Milenianews.com, Sydney– Board of Imam CIDE dan ANIC (Australian National Imams Council), Dr. Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, M.Sh, Ph.D, CRGP tampil menjadi khatib dan imam shalat Jumat di Masjid Al-Hijrah Tempe New South Wales Australia, Jumat (22/5/2026). Shalat Jumat itu dihadiri oleh jamaah diaspora di Sydney.
Lembaga Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) Ltd New South Wales, Australia, secara resmi merilis naskah intisari khutbah Jumat yang disampaikan dalam rangkaian program Zulhijjah Journey 1447 H. Khutbah ini mengupas tuntas eksistensi dan peran strategis umat Muslim yang hidup di tengah masyarakat multikultural.
Dr. Shaifurrokhman Mahfudz menergaskan keberadaan umat Muslim di bumi Australia—baik sebagai warga negara, permanent resident, pekerja profesional, maupun mahasiswa—bukanlah sekadar angka statistik minoritas. Sebaliknya, setiap individu diaspora membawa misi besar sebagai duta peradaban Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
Merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 110 mengenai predikat Khairu Ummah (umat terbaik), ditegaskan bahwa status tersebut tidak datang secara cuma-cuma sebagai warisan genetis atau formalitas identitas.
“Predikat luhur ini harus diperjuangkan secara nyata melalui penguatan kualitas diri, kontribusi kemanusiaan, dan keteguhan iman yang tidak tergoyahkan di tengah realitas global yang dinamis serta kompetitif,” kata Dr. Shaifurrokhman Mahfudz.


Ia menegaskan, guna mewujudkan komunitas diaspora yang bermartabat dan memiliki daya saing global, terdapat tiga pilar strategis yang harus dibangun bersama oleh umat Muslim di Australia:
- Penguatan Capacity Building dan Daya Saing Global
Umat Islam di Australia diserukan untuk membuang jauh-jauh mentalitas minoritas yang merasa lemah, inferior (minder), atau sekadar menjadi penonton di pinggir lapangan sejarah. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi profesionalisme, ilmu pengetahuan, dan keahlian mutakhir. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, bahwa Allah sangat mencintai jika salah seorang di antara hambanya mengerjakan suatu pekerjaan secara itqan—yakni profesional, berkualitas, dan tuntas.
Baca Juga : Khutbah Idul Adha Sydney Gaungkan Sinergi Umat: Pesan Persatuan “Dari Takbir Menuju Sinergi”
“Oleh karena itu, diaspora Muslim, khususnya komunitas Indonesia, dituntut untuk aktif meningkatkan kapasitas diri (capacity building) di segala lini. Penguasaan terhadap sains, teknologi, hukum, ekonomi, hingga keuangan syariah dan tata kelola kelembagaan menjadi hal yang mutlak. Ketika umat memiliki kompetensi dan kapasitas yang unggul, mereka tidak akan mudah diadu domba, dimanipulasi, atau sekadar dijadikan objek dalam pusaran geopolitik global. Kompetensi yang tinggi akan menjadi benteng profesional, sementara integritas kokoh menjadi karakternya,” ujarnya.
- Menjadi Warga Muslim Australia yang Bermartabat dan Cinta Tanah Air
Hidup sebagai minoritas di Australia memberikan kesempatan emas untuk mempraktikkan dakwah bil-hal atau dakwah melalui tindakan dan teladan nyata. Umat Muslim harus mampu menunjukkan bahwa ketaatan pada syariat Islam berbanding lurus dengan komitmen untuk menjadi penduduk yang patuh hukum, menjaga kedamaian, dan berkontribusi aktif bagi kesejahteraan masyarakat Australia (commonwealth).
“Bagi diaspora Indonesia, jarak geografis yang memisahkan dengan tanah air tidak boleh melunturkan semangat nasionalisme substantif (Hubbul Wathan). Rasa cinta tanah air adalah bagian dari ekspresi syukur atas akar budaya tempat diri dilahirkan dan dibesarkan. Nasionalisme ini dibuktikan dengan membawa nama baik Indonesia di panggung internasional melalui prestasi, serta mencerminkan keramahan Islam Nusantara yang teduh, inklusif, dan moderat (wasathiyah). Dengan demikian, Muslim Indonesia mampu berintegrasi dengan baik di Australia tanpa kehilangan jati diri, serta menghormati perbedaan tanpa mengorbankan prinsip keyakina,” papar Dr. Shaifurrokhman Mahfudz yang juga Pengurus Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam-Majelis Ulama Indonesia (LSBPI MUI).
- Mengokohkan Kekuatan Tauhid sebagai Jangkar Kehidupan
Seluruh kapasitas intelektual, profesionalisme, dan adaptasi sosial di bumi asing akan kehilangan arah jika tidak dijangkar oleh kekuatan Tauhid yang murni. Di tengah arus sekularisme, materialisme, dan krisis moralitas global, Tauhid adalah sumber energi spiritual utama yang menjaga seorang Muslim agar tetap tegak berdiri menghadapi badai kehidupan.
“Tauhid mengajarkan bahwa rasa takut, tunduk, dan berharap hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Dengan tauhid yang kuat, seorang Muslim diaspora tidak akan menggadaikan akidahnya demi kesenangan duniawi yang sementara. Di mana pun bumi dipijak, di sanalah nama Allah diagungkan. Shalat tetap terjaga, makanan halal tetap diperjuangkan, dan akhlakul karimah tetap menjadi hiasan perilaku sehari-hari. Nilai inilah yang melahirkan izzah (harga diri)—mampu menghormati budaya setempat dan menghargai hukum Australia, namun tidak sedikit pun larut oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan fitrah ketauhidan,” kata Dr. Shaifurrokhman Mahfudz.
Ia menegaskan, keberadaan umat Islam di Australia hari ini sudah sepatutnya dijadikan sebagai sebuah legacy (warisan peradaban) yang indah bagi generasi anak-anak selaku masa depan Muslim di benua kangguru. “Generasi muda harus dididik agar memiliki tingkat literasi yang tinggi, menguasai ilmu pengetahuan modern, dan fasih berkomunikasi di panggung global, namun memiliki hati yang terpaut erat dengan masjid serta kepala yang senantiasa tunduk sujud hanya kepada Allah Azza wa Jalla,” ujarnya.










