Milenianews.com, Jakarta– Dalam waktu kurang dari satu bulan, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil mengantarkan empat proposal riset kolaboratif ke ajang kompetisi pendanaan “Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi 2026” yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Langkah cepat ini menunjukkan keseriusan Prodi PAI mendorong budaya riset di kalangan dosen dan mahasiswa, sekaligus merespons peluang pendanaan nasional yang semakin kompetitif.
Fokus Riset: Pendidikan Agama, Moderasi, dan Inovasi Pembelajaran
Keempat proposal yang dikirimkan mengusung tema utama seputar penguatan pendidikan agama Islam di sekolah dan perguruan tinggi, pengembangan moderasi beragama berbasis riset, serta inovasi pembelajaran digital yang relevan dengan generasi milenial dan Gen Z. Sebagian besar usulan disusun dalam skema kolaborasi lintas institusi, melibatkan mitra dari perguruan tinggi lain maupun lembaga riset yang memiliki kepakaran sesuai bidang kajian.
Ketua Prodi PAI UIN Jakarta, Prof. Dr. Suwendi M.Ag menegaskan bahwa pengiriman proposal ini bukan sekadar mengejar hibah dana riset, tetapi bagian dari roadmap penguatan riset berbasis KKNI Level 9 dan peningkatan kapasitas dosen serta mahasiswa dalam menulis proposal standar nasional. “Kami ingin menjadikan riset sebagai budaya akademik sehari‑hari, bukan hanya kebutuhan akreditasi,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Milenianews, Kamis (6/8/2026).
Merespons Peluang RIIM Kompetisi BRIN 2026
Program RIIM Kompetisi yang digelar BRIN bekerja sama dengan LPDP membuka ruang bagi kolaborasi riset strategis lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan organisasi masyarakat. Skema ini mendorong lahirnya kebaharuan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan solusi konkret bagi persoalan sosial, pendidikan, dan keagamaan di Indonesia.
Baca Juga : PBSI UIN Jakarta Jadi Tujuan Mahasiswa Rusia Belajar Bahasa Indonesia
Dengan mengirimkan empat proposal dalam satu bulan, Prodi PAI UIN Jakarta memanfaatkan jendela waktu pendaftaran RIIM Kompetisi 2026 secara maksimal. “Proses penyusunan dilakukan melalui rangkaian klinik proposal, pendampingan oleh para peneliti senior, dan review internal yang menyesuaikan dengan pedoman resmi BRIN,” kata Prof. Suwendi yang juga Guru Besar dalam bidang Pemikiran Pendidikan Islam dan pernah aktif sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).
Wadah Berlatih Riset bagi Generasi Milenial Kampus
Langkah Prodi PAI ini menjadi ruang latihan nyata bagi mahasiswa pascasarjana maupun doktoral untuk terlibat langsung dalam perencanaan riset kolaboratif tingkat nasional. Melalui keterlibatan mereka dalam tim penyusun proposal, baik sebagai anggota riset maupun pengelola data, mahasiswa dilatih memahami standar riset kompetitif, mulai dari perumusan masalah, desain metode, sampai penyusunan anggaran sesuai ketentuan BRIN.
“Generasi milenial dan Gen Z di kampus tidak cukup hanya aktif di media sosial; mereka perlu aktif juga di ruang riset. Dengan RIIM Kompetisi, kami ajak mereka naik kelas menjadi periset muda yang siap bersaing di tingkat nasional,” tambah salah satu dosen pengusul.
Target ke Depan: Lebih Banyak Proposal, Lebih Luas Jejaring
Pengiriman empat proposal dalam satu bulan ini disebut sebagai momentum awal. Prodi PAI UIN Jakarta menargetkan peningkatan jumlah dan kualitas proposal riset kolaboratif di tahun‑tahun berikutnya, dengan memperluas jejaring mitra, membuka ruang kolaborasi internasional, dan mendorong tema riset yang lebih beragam—mulai dari literasi keagamaan digital, radikalisme dan deradikalisasi, hingga inovasi kurikulum PAI di era society 5.0.
Prodi PAI juga mendorong agar capaian riset tidak berhenti pada proposal dan hibah dana, tetapi berujung pada publikasi internasional bereputasi, produk hilirisasi, dan kebijakan berbasis riset yang memberi dampak nyata bagi pendidikan agama Islam di Indonesia.













