News  

Ketergantungan Besar Maluku Utara  terhadap Nikel Timbulkan Risiko Ketimpangan Ekonomi, Prof. Rokhmin Usulkan Pendekatan Agro-maritim

Rektor Universitas UMMI BOGOR yang juga  Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri menjadi narasumber Talkshow: Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara, di Halmahera Ballroom, Bela Hotel Ternate, Sabtu, 11 April 2026. Acara tersebut dihadiri langsung Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. (Foto: Dulur Rokhmin)

Milenianews.com, Halmahera– Provinsi Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan dengan potensi SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat besar, terutama perikanan dan kelautan, pertanian, ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), dan pariwisata

Struktur ekonomi daerah ini secara historis ditopang sebagian besar oleh sektor pertanian, perikanan laut, perkebunan (seperti pala, cengkeh, dan kelapa), dan kehutanan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara meningkat sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 20% pada 2023 dan sekitar 32% pada 2025, terutama didorong oleh sektor pertambangan dan hilirisasi nikel,” kata Rektor Universitas UMMI BOGOR yang juga  Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri.

Ia mengemukakan hal tersebut saat tampil sebagai narasumber Talkshow: Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara, di Halmahera Ballroom, Bela Hotel Ternate, Sabtu, 11 April 2026. Acara tersebut dihadiri langsung Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

Namun, Prof. Rokhmin menambahkan,  ketergantungan yang sangat besar terhadap sektor ekstraktif (khususnya Nikel) menimbulkan risiko ketimpangan ekonomi yang kian melebar, kerusakan lingkungan, dan keterbatasan distribusi kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

“Fenomena ini tergambar secara kasat mata, bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi (20 – 30%, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 5%), angka pengangguran dan kemiskinan Provinsi Maluku Utara  masih cukup tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Anggota DPR RI 2024 – 2029 itu,  diperlukan strategi pembangunan yang lebih menyejahterakan rakyat dan berkelanjutan (sustainable) melalui pendekatan AGRO-MARITIM.  “Yaitu integrasi pembangunan sektor pertanian dan kelautan (maritim) berbasis inovasi, hilirisasi (industri manufaktur), dan penguatan ekonomi lokal secara ramah lingkungan,” tegasnya.

Prof. Rokhmin menjabarkan potensi ekonomi (investasi dan bisnis) EDSM, khususnya nikel,  Provinsi Maluku Utara sebagai berikut:

  • “Maluku Utara menyimpan 35% cadangan nikel Indonesia atau setara 10% cadangan dunia, tetapi pertumbuhan ekonomi dari komoditas tersebut belum sepenuhnya merata bagi masyarakat lokal,” kata Prof. Rokhmin mengutip Sherly Tjoanda (2026).
  • Maluku Utara memiliki cadangan bijih nikel dan logam nikel terbesar di Indonesia yakni masingmasing 1,86 miliar ton dan 19,09 juta ton. Sementara itu, sumber daya bijih dan logam nikel masing-masing sebesar 5,71 miliar ton dan 72,03 juta ton.

Prof. Rokhmin yang juga ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) mengungkapkan potensi ekonomi (investasi dan bisnis) pangan Provinsi Maluku Utara sebagai berikut:

  • Potensi pasar sangat besar namun belum optimal, dengan kebutuhan daging ayam 25.000 ton/tahun (±Rp1 triliun) dan telur 400.000 ton/tahun (±Rp 800 miliar).
  • “Harga telur lebih tinggi dari ideal, rata-rata Rp 2.500 per butir dibanding harga ideal Rp 2.000, menunjukkan dampak biaya logistik dan keterbatasan pasokan lokal,” kata Prof. Rokhmin yang juga ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
  • Belum tercapainya swasembada pangan disebabkan keterbatasan infrastruktur serta kualitas SDM pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan di Maluku Utara.
  • Ketergantungan pasokan dari luar daerah sangat tinggi, sekitar 80% kebutuhan pokok didatangkan  dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
  • Biaya logistik meningkat dan harga pangan mahal, tercermin dari harga daging ayam mencapai Rp 50.000– Rp 55.000/kg, lebih tinggi dari harga ideal sekitar Rp 40.000/kg.

“Kami secara terbuka mengundang sekaligus mengajak seluruh pihak untuk dapat berinvestasi di Maluku Utara. Kami memiliki potensi yang sangat besar dan belum tergarap,” kata Rokhmin mengutip Herly Tjoanda.

  • Potensi pasar komoditas pangan dan perikanan sangat besar, beras bernilai sekitar Rp2,5 triliun, sementara potensi tuna di Maluku Utara, Maluku, dan Sulawesi Utara mencapai Rp14 triliun yang baru dimanfaatkan sekitar 20%.
  • Peluang investasi terbuka pada hilirisasi perikanan, khususnya pembangunan cold storage dan industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah serta optimalisasi potensi ekonomi daerah.
  • Komoditas unggulan lain juga menjanjikan, seperti cengkeh dan pala yang didorong masuk rantai pasok global.

Prof. Rokhmin, yang juga Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany ⚬ Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea, memaparkan keunggulan Maluku Utara untuk berinvestasi sebagai berikut:

  1. Pertumbuhan ekonomi sangat tinggi: ekonomi Maluku Utara tumbuh 34,17% pada 2025, dengan PDRB ADHB mencapai Rp133,62 triliun.
  2. Pusat hilirisasi nikel nasional: Maluku Utara memiliki sekitar 3,5 miliar ton bijih nikel atau sekitar 35% cadangan nikel nasional, menjadikannya basis kuat industri pengolahan dan rantai nilai baterai/metal.
  3. Posisi logistik sangat strategis: Maluku Utara berada di jalur ALKI III dan diposisikan sebagai simpul konektivitas maritim Indonesia timur, sehingga prospektif untuk pelabuhan, distribusi, dan perdagangan kawasan.
  4. Basis ekonomi biru sangat besar: wilayah laut mencapai sekitar 74,49% dari total wilayah provinsi, dan potensi lestari perikanan tangkap mencapai sekitar 517.000 ton per tahun.
  5. Sumber daya alam sangat beragam: selain nikel, Maluku Utara memiliki kawasan izin tambang untuk emas, pasir besi, batu gamping, kaolin, mangan, dan komoditas mineral lainnya.
  6. Potensi pariwisata kuat dan tersebar: RPJMD menempatkan Ternate–Tidore, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, dan Halmahera Selatan sebagai kawasan prioritas pengembangan wisata sejarah, bahari, dan ekowisata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *