Puisi  

Sial, Ia Nangis Darah

sial, ia nangis darah

Karya: Dea Affriyanti

Sejak hirap yang melelap,
esok cerita koloni mati rasa.
Kini penghormatan semakin kalap,
milik golongan raja yang akan binasa.

Dari jutawan pahlawan bermarga,
jatuhlah dalam dekap yang tak merela.
Esok… dihimpit agunan penuh dahaga,
pandai sekali menerka milik ia yang hatinya berongga.

Berapa kilometer yang harus kembali ditempuh
agar jelas nasib pengejar tahta rasa?
Berapa banyak lagi yang dibiarkan singgah dengan cuma-cuma,
hanya karena dia yang enggan bercengkrama?

Sengaja dibuat berdikari dan bersematkan lencana,
karena dengan begitu pasti akan dikerumuni rasa yang tak sementara.
Rupanya salah… gadis itu semakin naik tahta,
dibiarkan kokoh tanpa jeda, sial…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *