Milenianews.com, Jakarta– Yayasan BKSP Bakti Mulya 400 menggelar Halal Bihalal keluarga besar sekolah pada Senin pagi, 30 Maret 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 Jakarta. Mengusung tema “Idul Fitri Bukan Penutup Ramadhan, Tetapi Awal Perubahan”, acara ini menjadi lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan. Ia menjelma sebagai ruang refleksi kolektif tentang arah pendidikan, kualitas manusia, dan tanggung jawab kebangsaan yang dipikul lembaga pendidikan.
Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah, guru, karyawan, serta menghadirkan penceramah utama Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, ketua umum MUI DKI Jakarta periode 2023–2028 sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman.

Pendidikan yang Baik Lahir dari Proses yang Dikelola Guru Berkualitas
Dalam sambutannya, CEO Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, menegaskan satu hal mendasar: capaian pendidikan yang baik tidak ditentukan oleh kualitas input siswa semata, melainkan oleh kualitas proses pendidikan yang dikelola para guru.
“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima siswa-siswa terpilih. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengelola proses pendidikan secara unggul melalui guru-guru yang kompeten dan saleh,” ujarnya.
Kesalehan itu, menurutnya, bukan konsep abstrak. Ramadhan menjadi tolok ukur yang konkret. Ia menyebut, tahun ini terdapat delapan guru Bakti Mulya 400 yang berhasil menghatamkan Al-Qur’an hingga sepuluh kali selama Ramadhan—sebuah indikator disiplin ruhani yang diyakini berbanding lurus dengan kualitas kepribadian pendidik di ruang kelas.

Ia juga menekankan bahwa Bakti Mulya 400 dikelola dengan standar korporasi. Profesionalisme tata kelola, ketertiban sistem, dan kemampuan membaca dinamika zaman menjadi fondasi sekolah dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berubah.
Namun di atas itu semua, kata Sutrisno, Bakti Mulya 400 menanamkan nilai kebangsaan. “Kami ingin melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga mencintai tanah air Indonesia,” tegasnya.
Momentum Menguatkan Niat dan Komitmen
Ketua Dewan Pengurus Yayasan, Ir. Hj. Anna Rosita Subagdja, melihat halal bihalal sebagai momentum strategis untuk menguatkan niat dan kebersamaan dalam mengemban amanah pendidikan. “Ini bukan sekadar saling memaafkan. Ini tentang saling menguatkan—menguatkan niat, kebersamaan, dan komitmen,” tuturnya.
Baca Juga : Ramadhan sebagai Laboratorium Karakter di Sekolah Bakti Mulya 400
Ia menekankan bahwa kemajuan Bakti Mulya 400 bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja panjang, kerja hati, dan kerja bersama. Justru karena kemajuan itu, tanggung jawab yang diemban kini semakin besar.
Menurut Anna, Bakti Mulya 400 tidak lagi cukup hanya menjadi sekolah yang baik. Sekolah ini dituntut memberi dampak yang lebih luas. Yayasan, katanya, tengah bersiap melakukan ekspansi nilai—menghadirkan pendidikan khas Bakti Mulya 400 ke wilayah lain, menjangkau lebih banyak anak bangsa, dan menebarkan manfaat yang lebih luas.

Halal Bihalal: Kearifan Islam Indonesia yang Menenteramkan
Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Muhammad Faiz mengajak hadirin melihat halal bihalal dari sudut pandang yang lebih dalam. Tradisi ini, katanya, bukan berasal dari budaya Arab, melainkan kearifan khas Indonesia yang justru menunjukkan wajah Islam yang menenteramkan.
“Silaturahmi dan saling memaafkan adalah ajaran agama. Halal bihalal adalah instrumen budaya yang memfasilitasi ajaran itu,” jelasnya.
Baca Juga : Gapai Berkah Ramadhan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar
Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara agama dan instrumen keagamaan. Ta’jil adalah ajaran agama, tetapi apakah berbuka dengan kurma atau kolak adalah instrumen yang bisa menyesuaikan budaya setempat. Demikian pula dengan pakaian dan ekspresi lahiriah keberagamaan.
“Kesalehan tidak diukur dari tampilan luar, tetapi dari upaya sungguh-sungguh membangun hubungan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan kuat: ibadah personal seperti salat, puasa, dan haji tidak cukup mengantarkan manusia menuju kebaikan bila hubungan antarmanusia tidak dibangun dengan saling memaafkan, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan alam semesta.
Idul Fitri sebagai Awal Perubahan
Halal bihalal di Bakti Mulya 400 tahun ini menegaskan satu pesan utama: Idul Fitri bukan garis akhir Ramadhan, melainkan garis awal perubahan. Perubahan kualitas diri, perubahan cara mengelola pendidikan, dan perubahan tanggung jawab sosial untuk bangsa.
Di tangan guru yang kompeten dan saleh, tata kelola yang profesional, serta nilai kebangsaan yang kokoh, Bakti Mulya 400 meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai ladang pembentuk peradaban.













