Puisi karya Hadi Suroso
Mungkin memang seperti itu. Cinta menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh. Tidak selalu sama satu dengan yang lain. Ada yang menggetarkan saat pertama dipertemukan. Ada yang pelan diam-diam mekar di tengah suatu percakapan-percakapan kecil. Cinta dapat saja menyusup di antara kelakar sederhana, pada cara bicara, pada tawa yang renyah, bahkan pada kesal yang menyebalkan atau pada serangkaian pertengkaran pendapat. Cinta hadir tak selalu dapat kita pahami. Setidaknya itu yang aku rasakan.
Saat awal aku mengenalmu, jangankan cinta, merasakan sesuatu yang berbeda saja aku tidak. Kamu tak beda dengan yang lain. Kita yang tadinya saling asing, kemudian saling kenal dan berikutnya kita jadi berteman. Tidak lebih dari itu. Biasa saja.
Hari-hari terasa sama. Tidak ada yang istimewa. Bahkan hadirmu juga tak terlalu kuhiraukan. Tidak ada yang mencuri perhatianku. Tidak ada alasan khusus yang memantikku untuk ingin lebih mengenalmu. Bahkan di antara cengkerama yang ada, tak jarang aku sering membuatmu kesal, bahkan marah. Dan aku masih saja asyik dengan diriku sendiri.
Waktu bergulir tiada henti. Akhirnya tibalah kita di penghujung. Dan waktu kitapun habis. Dua musim telah berlalu. Atas alasan yang tak kuharapkan. Atas alasan yang juga tak kuinginkan. Atas alasan di luar kuasaku, kita mesti berpisah. Anehnya, ada bagian dari diriku yang keberatan. Ada bagian dari diriku yang tak merelakan. Ada bagian diriku yang merasakan kesedihan. Aku sedih karena harus berpisah denganmu.
Rupanya kebersamaan selama ini telah menorehkan arti tersendiri bagiku. Meski tak kuhiraukan, kamu telah memiliki tempat khusus di hatiku. Aku yang terlambat menyadari. Akunya yang memang terlambat mengerti. Hadirmu adalah teduh yang aku abaikan. Tenang yang telah aku sia-siakan. Aku telah lalai dan bodoh oleh keangkuhanku. Dan aku harus membayar mahal dengan kita berpisah.
Kini kamu telah pergi. Hanya sesal dan rindu yang tinggal terus mengoyak hati. Menghukumku di semua bagian tanpa belas kasih. Rindu menghukumku pada gayamu bicara, rindu menghukumku pada caramu bercanda. Rindu menghukumku pada percakapan-percakapan sederhana kita. Rindu menghukumku pada semua yang pernah aku lewati bersamamu.
Rindu ini kian menggebu, menjelma detak nadi di tubuhku yang semakin meradang. Begitu gaduh menyiksa tak mampu kuhadang. Rindu adalah badai yang menerpa melumat segenap jiwaku. Aku benar-benar sekarat dihajar oleh kenyataan dengan kehilanganmu. Rupanya getar cinta diam-diam telah merasuk ke sekujurku. Yang baru kusadari saat semuanya sudah terlambat. Cintaku datang terlambat saat kamu sudah tidak ada lagi di sisiku. Lantas apa yang mesti aku lakukan ?
Mungkin hanya do’a yang selalu setia menjadi ruang saat semua pintu telah tertutup. Maka di tengah gempuran hampa yang begitu menyayat, biarlah aku mengetuk seluruh penjuru langit seraya bertanya kepada Tuhan_ibadah apa ya Tuhan yang pahalanya adalah kamu ?
Tolong beri aku petunjukMu
Apapun itu….
Dengan segenap hati pasti akan aku lakukan. Agar cinta ini tidak hanya sampai di sini. Agar cinta ini tidak sia-sia. Karena cinta ini nyata, dan ia tidak salah arah kemana seharusnya ia berlabuh.
Bogor, 19102026
Hd’s
Profil Penulis:
Hadi Suroso. Biasa dipanggil Mr/Mas Bob. Aktivitas keseharian, mengajar Math Cambridge di sekolah Bosowa Bina Insani Bogor, guru Bimbel dan juga guru privat SD sampai SMA untuk persiapan masuk PTN. Mulai menyukai menulis sejak satu tahun terakhir, khususnya Puisi dan Refleksi kehidupan sebagai percikan hikmah. Menulis bisa kapan saja, biasanya saat muncul gagasan dan keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan bagian dari mengasah jiwa dan menggali hikmah.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.com.













