Guru dan Siklus Janji Politik yang Tak Pernah Usai

guru & siklus janji politik

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com – Masalah kesejahteraan guru di Indonesia merupakan persoalan lama yang terus berulang dari masa ke masa. Isu ini tidak pernah benar-benar hilang dari pembahasan publik, tetapi juga tidak pernah tuntas diselesaikan.

Setiap menjelang pemilihan umum, kesejahteraan guru kembali menjadi topik utama dalam berbagai kampanye politik. Janji peningkatan gaji, pemerataan tunjangan, pengangkatan guru honorer, hingga perlindungan profesi disampaikan dengan penuh keyakinan.

Namun setelah proses demokrasi selesai dan para pemimpin terpilih mulai menjalankan tugasnya, persoalan kesejahteraan guru sering kali kembali tenggelam dalam daftar panjang program yang belum terealisasi.

Baca juga: Guru Honorer dan Rendahnya Harga Pengabdian

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesejahteraan guru bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga telah berubah menjadi komoditas politik yang terus dimanfaatkan.

Guru merupakan kelompok masyarakat yang besar jumlahnya dan memiliki pengaruh sosial yang luas. Keberadaan mereka di tengah masyarakat menjadikan guru memiliki posisi strategis, baik sebagai tokoh pendidikan maupun tokoh sosial. Tidak mengherankan jika perhatian terhadap guru meningkat secara drastis ketika masa kampanye tiba. Sayangnya, perhatian tersebut sering kali tidak diikuti dengan langkah nyata yang berkelanjutan.

Janji politik dan realitas di lapangan

Janji kesejahteraan guru selalu terdengar indah dalam berbagai pidato dan program kerja yang ditawarkan. Berbagai konsep perbaikan kesejahteraan disampaikan seolah-olah dapat segera diwujudkan dalam waktu singkat.

Harapan para guru pun kembali tumbuh setiap kali janji tersebut disampaikan. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru, terutama guru honorer, masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Sebagian di antaranya menerima penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bahkan tidak sedikit guru yang harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Kondisi ini menciptakan ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan dianggap sebagai ujung tombak pembangunan sumber daya manusia. Di sisi lain, kesejahteraan mereka masih belum sepenuhnya terjamin.

Penghargaan terhadap guru sering kali lebih banyak diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan simbol, sementara perhatian terhadap kesejahteraan yang nyata belum sepenuhnya merata. Akibatnya, profesi guru yang seharusnya menjadi kebanggaan justru kerap dipandang sebagai pekerjaan yang penuh pengabdian tetapi minim penghargaan material.

Dampak terhadap kualitas pendidikan

Di ruang publik, isu kesejahteraan guru juga tidak pernah sepi dari pembahasan. Media massa maupun media sosial sering menampilkan kisah perjuangan guru yang mengajar dengan fasilitas terbatas atau menerima penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawabnya.

Kisah-kisah tersebut kerap menimbulkan simpati masyarakat dan memunculkan gelombang perhatian sesaat. Namun perhatian itu jarang berujung pada perubahan kebijakan yang nyata. Setelah beberapa waktu, isu kesejahteraan guru kembali meredup dan digantikan oleh isu sosial lain yang dianggap lebih aktual.

Padahal, persoalan kesejahteraan guru tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Kesejahteraan guru memiliki hubungan erat dengan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Guru yang memiliki kehidupan ekonomi yang stabil akan lebih mampu berkonsentrasi pada tugasnya sebagai pendidik. Mereka dapat mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik, mengembangkan kompetensi diri, serta memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.

Sebaliknya, guru yang terus dihantui persoalan ekonomi akan sulit memberikan kinerja terbaiknya. Bukan karena kurangnya dedikasi, tetapi karena keterbatasan yang mereka hadapi.

Investasi jangka panjang bagi bangsa

Lebih jauh lagi, kesejahteraan guru merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.

Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin tercapai tanpa adanya guru yang profesional dan sejahtera. Negara-negara maju selalu menempatkan guru sebagai profesi yang dihargai secara layak, baik secara sosial maupun ekonomi.

Karena itu, peningkatan kesejahteraan guru seharusnya menjadi agenda nasional yang dijalankan secara konsisten, bukan sekadar program yang muncul ketika momentum politik tiba.

Sudah saatnya persoalan kesejahteraan guru dilepaskan dari kepentingan politik jangka pendek. Kebijakan mengenai kesejahteraan guru perlu dirancang dengan visi jangka panjang dan dilaksanakan secara berkesinambungan tanpa dipengaruhi pergantian kepemimpinan.

Guru tidak seharusnya terus menjadi objek janji yang berulang setiap lima tahun sekali. Mereka seharusnya menjadi subjek utama dalam kebijakan pendidikan yang benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan profesi.

Peran publik mengawal kebijakan

Selain peran pemerintah, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan guru.

Dukungan publik sangat penting agar isu ini tidak hanya menjadi perbincangan sesaat. Kesadaran kolektif perlu dibangun bahwa memperjuangkan kesejahteraan guru berarti memperjuangkan masa depan generasi bangsa.

Tanpa adanya tekanan dan perhatian dari masyarakat, kebijakan yang berpihak kepada guru akan lebih mudah terabaikan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, kesejahteraan guru akan tetap menjadi isu yang tidak pernah selesai. Setiap pemilu akan kembali menghadirkan janji-janji baru dengan kemasan yang berbeda, tetapi dengan isi yang hampir sama.

Guru akan terus disebut sebagai prioritas, tetapi kenyataan yang mereka hadapi tidak banyak berubah. Siklus janji dan harapan yang berulang ini berisiko menimbulkan kelelahan dan kekecewaan di kalangan guru yang selama ini tetap setia menjalankan tugasnya.

Baca juga: Terus Belajar demi Menjaga Etika: Ujian Moral Guru di Zaman Digital

Menghargai guru sebagai fondasi bangsa

Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh bagaimana bangsa tersebut menghargai para pendidiknya.

Guru adalah fondasi yang membentuk karakter dan kecerdasan generasi penerus.

Selama kesejahteraan guru masih dijadikan alat politik dan bahan wacana yang tidak kunjung selesai, maka upaya meningkatkan kualitas pendidikan akan selalu berjalan setengah hati.

Kesejahteraan guru seharusnya tidak lagi menjadi janji lama yang terus diulang, melainkan komitmen nyata yang benar-benar diwujudkan demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *