Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Shanghai dikenal sebagai salah satu metropolitan paling modern di China. Kota ini merupakan pusat perdagangan dan keuangan internasional yang dipenuhi gedung pencakar langit futuristis. Namun Shanghai bukan hanya tentang modernitas. Kota ini juga dikenal sebagai tempat yang tetap merawat sejarah dan budaya yang sebagian telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun.
Di Shanghai, wisatawan dapat menemukan sejumlah masjid bersejarah yang masih aktif digunakan hingga kini.
Saya berada di kawasan kota lama, wilayah yang sejak dahulu menjadi tempat bermukim berbagai komunitas pendatang. Di kawasan inilah berdiri Masjid Xiaotaoyuan, salah satu masjid terbesar dan paling penting di Shanghai.
Baca juga: Shanghai ke Beijing, Melaju di Rel 300 Kilometer per Jam
Saya memasuki kompleks masjid melalui gerbang sederhana dan berjalan melewati taman yang cukup luas. Xiaotaoyuan berdiri tenang di tengah hiruk pikuk kota. Bangunannya tampak bersih dengan dominasi warna putih. Dari luar terlihat perpaduan arsitektur Tiongkok modern dan unsur-unsur Islam yang cukup kuat. Kubah hijau besar dan menara masjid yang menjulang memberikan identitas Islam yang jelas di tengah lingkungan kota lama Shanghai.
Xiaotaoyuan Mosque, Masjid Komunitas Internasional


Saya melangkah memasuki ruang salat utama yang cukup luas. Karpet merah terbentang rapi. Sebuah tangga menuju lantai atas menunjukkan bahwa area ibadah tidak hanya berada di satu tingkat.
Cahaya alami masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang teduh dan khusyuk. Interior masjid dihiasi kaligrafi Arab serta ornamen bernuansa Islam yang dipadukan dengan sentuhan budaya lokal.
Masjid Xiaotaoyuan menjadi bukti bahwa Shanghai sejak lama merupakan kota yang terbuka terhadap berbagai budaya. Sebagai kota pelabuhan internasional, Shanghai menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa dari Eropa, Timur Tengah, Persia, hingga Asia Tenggara.
Di sudut ruangan, seorang kakek berwajah Tionghoa, mungkin dari etnis Hui atau Uyghur, membaca Al-Qur’an dengan suara lirih. Seorang penjaga masjid dengan ramah menunjukkan foto-foto hitam putih yang terpajang di dinding. Foto-foto lama itu memperlihatkan kehidupan jamaah puluhan tahun lalu: ulama, pelajar, pekerja pelabuhan, hingga pegawai kantor.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Seperti banyak masjid lainnya, Xiaotaoyuan juga menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya masyarakat Muslim. Komunitas Hui, Uyghur, mahasiswa asing, pekerja internasional, hingga wisatawan Muslim dari berbagai negara kerap bertemu di sini.
Saat berada di halaman masjid, saya mendengar berbagai bahasa yang digunakan para pengunjung. Suasananya terasa sangat internasional.
Huxi Mosque, Tumbuh di Tengah Permukiman Modern


