Kota, Ilmu dan Doa: Sebuah Potret Islamisasi yang Tak Disadari

Milenianews.com, Mata Akademisi – Setiap pagi, kota bergerak dengan ritme yang sama seperti hari-hari lainnya, namun setiap hari dipenuhi dengan makna baru. Kendaraan melaju cepat, pedagang membuka lapak mereka, dan karyawan terburu-buru menuju tempat kerja. Pengetahuan bekerja di belakang layar dari setiap aktivitas manusia. Orang-orang menghitung pengeluaran, membaca cuaca, meramalkan pasar, dan menggunakan teknologi tanpa banyak berpikir.

Semua itu menunjukkan bahwa pengetahuan memang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Di antara rutinitas itu, ada seorang mahasiswa yang gemar memperhatikan detail-detail kecil. Ia bukan tipe orang yang suka menarik perhatian dengan banyak berbicara, tetapi pikirannya terus sibuk mencatat makna yang diperoleh dari hal-hal sederhana.

Baca juga: Realita Media Sosial dari Ruang Belajar Hingga Ruang Bullying

Ia pernah melihat ayahnya menyalakan mesin sepeda motor sambil berdoa, dan dari sana ia menangkap pesan tentang perpaduan antara spiritualitas dan teknik, bahwa keduanya dapat berjalan berdampingan. Baginya, itu adalah contoh nyata bagaimana masyarakat mempraktikkan pengetahuan tanpa mengabaikan nilai-nilai. Ia juga pernah berjalan melewati pasar tradisional dan melihat para pedagang menerapkan prinsip ekonomi dasar, menentukan harga secara naluriah.

Dalam setiap perhitungan tersebut, para pedagang tetap menjaga kejujuran dan mencari keberkahan dalam transaksi. Ia memandang hal itu sebagai bentuk paling alami dari Islamisasi pengetahuan, tanpa jargon dan teori rumit, melainkan sinergi antara intelektualitas dan moralitas. Ketika melintasi jalan raya, ia sering melihat orang-orang mengandalkan GPS dan aplikasi navigasi.

Teknologi menawarkan jalur tercepat dan prediksi lalu lintas, tetapi banyak di antara mereka tetap melantunkan doa keselamatan sebelum berangkat. Pemandangan semacam ini membuatnya berpikir bahwa masyarakat Indonesia telah lama menggabungkan rasionalitas dan spiritualitas. Mereka menerima teknologi sepenuhnya, tetapi tetap memelihara hubungan batin dengan Tuhan sebagai penuntun hidup.

Suatu waktu, ia mengantar salah satu tetangganya ke rumah sakit. Di sana, ia melihat dokter bekerja dengan teknologi canggih, menghitung risiko medis dengan presisi, namun tetap menunjukkan empati kepada keluarga pasien. Pengetahuan medis yang rasional bertemu dengan kemanusiaan yang hangat. Pengalaman ini membuatnya menyadari bahwa pengetahuan dibutuhkan agar nilai-nilai tidak kehilangan identitasnya, dan sebaliknya, nilai-nilai diperlukan agar pengetahuan tetap relevan di dunia modern.

Pengalaman semacam itu terus mengelilinginya. Ia menyadari bahwa manusia sejatinya tidak pernah benar-benar memisahkan pengetahuan dari nilai-nilai, apalagi membungkusnya dalam istilah-istilah ilmiah. Orang-orang menggunakan teori praktis setiap hari untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, namun tetap menjunjung keadilan, kepercayaan, dan akuntabilitas.

Ia berpikir bahwa inilah representasi paling tulus dari Islamisasi pengetahuan, sebuah proses yang lahir dari kebiasaan, bukan semata dari ruang kuliah dan diskusi ilmiah. Ia menemukan harmoni yang halus antara pengetahuan dan moralitas di berbagai sudut kota. Ada batasan dalam penggunaan teknologi di tempat kerja yang dikendalikan oleh nilai-nilai agama. Ia menyaksikan bagaimana keputusan kecil sehari-hari, seperti berdagang, bekerja, dan berkomunikasi, selalu mengandung unsur etika.

Baca juga: Pentingnya Berfikir Kritis

Dari situlah ia menyadari bahwa tujuan pengetahuan bukan sekadar menjadi pintar, tetapi menjadi bijaksana dalam melayani komunitas. Kehidupan sehari-hari, menurutnya, adalah laboratorium terbesar bagi Islamisasi pengetahuan. Dari fajar hingga senja, ia melihat bagaimana orang-orang mengintegrasikan pengetahuan dengan nilai-nilai Islam tanpa perlu mempertentangkan istilah atau konsep.

Islamisasi pengetahuan bukanlah tentang menggantikan ilmu pengetahuan dengan teks-teks agama, melainkan tentang menghadirkan moral sebagai penuntun agar pengetahuan digunakan untuk perbaikan masyarakat. Ia pun menyadari bahwa gagasan ini bukan hanya milik kampus, tetapi telah berakar kuat di hati manusia melalui praktik kehidupan sehari-hari mereka.

Penulis: Nura Husna Sahila, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *