Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Tulisan “Selamat Datang ke Negeri Melaka” terbaca dari dalam bus. Artinya, perjalanan dari Terminal Bersepadu Selatan Kuala Lumpur sudah hampir sampai di tujuan. Bus kemudian perlahan masuk ke Melaka Sentral. Ini adalah terminal utama di Kota Melaka, sekaligus titik awal menjelajah kota ini.

Melaka kota yang menarik. Kota ini punya jejak masa lalu yang dijadikan andalan wisatanya. Di sini masih bisa melihat pengaruh budaya Portugis, Belanda, Inggris, dan China yang berbaur harmonis dengan budaya Melayu, budaya penduduk asli Malaysia.

Sesuai tujuan sehari di Melaka, saya langsung naik taksi menuju titik nol Melaka yang disebut Red Square. Kawasan ini sering disebut juga Dutch Square, alun-alun Belanda. Dulunya merupakan kawasan pemerintahan kolonial Belanda yang masih terawat hingga kini, berupa bangunan-bangunan berwarna merah bata.

Baca juga: Manila, Kota Dinamis dengan Ragam Cerita

Bangunan yang tampak menonjol adalah Stadthuys. Dahulunya balaikota sekaligus kediaman resmi gubernur. Dibangun tahun 1650, bangunan ini adalah yang tertua di Dutch Square dan juga bangunan Belanda tertua yang masih berdiri di Asia Tenggara. Arsitekturnya khas Belanda, dengan pintu kayu tinggi dan tebal serta jendela besar agar udara tropis yang panas bisa dikendalikan sehingga ruangan terasa lebih sejuk.

Di samping Balaikota Stadthuys ada bangunan gereja Protestan. Didirikan ketika 100 tahun Belanda mulai berkuasa di Melaka, dihitung dari tahun 1641 saat Melaka direbut dari Portugis. Saat ini menjadi gereja tertua di Malaysia dan masih berfungsi. Ketika dikelola Belanda, gereja ini merupakan gereja Reformasi Belanda. Saat Inggris mengambil alih pemerintahan di Melaka, namanya diubah menjadi Christ Church dan menjadi gereja Anglikan.

Gereja ini dibangun menggunakan bata merah yang dibawa langsung dari Belanda karena saat itu pribumi Malaysia belum bisa membuat bata. Dari Belanda kapal juga membawa bahan bangunan lain seperti instalasi kunci, engsel, serta marmer lantai. Bata dan marmer tersebut selain untuk pembangunan, sekaligus berfungsi sebagai pemberat kapal.

Lanskap kolonial di sekitar alun-alun

lanskap kolonial

Di sisi lain balai kota ada bangunan yang dulunya kantor pos pemerintah Inggris. Bangunan ini merupakan buatan Inggris yang merenovasi bangunan lama pada tahun 1880 untuk dijadikan kantor pos. Arsitektur dan tata ruangnya lebih dekat dengan budaya Inggris. Bangunan ini tidak terkesan berat seperti balaikota di sebelahnya. Gedung kantor pos memiliki detail neoklasik Inggris, dengan kesan lebih ringan, jendela simetris, serta kolom dan detail sudut yang lebih ramping.

Sejak 1958 hingga sekarang, bangunan kantor pos ini menjadi Galeri Seni Melaka. Namun kita masih bisa melihat kotak pos asli yang dipakai oleh kantor pos Inggris pada masa itu. Bangunan ini melengkapi Dutch Square sekaligus memberi pelajaran bahwa peralihan dari pemerintahan Portugis, Belanda, hingga Inggris tidak menghilangkan jejak masa lalu. Masing-masing menghormati dan memelihara bangunan yang ada.

Ada satu lagi yang menyelip, Jam Tan Beng Swee. Bangunan di kawasan Dutch Square ini tidak ada hubungannya dengan kolonialisme. Dibangun pada tahun 1886 oleh seorang saudagar China kaya untuk menghormati orang tuanya. Bangunan ini kemudian menjadi fungsional dan terpakai sebagai bagian dari alun-alun Belanda di Melaka.

