itu, kata Prof. Rokhmin, kurikulum Kampus Kelautan dan perikanan harus berbasis rantai nilai kelautan dan perikanan dari hulu hingga hilir untuk mencetak pelaku Ekonomi Bisnis yang kompeten dan berdaya saing.

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu mengungkapkan bahwa tantangan utama sektor kelautan dan perikanan Indonesia bukan sekadar jumlah tenaga kerja, tetapi kualitas, kompetensi, sertifikasi dan link-and-match dengan kebutuhan sektor. Karena itu, kata dia, kampus harus menjadi Inkubator Bule Economy Talent. “Perguruan Tinggi harus menjadi incubator talenta Ekonomi Biru, bukan hanya lembaga pengajaran,” tegas Prof. Rokhmin.
Selain itu, kata Prof. Rokhmin, kampus perlu membangun ekosistem yang mempertemukan riset dosen, krearivitas mahaiswa, kebutuhan industri, masalah masyarakat pesisir, dan dukungan pemerintah.
“Setiap kampus kelautan dan perikanan idealnya memiliki laboratorium hidup: kapal, tambak, pesisir, pasar ikan, laboratorum digital, dan kemitraan nyata,” tegas Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se-Indonesia).













