Pendidikan sebagai Jalan Keselamatan Perempuan: Peran IIQ Jakarta

peran pendidikan iiq jakarta

Oleh: Rokiya Alhabsy, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta

Mata Akademisi, Milenianews.com – Belakangan ini, kasus kekerasan terhadap perempuan masih marak terjadi di tengah masyarakat. Bentuknya tidak hanya fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis, sosial, bahkan struktural. Ironisnya, masih banyak yang menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai kasus personal, bukan persoalan sosial yang lebih luas. Padahal, data menunjukkan realitas yang jauh lebih serius.

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) yang dirilis oleh Komnas Perempuan pada 6 Maret 2026, kekerasan berbasis gender terhadap perempuan mengalami peningkatan signifikan. Dari 95 kasus pada 2024 menjadi 126 kasus pada 2025. Bahkan sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP).

Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi

Perempuan masih didorong jadi “nomor dua”

Dalam realitas sosial, perempuan kerap diposisikan sebagai makhluk nomor dua. Perannya dianggap sebatas pelengkap, bukan penentu arah. Ungkapan klasik seperti “dapur, sumur, kasur” masih menjadi bayang-bayang yang membatasi ruang gerak perempuan.

Lebih miris lagi, sebagian perempuan justru menganggap kondisi ini sebagai hal yang wajar. Ketika ada yang mulai menyadari bahwa ini adalah bentuk pengerdilan, keberanian untuk bersuara sering kali terhenti oleh rasa takut. Seolah ada ancaman tak terlihat yang membuat mereka memilih diam dan bertahan dalam situasi yang tidak adil.

Di titik inilah pendidikan memainkan peran penting. Pendidikan membuka ruang kesadaran baru bahwa menyuarakan hak bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari upaya menegakkan martabat sebagai manusia.

Selama ini, pendidikan sering dipahami sebatas jalan untuk mendapatkan pekerjaan atau sekadar memperoleh gelar. Padahal, nilai pendidikan jauh melampaui itu. Pendidikan adalah alat pembebasan—membantu perempuan memahami posisinya, mengenali ketidakadilan, dan membedakan antara aturan yang melindungi dan yang justru mengekang.

Melalui pendidikan, perempuan tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga untuk memahami dan berani bersikap.

IIQ Jakarta: Ruang aman untuk tumbuh dan berdaya

Dalam konteks ini, Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta memiliki peran strategis. Sebagai kampus khusus perempuan, IIQ Jakarta tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga membangun kesadaran nilai, hak, dan martabat perempuan.

Pendekatan pendidikan di IIQ yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman memberikan fondasi yang kuat. Mahasiswi tidak hanya diajak berpikir kritis, tetapi juga dibimbing untuk merespons persoalan sosial dengan landasan iman dan kejernihan hati.

Lingkungan kampus yang suportif, didukung oleh tenaga pendidik yang kompeten, menjadi ruang aman bagi perempuan untuk membangun kembali kepercayaan diri dan kesadaran intelektualnya.

Melahirkan perempuan berilmu, bukan sekadar bertahan

Melalui kajian Al-Qur’an dan studi keislaman yang mendalam, mahasiswi diajak memahami nilai keadilan, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap perempuan secara utuh. Ini bukan hanya soal teori, tetapi proses membangun cara pandang baru terhadap diri dan dunia.

Pendidikan, dalam hal ini, tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membentuk cara berpikir kritis yang memungkinkan perempuan memahami hak-haknya secara menyeluruh. Dari sini lahir keberanian untuk menolak segala bentuk pengerdilan, sekaligus mencintai fitrahnya secara sehat.

Baca juga: Klasifikasi Ilmu Sekuler dan Islamisasi Ilmu dalam Pendidikan Indonesia

Pendidikan perempuan bukan pilihan, tapi kebutuhan

Eksistensi lembaga seperti IIQ Jakarta membuktikan bahwa pendidikan perempuan adalah investasi sosial yang nyata. Kampus perempuan tidak hanya melahirkan individu berprestasi secara akademik, tetapi juga perempuan yang beretika, berkarakter, dan memiliki daya untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan perempuan, diharapkan tercipta masyarakat yang lebih adil dan terbebas dari bias gender. Perempuan tidak lagi hanya bertahan, tetapi mampu hidup dengan aman, bermartabat, dan memiliki kesempatan yang setara untuk meraih masa depan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar hak bagi perempuan, melainkan jalan keselamatan—untuk diri mereka sendiri, dan untuk dunia yang lebih adil.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *