Milenianews.com, Jakarta – Seorang pemain yang dulu akrab dengan podium justru harus memulai turnamen dari pintu belakang: babak kualifikasi. Nama itu adalah Anthony Sinisuka Ginting. Bagi penggemar bulu tangkis Indonesia, pemandangan ini sedikit membuat dahi berkerut sejak kapan Ginting harus antre dari jalur kualifikasi?
Itulah realitas yang dibawanya ke arena St. Jakobshalle pada Selasa (10/3), di ajang Swiss Open 2026. Ranking yang sempat melorot memaksanya memulai perjalanan dari bawah. Namun, seperti banyak cerita olahraga yang menarik, kadang panggung terbaik justru lahir dari posisi yang tidak nyaman.
Baca juga: Anthony Ginting dan Jonatan Christie Tersingkir dari Olimpiade Paris 2024
Ginting Bangkit dari Tekanan dan Amankan Tiket Babak Utama
Pada babak kualifikasi pertama, Ginting menghadapi wakil China, Zhu Xuan Chen. Pertandingan dimulai dengan cara yang kurang meyakinkan. Ginting tampak gugup, pukulannya sering melebar, dan lawan dengan santai menekan ritme permainan.
Hasilnya, gim pertama meluncur ke tangan Zhu dengan skor 21-16. Bahkan ketika Ginting sempat mengejar hingga 16-20, sebuah smes lurus justru keluar lapangan detail kecil yang cukup untuk membuat gim pertama berakhir tanpa drama.
Masalahnya belum selesai di gim kedua. Ginting masih terlihat seperti pemain yang sedang mencari kembali “rasa” permainannya. Kesalahan sendiri muncul, poin lawan bertambah, dan skor sempat tertinggal 5-8.
Namun perlahan, permainan mulai berubah. Bola-bola tipis di depan net dan dropshot tajam membuat Ginting menemukan ritmenya. Ia berbalik unggul sebelum interval, 11-10. Ketika sempat memimpin 20-16, situasi justru kembali menegang karena Zhu berhasil menyamakan skor menjadi 20-20.
Untungnya, kali ini Ginting tidak terpeleset di tikungan terakhir. Gim kedua berhasil diamankan dengan skor tipis 22-20 cukup untuk menyeret pertandingan ke rubber game.
Di gim ketiga, barulah Ginting terlihat seperti dirinya yang dulu. Pukulan keras ke arah badan lawan, kontrol tempo permainan, serta variasi serangan membuat Zhu mulai kewalahan. Unggul 11-6 saat interval, Ginting seperti menemukan tombol akselerasi yang sebelumnya sempat hilang.
Ia memancing lawan dengan rally panjang, memanfaatkan stamina yang mulai menurun. Pengembalian Zhu berulang kali menyangkut di net atau keluar lapangan. Gim penentuan pun ditutup cukup meyakinkan dengan skor 21-10.
Setelah pertandingan, Ginting mengakui bahwa dirinya sempat terlalu banyak melakukan kesalahan sendiri, terutama di dua gim pertama. Namun ia berusaha menjaga fokus meski sempat tertinggal jauh.
“Saya terus mencoba mencari cara meski ketinggalan jauh atau peluang menangnya tipis. Lebih membiasakan lagi ritme mainnya dan tetap menjaga pikiran,” ujar Ginting dalam keterangan tertulis PBSI.
Ia juga mengakui permainan di gim kedua belum sepenuhnya stabil, meski berhasil mencuri kemenangan di poin kritis. Menurutnya, ritme permainan baru benar-benar terasa pada gim penentuan.
“Puji Tuhan di gim ketiga bisa bermain lebih baik,” tambahnya.
Baca juga: Jadi Juara Singapore Open 2023, Ginting Dapat Ucapan dari Presiden Jokowi!
Kemenangan ini mungkin baru langkah kecil di turnamen. Tapi dalam dunia olahraga, langkah kecil kadang membawa pesan besar. Bahwa seorang pemain yang pernah berada di atas mungkin bisa tergelincir di ranking, tetapi belum tentu kehilangan kemampuan untuk bangkit.
Dan setidaknya di Basel malam itu, Ginting memberikan satu pengingat sederhana: kadang jalan memutar lewat babak kualifikasi justru menjadi cara paling efektif untuk kembali memperkenalkan diri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