Kompleks Dutch Square awalnya tidak berwarna merah, melainkan putih. Cuaca tropis, sentuhan air hujan, dan udara lembap membuat bangunan berlumut sehingga warna putihnya memudar dan tampak kotor. Pemerintah Inggris pada tahun 1911 mengecat seluruh bangunan dengan warna merah bata atau terracotta. Pemerintah Malaysia pun melanjutkan penggunaan warna ini. Bangunan tidak lagi tampak kusam dan perawatan menjadi lebih mudah serta murah. Pada akhirnya warna merah bata menjadi identitas Kota Melaka.

Melaka umumnya dikenal karena Portugis, Belanda, dan Inggris. Padahal Melaka sudah berinteraksi dengan pedagang dari China, India, dan Arab jauh sebelumnya. Hubungan dengan China terjadi lebih mendalam, khususnya dengan Dinasti Ming. Titik penting hubungan ini ditunjukkan melalui pernikahan Putri Dinasti Ming, Puteri Hang Li Po, dengan Sultan Mansur Shah. Jejak China lainnya adalah Laksamana Cheng Ho yang pernah singgah dan menetap di Melaka. Replika kapalnya serta beberapa alat dan keramik peninggalannya masih bisa dilihat di Museum Melaka di kompleks merah, kawasan balai kota.

Peranakan, warisan asimilasi yang hidup

san shu gong

Penyatuan budaya China dan Melayu di Melaka melahirkan warisan budaya unik yang disebut budaya peranakan atau Baba Nyonya. Budaya ini kemudian berkembang ke Penang, Johor, Singapura, Medan, dan Kepulauan Riau. Berbeda dengan masuknya budaya Barat, budaya Baba Nyonya melebur bukan melalui penaklukan atau kolonialisme, melainkan melalui asimilasi damai lewat perdagangan dan perkawinan.

Identitas yang kemudian menjadi bagian budaya Melayu, khususnya di Penang dan Melaka, adalah budaya peranakan. Bahasa Melayu Baba merupakan campuran kata Melayu dan istilah Hokkien yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari. Kata-kata Hokkien masuk dalam struktur kalimat Melayu. Dari sini kita mengenal kebaya encim, modifikasi baju kurung menjadi kebaya Melayu dengan sentuhan khas pada kerah dan detail sulaman sutera ala China.

Seperti Portugis, Belanda, dan Inggris, pengaruh China di Melaka juga bisa ditelusuri secara fisik. Ada tempat ibadah seperti Kuil Tokong Cheng Hoon Teng, kuil China tertua yang didirikan pada tahun 1645 pada masa Dinasti Ming. Material dan pengrajinnya didatangkan dari Tiongkok dan masih bisa dilihat hingga sekarang.

Jejak fisik paling luas adalah Bukit China. Awalnya tempat pemukiman 500 pengiring Puteri Ming, Hang Li Po, yang menikah dengan Sultan Melaka. Selain masih menjadi pemukiman keturunan para pengiring puteri, kawasan ini juga menjadi pemakaman China terbesar di luar China. Ada sekitar 12.000 makam, termasuk beberapa yang bisa ditelusuri berasal dari tahun 1600-an.

Baca juga: Pulau Penyengat di Tanjung Pinang, Warisan Melayu yang Bertahan

Ayam pongteh adalah jejak kuliner Baba Nyonya paling terkenal. Ini rebusan ayam dan kentang dengan kuah kental berbahan dasar tauco dan gula Melaka. Tauco adalah kecap yang berasal dari China. Ayam pongteh kini menjadi masakan peranakan rumahan paling populer. Masih banyak jejak kuliner peranakan lain, seperti laksa Nyonya atau masakan tim, yaitu teknik kukus dengan rempah yang berasal dari China. Dari sinilah dikenal tim ikan kerapu atau bebek tim rempah yang populer sebagai hidangan sekaligus dipercaya berkhasiat.

Saat berada di Melaka, lokasi paling tepat mencari kuliner khas peranakan adalah di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Di sana terdapat beberapa restoran menu peranakan yang terkenal. Mampirlah ke Amy Heritage Nyonya Cuisine yang dikenal dengan masakan ala nenek seperti udang asam pedas dan otak-otak kukus. Atau ke Baba House yang interiornya mengadopsi rumah kuno.

Mari ke Melaka, dan jangan tertawa jika disapa dengan kalimat:

“Maria kita pigi makan dekat tu kedai, dia punya laok manyak ho-chiak.”

“Kenapa lu punya encik suka kasih susah sama gua.”

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *