Puisi karya: Hadi Suroso
Genap semusim aku mengenalmu. Tak pernah terlintas aku akan mencintaimu. Entah, sejak kapan kamu mewarnai hari-hariku. Rindu diam-diam tumbuh saat sapamu tak lagi ku dengar, saat namamu disebut dan dadaku kembali berdebar.
Sementara aku tak tahu denganmu. Aku tak cukup piawai membaca hati seseorang. Yang bisa aku lakukan hanya memberimu perhatian. Perhatian-perhatian kecil yang kuharap kelak kamu tahu. Dan akupun akan selalu sabar menunggu. Meski lelah kadang tak bisa dipungkiri di antara sunyi yang mengiris hati.
Dan kamu tahu apa yang lebih sunyi daripada menunggu ? Yaitu, tentang sikapmu yang masih menggantung meninggalkan pertanyaan. Ada kala hadirku merekahkan senyummu yang menjadikan hari terasa begitu hangat, namun di sisi lain caramu menerimaku lebih dingin dari gigilnya angin di pergantian musim. Bagaimana denganmu sebenarnya ?
Aku coba menyelami, menakar dibalik setiap perubahan sikapmu. Jika itu caramu mengujiku, aku tak akan lelah menunggu hingga saatnya kamu siap dengan keyakinanmu. Tidak perlu kamu khawatirkan, aku akan menghargai apapun yang menjadi keputusanmu. Jika kelak jawaban yang aku dengar adalah maaf, mungkin aku kecewa. Barangkali aku akan sedikit berantakan, namun aku lega. Aku mendapat sebuah kepastian. Dan aku tidak akan pernah menyesal. Sebab mencintaimu adalah anugerah terindah dari yang pernah aku rasakan. Kamu tahu mengapa ? Karena aku mencintaimu di saat aku tidak ingin jatuh cinta lagi.
Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku bisa menerimanya. Aku akan belajar lagi tentang ikhlas. Mungkin tidak semudah mengatakannya, tapi aku menyadari. Tidak perlu dua hati yang berbeda arah dipaksakan untuk menyatu. Dan pada akhirnya aku paham bahwa mencintaimu dengan tulus adalah cukup. Cukup bagiku kamu tahu, cukup bagiku kamu mengerti, bahwa ada seseorang yang telah menambatkan namamu di hatinya begitu dalam. Sebuah cahaya cinta yang terus menyala meski banyak aral melintang menyekat kita.
Namun…
Jika jauh di dalam relung hatimu aku adalah tenang yang kamu cari, bahagia yang selalu kamu nanti, maka jangan pernah lagi kamu ragu, kupastikan kamu akan selalu mendapatkan itu di setiap detik waktuku. Sebagai bentuk syukur, akupun tak pernah lelah bersujud bahwa ternyata hati ini tidak salah tempat untuk berlabuh. Biar terus kujaga. Dan akan selalu erat kugenggam. Tak pernah kubiarkan sedikitpun melonggar, apalagi terlepas. Kamu adalah takdir terindah yang pernah aku miliki. Do’a-do’a yang diijabah oleh seluruh langit yang aku tengadahkan. Lalu jika sedemikian indahnya, mungkinkah akan aku sia-siakan ? Setelah rumitnya jalanku memenangkan hatimu ? Betapa bodohnya aku jika itu kulakukan.
Bogor, 18082026
Hd’s
Profil Penulis:
Hadi Suroso. Biasa dipanggil Mr/Mas Bob. Aktivitas keseharian, mengajar Math Cambridge di sekolah Bosowa Bina Insani Bogor, guru Bimbel dan juga guru privat SD sampai SMA untuk persiapan masuk PTN. Mulai menyukai menulis sejak satu tahun terakhir, khususnya Puisi dan Refleksi kehidupan sebagai percikan hikmah. Menulis bisa kapan saja, biasanya saat muncul gagasan dan keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan bagian dari mengasah jiwa dan menggali hikmah.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.com.













