Makau, Jejak Budaya dan Rasa di Persimpangan Portugis dan China

makau

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Senado Square, atau Largo do Senado dalam bahasa Portugis, menjadi jantung sejarah Makau. Area ini sudah saya jelajahi, dari alun-alun hingga Ruins of St. Paul. Kawasan ini memberi pemahaman sederhana bahwa budaya Barat dan Timur bisa tampil harmonis, melalui perpaduan Portugis dan China.

Bentuknya seperti segitiga memanjang, dihiasi ubin mosaik bermotif gelombang laut khas Portugal. Nuansa Mediterania terasa hadir di tengah Asia.

Dari Senado Square, saya memilih berjalan kaki menuju kawasan kasino, tepatnya Grand Lisboa. Jaraknya sekitar satu kilometer lebih sedikit, melewati Avenida de Almeida Ribeiro, jalan utama yang oleh masyarakat lokal dikenal sebagai San Ma Lo. Trotoarnya tidak terlalu lebar, tetapi tertata rapi dengan taman kecil di sepanjang jalan. Rute ini perlahan membawa suasana dari kawasan historis menuju lorong kemewahan Makau.

Baca juga: Macau, Di Antara Kasino dan Jejak Iman

Gedung-gedung kolonial bergaya Eropa berdiri di sepanjang jalan. Di bagian bawahnya, berderet toko perhiasan dengan pajangan emas mencolok, gerai oleh-oleh, butik kecil, kafe, serta toko makanan khas Makau seperti Portuguese egg tart, almond cookies, dan dendeng khas Makau. Kios obat tradisional juga hadir, menawarkan ramuan herbal otentik.

Suasana terasa hidup. Percakapan dalam berbagai bahasa bercampur dengan aroma makanan yang menggoda dari kafe dan gerai di sepanjang jalan.

Di beberapa titik, gang-gang kecil terbuka di sisi kiri dan kanan jalan. Gang berbatu, sebagian menanjak, dengan papan nama tua dan lampion. Balkon besi tempa bergaya Eropa berpadu dengan ornamen China. Dari situ terlihat bahwa bangunan-bangunan tersebut masih digunakan sebagai hunian. Di salah satu sudut gang, tampak kedai mi sederhana yang seolah sudah berdiri puluhan tahun.

Simbolisme, kemewahan, dan wajah modern Makau

makau, kota modern

Mendekati kawasan kasino, lanskap kota berubah. Jalanan melebar, lalu lintas semakin padat, dan bangunan modern mulai mendominasi.

Di sebuah perempatan besar, Grand Lisboa muncul mencolok. Bangunannya menjulang dengan bentuk menyerupai teratai berlapis emas. Sinar matahari sore yang condong membuat permukaannya tampak berkilau.

Kawasan bundaran besar di sekitarnya menjadi pusat aktivitas malam. Casino Lisboa dan Hotel Grand Lisboa berdiri berdampingan, menghadirkan kemewahan dengan sentuhan detail klasik Eropa dan China. Desainnya sarat simbolisme fengsui dan keberuntungan, mencerminkan karakter industri hiburan Makau.

Perjalanan dari Senado Square hingga San Ma Lo memperlihatkan satu hal yang konsisten: Makau adalah ruang pertemuan budaya. Hal ini paling terasa dalam kulinernya.

Pengaruh Portugis tidak hanya hadir di Makau. Jejak serupa pernah saya temui di Malaka, Malaysia, Goa di India, hingga Kampung Tugu di Jakarta Utara. Semua menjadi bagian dari sejarah panjang penyebaran budaya akibat kolonialisme.

Dendeng Makau dan Egg Tart yang mendunia

egg tart

Kembali ke Makau, salah satu oleh-oleh yang paling populer adalah Macau Jerky, atau dendeng Makau. Produk ini mudah ditemukan di sekitar Senado Square hingga menuju Grand Lisboa. Beberapa toko bahkan dipenuhi pembeli yang penasaran.

Dendeng Makau berbeda dengan dendeng Indonesia. Potongannya lebih tebal, teksturnya lebih lembut dan cenderung juicy. Rasanya tetap kaya bumbu, dengan bahan utama umumnya daging sapi.

Pengalaman membeli dendeng ini juga menarik. Penjual biasanya berdiri di depan toko dengan gunting besar, memotong dendeng hangat dan langsung menawarkan kepada pengunjung untuk mencicipi. Interaksi sederhana yang efektif menarik minat wisatawan.

Dendeng ini kini menjadi representasi oleh-oleh Makau. Dikemas rapi dalam kemasan vakum, biasanya berwarna merah dengan identitas visual yang kuat, membuatnya mudah dikenali dan dibawa pulang.

Selain dendeng, Portuguese egg tart menjadi ikon kuliner lain yang tidak boleh dilewatkan.

Egg tart, atau pastel de nata, berasal dari Portugal. Kue ini berbentuk seperti mangkuk kecil dari puff pastry berlapis yang renyah. Di dalamnya terdapat isian custard telur yang lembut dan manis ringan.

Proses pembuatannya melibatkan dua tahap pemanggangan. Tahap pertama untuk mematangkan struktur custard, lalu dilanjutkan dengan suhu tinggi hingga muncul bercak cokelat kehitaman di permukaannya. Proses ini menghasilkan karamelisasi yang menjadi ciri khasnya.

Di Makau, egg tart berkembang dengan karakter berbeda. Rasanya lebih manis, teksturnya lebih creamy, dan lapisan karamel di atasnya lebih tebal dibanding versi asli di Lisbon.

Saya sempat mampir ke salah satu gerai di lorong berbatu. Aroma karamel terbakar langsung terasa begitu mendekat. Beberapa orang mengantre di depan, sebagian membawa kotak berisi egg tart yang baru keluar dari oven.

Baca juga: Taipei: Dari Taipei 101 hingga Stinky Tofu, Kota Modern Penuh Warna

Teksturnya menjadi kunci. Lapisan pastry yang tipis dan renyah membungkus custard lembut yang langsung meleleh di mulut. Perpaduan manis dan gurih terasa seimbang.

Setiap gigitan bukan hanya soal rasa, tetapi juga membawa jejak sejarah panjang. Kuliner ini menjadi penghubung antara tradisi Eropa dan Asia yang bertemu di Makau.

Di kota ini, perjalanan tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan lewat rasa.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *