Budaya Manggarai Flores

Pentas Budaya Manggarai Flores di TMII Bakal Turut Meriahkan HUT RI Ke-74

Milenianews.com, Jakarta – Komunitas Perempuan Manggarai Jakarta (KPM) menginisiasi kegiatan Festival Budaya Manggarai yang akan digelar di Anjungan NTT, TMII pada Sabtu dan Minggu (17-18/8). Dalam kegiatan tersebut, KPM kerjasama dengan Komunitas Sanggar Ca Nai Kalimalang dan Ikatan Keluarga Manggarai Kebon Jeruk Jakarta (IKMKJ) untuk lestarikan Budaya Manggarai Flores. Acara tersebut sekaligus untuk memperingati dan memeriahkan HUT RI ke-74.

Dilansir dari industry.co.id, Selain ajang pengenalan budaya, festival ini juga ajang promosi beberapa makanan khas lokal Manggarai, keanekaragaman hasil pertanian, hasil kerajinan dan tenunan Manggarai yang selama ini sudah dikelola oleh beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) resmi maupun perorangan.

Ketua Panitia Festival, Emmiliana A.K mengatakan globalisasi budaya bukan sebuah ancaman tetapi justru peluang untuk menghantar budaya lokal di pentas internasional tanpa harus kehilangan identitasnya.

Emmilana meminta agar budaya Manggarai harus tetap berdiri kokoh dengan keaslian identitasnya yang syarat nilai kehidupan. “Saya berharap, keanekaragaman budaya Manggarai ini semakin dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Manggarai sendiri. Tetapi orang luar Manggarai pun bisa menikmati kemeriahan dan keunikannya, seperti tarian Caci, Ndudu Ndake, Danding, Sanda dan Mbata,”tutur Emmiliana A.K dalam konferensi pers di Anjungan NTT, TMII, Minggu (11/8).

Libertus Jehani, selaku Ketua IKMKJ, mengatakan, dalam acara tersebut pihaknya nanti didapuk sebagai tamu undangan (Meka Landang). Sementara Sanggar Ca Nai sebagai pihak yang mengundang.

“Nanti yang berhadapan dengan kami adalah sanggar Ca Nai. Dalam kegiatan ini kami sudah persiapkan empat bulan yang lalu, kita sudah mulai,” kata Libertus.

Untuk tarian Caci, pihak Libertus melibatkan 30 penari, tarian Danding 80 dan tarian Ndundu Ndake 10 orang penari yang terdiri dari para gadis nan cantik. 

Baca Juga : Generasi Milenial Harus Lestarikan Budaya Lokal

Sedangkan Ketua Sanggar Ca Nai Kalimalang, Ronny Amal mengatakan, tarian caci tidak mempertontonkan kekerasan fisik. Akan tetapi tarian caci merupakan budaya yang mengandung banyak nilai seni.

“Caci adalah sebuah seni. Caci pertarungan satu lawan satu. Nilai seni dari caci dapat dilihat dari cara berpakaian, cara memukul dan menangkis,” katanya.

Roni berharap festival budaya tersebut bisa menjadi wadah para generasi penerus di perantauan untuk tetap mempertahankan budaya warisan leluhur tersebut. “Neka hemong kuni agu kalo (jangan lupa tanah kelahiran atau budaya),” imbuhnya.

Pertahankan Budaya Manggarai Flores

Ketua KPM, Josefina Agatha Syukur mengharapkan dengan adanya kegiatan tersebut mampu mempertahankan keaslian budaya Manggarai. Josefina menegaskan, pihaknya menentang keterlibatan perempuan dalam tarian caci. “Kalau ada (tarian) caci yang dilakukan oleh perempuan itu yang perlu kita hindari, tidak boleh ada,” tegasnya.

Josefina menambahkan, pihaknya akan menjadi garda terdepan mempertahankan budaya caci yang telah turun temurun diwariskan secara historis oleh nenek moyang orang Manggarai.

“Jadi begini, apa yang sudah ada itu akan tetap dipegang teguh oleh KPM. Kalau KPM berada di depan justru KPM mau mengembalikan semua yang menjadi budaya Manggarai,” tegasnya.

“Jadi KPM ini menyelenggarakan acara begini bukan berarti mau menunjukkan kami setara, bukan. Karena kami sudah tahu bahwa kami memang setara, kami tidak pernah dilakukan tidak setara oleh laki-laki Manggarai,” tukasnya.

Post Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *