Oversharing di Media Sosial Bisa Melukai Diri Sendiri, Ini Risiko yang Mengintai!

Risiko Oversharing di Media Sosial

Milenianews.com – Ada malam-malam ketika dunia terasa terlalu bising, tetapi hati justru sunyi. Dalam kesunyian itu, jari-jari bergerak perlahan di atas layar ponsel. Seseorang mulai merangkai kata-kata yang mungkin tak pernah ia ucapkan secara langsung—tentang lelah yang menumpuk, harapan yang belum tercapai, atau kegelisahan yang tak kunjung reda.

Di era digital, banyak orang menjadikan media sosial sebagai ruang pelarian. Platform itu selalu tersedia, tidak menyela, dan seolah siap menampung apa pun yang ingin dikeluarkan.

Fenomena ini dikenal sebagai oversharing, yaitu kebiasaan membagikan perasaan atau informasi pribadi secara terbuka di ruang digital. Di balik setiap unggahan, sering tersembunyi kebutuhan dasar manusia: ingin didengar dan dipahami.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa dorongan untuk mengungkapkan perasaan merupakan bagian alami dari manusia.

“Manusia itu membutuhkan kemampuan untuk mengeluarkan unek-uneknya. Dalam psikologi disebut katarsis,” ujarnya, dikutip dari Republika.

Dalam konteks psikologi, katarsis membantu seseorang melepaskan beban emosional. Karena itu, ketika seseorang tidak menemukan teman bercerita secara langsung, ia kerap beralih ke media sosial sebagai alternatif yang paling mudah dijangkau.

Baca juga: Dinamika Penyebaran Hoaks di Media Sosial dalam Perspektif Teori S–O–R Charles Osgood: Analisis Komunikasi pada Era Informasi Digital

Ketika Ruang Digital Tidak Selalu Aman

Namun demikian, media sosial bukanlah ruang privat. Siapa pun dapat melihat, menilai, bahkan menyebarkan ulang apa yang seseorang unggah. Akibatnya, kontrol atas cerita pribadi menjadi semakin terbatas.

Sebagian orang memang memberikan dukungan. Akan tetapi, sebagian lainnya bisa merespons dengan komentar tajam atau penilaian yang menyakitkan. Dalam situasi seperti itu, ruang yang semula terasa melegakan justru berubah menjadi sumber kecemasan baru.

Selain itu, internet menyimpan jejak digital dalam waktu yang lama. Orang lain dapat mengambil tangkapan layar atau menyimpan unggahan tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya. Karena alasan inilah, setiap orang perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum menekan tombol “unggah”.

Antara Ingin Didengar dan Perlu Melindungi Diri

Pada dasarnya, oversharing tidak selalu lahir dari niat mencari perhatian. Sering kali, seseorang hanya merasa lelah secara emosional dan membutuhkan tempat untuk menyalurkan perasaan.

Media sosial memang menciptakan ilusi kedekatan. Notifikasi, komentar, dan tanda suka membuat seseorang merasa tidak sendirian. Meski begitu, interaksi digital tidak selalu mampu menggantikan kehangatan percakapan tatap muka.

Sebaliknya, berbicara dengan sahabat, keluarga, atau orang terpercaya sering memberikan rasa aman yang lebih utuh. Dalam percakapan nyata, seseorang dapat merasakan empati secara langsung, bukan sekadar membaca respons singkat di layar.

Karena itu, menjaga batas antara ruang publik dan ruang pribadi menjadi langkah penting. Tidak semua cerita perlu diumumkan. Sebagian pengalaman justru membutuhkan ruang yang lebih aman dan terbatas.

Baca juga: Ketergantungan Media Sosial (Tik Tok) dalam Mengikuti Tren Budaya atau Gaya di Indonesia

Cara Menghindari Oversharing di Media Sosial

Agar media sosial tetap menjadi ruang yang sehat, setiap orang bisa menerapkan beberapa langkah sederhana berikut:

  1. Beri jeda sebelum mengunggah
    Saat emosi memuncak, berhentilah sejenak. Dengan memberi waktu pada diri sendiri, seseorang dapat menilai ulang apakah unggahan tersebut benar-benar perlu dibagikan.

  2. Pertimbangkan dampak jangka panjang
    Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya akan tetap nyaman jika melihat unggahan ini beberapa tahun ke depan?

  3. Pilih ruang yang tepat untuk bercerita
    Tidak semua masalah cocok dibahas di ruang publik. Beberapa cerita lebih aman dibagikan kepada orang yang benar-benar dipercaya.

  4. Kenali tujuan berbagi
    Apakah ingin mencari dukungan, atau sekadar meluapkan emosi sesaat? Kesadaran ini membantu seseorang mengontrol isi dan cara penyampaian.

  5. Jaga batas privasi pribadi
    Privasi bukan tanda menutup diri. Justru dengan menjaga sebagian cerita tetap personal, seseorang sedang melindungi kesehatan emosinya.

Di Balik Layar, Ada Hati yang Perlu Dijaga

Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan modern. Platform ini menghubungkan banyak orang dan mempercepat arus informasi. Namun di balik kemudahannya, ada tanggung jawab yang perlu disadari.

Setiap unggahan membawa konsekuensi. Karena itu, bijaklah sebelum berbagi.

Terkadang, tindakan paling berani bukanlah menceritakan semuanya kepada publik. Justru memilih dengan hati-hati kepada siapa cerita ingin disampaikan merupakan bentuk kedewasaan emosional.

Pada akhirnya, tidak semua luka perlu diumumkan. Sebagian cukup dipahami, dirawat, dan diselesaikan dalam ruang yang lebih aman.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *