Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Media sosial telah mengubah banyak cara anak-anak dan remaja memandang dunia. Hari ini, sesuatu dianggap menarik jika viral. Sesuatu dianggap hebat jika mengundang tawa, mendapat banyak perhatian, lalu direkam dan dibagikan ke internet. Di tengah budaya seperti itu, muncul kebiasaan baru yang makin sering terlihat, yaitu aksi freestyle demi dianggap keren oleh lingkungan sekitar.
Masalahnya, perilaku ini tidak lagi muncul hanya di tempat bermain atau tongkrongan. Ia mulai merambah sekolah bahkan tempat ibadah.
Belakangan, tidak sedikit anak yang bercanda berlebihan di masjid, membuat aksi aneh saat salat berjamaah, atau sengaja bertingkah lucu demi memancing perhatian teman-temannya. Ada yang menganggapnya sekadar candaan anak-anak. Padahal jika dibiarkan, ini menunjukkan sesuatu yang lebih serius, yaitu mulai pudarnya pemahaman tentang adab dan penghormatan terhadap ruang-ruang yang seharusnya dijaga kesuciannya.
Baca juga: Seragam Masih Melekat, Rokok Sudah Dinyalakan, dan Kita Semua Pura-Pura Tidak Melihat
Ketika semua hal harus dijadikan konten
Anak-anak hari ini tumbuh di lingkungan digital yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka setiap hari melihat orang terkenal karena tingkah unik, prank berlebihan, atau aksi nyeleneh yang ramai di media sosial. Akibatnya, banyak yang mulai percaya bahwa perhatian adalah ukuran keberhasilan.
Semakin lucu, semakin viral. Semakin nekat, semakin dianggap keren. Di titik inilah batas antara hiburan dan adab mulai kabur.
Masjid yang seharusnya menjadi ruang ketenangan kadang diperlakukan seperti arena bercanda. Salat yang mestinya dijalani dengan khusyuk justru dijadikan momen mencari perhatian. Anak-anak mungkin belum sepenuhnya memahami kesalahan itu. Karena itulah persoalan ini tidak bisa hanya disikapi dengan kemarahan, tetapi perlu dibimbing dengan serius.
Sebab ketika tempat ibadah mulai kehilangan rasa hormat di mata anak-anak, yang rusak bukan hanya suasana masjid, tetapi juga cara mereka memandang nilai agama itu sendiri.
Anak hebat tidak selalu yang paling ramai
Ada kesalahan besar yang perlahan tumbuh dalam budaya digital hari ini, yaitu anggapan bahwa menjadi pusat perhatian sama dengan menjadi hebat.
Padahal kehebatan sejati justru terlihat dari kemampuan menjaga diri.
Anak yang mampu bersikap sopan di rumah ibadah jauh lebih membanggakan dibanding anak yang sibuk mencari tepuk tangan lewat tingkah aneh. Anak yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus tenang menunjukkan kedewasaan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar viral beberapa detik.
Sayangnya, lingkungan pertemanan sering mempercepat penyebaran perilaku negatif ini. Ketika satu anak bertindak tidak pantas lalu ditertawakan dan dianggap lucu, yang lain akan terdorong meniru. Lama-lama, tindakan yang salah terasa normal karena terus mendapat respons dan perhatian.
Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting.
Orang tua dan guru tidak bisa lepas tangan
Pendidikan karakter tidak cukup hanya lewat nasihat singkat. Anak-anak belajar terutama dari lingkungan yang mereka lihat setiap hari.
Orang tua perlu lebih peduli terhadap tontonan dan kebiasaan digital anak. Sebab banyak perilaku yang sebenarnya lahir dari proses meniru. Apa yang terlihat lucu di internet sering dianggap wajar untuk dilakukan di dunia nyata.
Guru juga memiliki tanggung jawab besar untuk terus menanamkan adab di sekolah. Pendidikan tidak boleh berhenti pada nilai akademik semata. Sekolah harus tetap menjadi tempat membangun akhlak, rasa hormat, dan kemampuan menempatkan diri.
Anak perlu memahami bahwa adab lebih tinggi daripada sekadar popularitas.
Masyarakat pun seharusnya berhenti memberi panggung berlebihan pada perilaku yang jelas salah. Banyak aksi tidak pantas menjadi besar justru karena terus direkam, dibagikan, lalu dijadikan hiburan ramai-ramai. Akhirnya pelaku merasa bangga karena mendapatkan perhatian.
Budaya seperti ini pelan-pelan membuat anak kehilangan rasa malu.
Baca juga: Keliru Membaca Tagar #KaburAjaDulu: Ketika Kritik Anak Muda Malah Dianggap Ancaman
Masjid bukan panggung hiburan
Generasi muda memang hidup di era yang serba cepat dan penuh hiburan. Namun ada nilai yang tetap tidak boleh hilang, yaitu penghormatan terhadap ibadah dan tempat suci.
Masjid bukan arena freestyle. Salat bukan konten hiburan.
Anak-anak perlu diajarkan bahwa menjadi keren tidak harus selalu tampil paling ramai atau paling lucu. Kadang justru kemampuan menjaga sikap, menghormati orang lain, dan menahan diri adalah bentuk kedewasaan yang paling sulit dilakukan.
Sebab popularitas di media sosial hanya bertahan sebentar. Sementara akhlak akan menentukan bagaimana seseorang dihargai sepanjang hidupnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.