Berbeda dengan Xiaotaoyuan yang berada di kawasan kota lama, Masjid Huxi berdiri di tengah lingkungan apartemen modern Shanghai.
Kubah hijaunya tampak kontras di antara deretan menara apartemen dan jalan raya yang sibuk. Pengaruh arsitektur Islam modern Timur Tengah terlihat cukup dominan pada bangunan ini. Kubah besar berwarna hijau menjadi elemen paling mencolok, sementara menara putih sederhana melengkapi bangunan utama.
Pagar masjid berdampingan langsung dengan kompleks apartemen. Ketika melangkah masuk, hanya dalam beberapa puluh langkah suasana kota yang ramai terasa tertinggal di luar pagar. Pepohonan kecil di halaman menciptakan suasana yang lebih teduh dan tenang.
Beberapa jamaah mulai berdatangan, kemungkinan untuk mengikuti salat Magrib berjamaah.
Ruang utama masjid didesain terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Interiornya sedikit mengingatkan saya pada masjid-masjid di kampung-kampung Jawa Barat. Kaligrafi Arab dan dekorasi geometris khas Islam mendominasi ruangan.
Dua orang kakek dengan kopiah putih duduk berbincang. Seorang pemuda membawa ransel, mungkin mahasiswa. Ada pula pekerja berwajah Asia Selatan yang masih mengenakan jaket proyek. Di tengah Shanghai yang modern dan serba cepat, suasana di masjid ini terasa hangat dan manusiawi.
Lampu gantung menyala lembut di ruang salat. Seorang anak kecil yang mengantuk menunggu ayahnya menyelesaikan ibadah di atas hamparan karpet hijau. Di salah satu pusat keuangan dunia, masih ada ruang yang menghadirkan suasana akrab layaknya kampung halaman.
Seperti Xiaotaoyuan, Masjid Huxi juga menjadi pusat aktivitas komunitas Muslim Shanghai. Pada hari Jumat dan selama bulan Ramadan, aktivitas masjid meningkat tajam. Saat salat berjamaah, ruang utama sering kali tidak mampu menampung seluruh jamaah sehingga halaman masjid ikut digunakan.
Ketika berbuka puasa, pengurus masjid biasanya mengoordinasikan penyediaan makanan. Banyak anggota komunitas Muslim yang turut menyumbangkan hidangan untuk berbuka bersama.
Seiring berkembangnya aktivitas masjid, sejumlah keluarga Muslim memilih tinggal di sekitar kawasan ini. Perlahan tumbuh pula berbagai usaha yang melayani kebutuhan komunitas Muslim, termasuk toko kebutuhan halal dan restoran.
Sate Domba Xinjiang yang Menggoda Selera


Saya menyempatkan diri berkeliling di kawasan komersial sekitar masjid, terutama untuk melihat pilihan kuliner halal yang tersedia.
Sebagian besar restoran menyajikan makanan khas Xinjiang dan Lanzhou, dua wilayah di China yang memiliki komunitas Muslim cukup besar dan terkenal dengan olahan daging dombanya.
Suasana kawasan kuliner ini terasa berbeda dibandingkan area kuliner lain di Shanghai. Aroma jintan, rempah-rempah Timur Tengah, dan daging panggang samar-samar tercium di udara. Sesekali asap dari panggangan langsung menyapa hidung.
Papan nama restoran bertuliskan aksara Mandarin berdampingan dengan tulisan Arab. Hampir semuanya menampilkan penanda halal yang jelas.
Salah satu menu yang paling menarik perhatian adalah sate domba Xinjiang atau lamb skewer. Hampir setiap restoran menjualnya. Potongan daging domba ditusuk menggunakan batang logam lalu dipanggang di atas bara api. Setelah itu ditaburi jintan, cabai, dan rempah-rempah khas Asia Tengah.
Asap tipis yang muncul dari panggangan menghadirkan aroma yang sangat menggoda. Sulit untuk tidak berhenti dan mencobanya, terutama setelah selesai beribadah di masjid.
Selain sate domba, ada pula mi tarik khas Lanzhou. Proses pembuatannya dilakukan langsung di depan pembeli. Adonan mi ditarik berulang kali dengan gerakan cepat dan terampil hingga berubah menjadi untaian panjang yang seragam.
Mi yang telah jadi direbus sebentar, lalu disajikan dalam mangkuk dan disiram kuah kaldu kambing yang kaya rasa.
Baca juga: Jumatan di Queens, Menyusuri Masjid New York dan Hangatnya Couscous Maroko
Pilihan lain adalah sup kambing berkuah bening atau tumis kambing dengan jintan yang sekilas mengingatkan pada tengkleng khas Solo. Secara umum, cita rasa masakan Muslim di kawasan ini terasa lebih kuat dan kaya rempah dibandingkan masakan khas Shanghai yang cenderung lebih ringan dan sedikit manis.
Kawasan kuliner ini selalu ramai pada jam makan siang dan malam. Pengunjungnya tidak hanya jamaah masjid, tetapi juga warga lokal dan wisatawan. Sebagian datang karena mencari makanan halal, sebagian lagi tertarik mencoba pengalaman kuliner yang berbeda di tengah modernitas Shanghai.
Di sinilah saya melihat sisi lain Shanghai. Bukan hanya kota pencakar langit dan pusat keuangan dunia, tetapi juga kota yang memberi ruang bagi keberagaman budaya, sejarah, dan kehidupan komunitas Muslim yang terus bertahan dari generasi ke generasi.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










