Milenianews.com – Perang melawan kejahatan terorganisir atau mafia menunjukkan pola serupa di berbagai belahan dunia. Meski demikian, bentuk ancaman yang dihadapi tiap negara kerap kali berbeda.
Di Amerika Serikat, tantangan terbesar terletak pada besarnya kekuatan finansial dan kekejaman sindikat kriminal, seperti La Cosa Nostra. Sementara itu di Indonesia, fokus perlawanan bergeser pada fenomena mafia hukum dan mafia tanah. Pada titik ini, hukum kerap dijadikan komoditas perdagangan melalui praktik “saling sandera” antar-aparat penegak hukum.
Sejarah pemberantasan kejahatan terorganisir di AS memberikan gambaran mengenai beragam strategi hukum dan intelijen yang pernah digunakan untuk menembus benteng pertahanan mafia.
1. Penyamaran Ekstrem dan Intelijen Imigrasi (Detektif Joseph Petrosino)
Pada 1905, Detektif NYPD Joseph Petrosino membentuk Italian Squad, yakni unit khusus beranggotakan polisi keturunan Italia yang menguasai bahasa serta dialek lokal. Petrosino menerapkan taktik penyamaran ekstrem sebagai pengemis, buruh, hingga imigran miskin guna menyusup ke lingkungan yang rentan terhadap pemerasan mafia. Ia juga mengumpulkan data intelijen imigran gelap asal Sisilia untuk memulangkan (deportasi) mereka secara hukum.
Strategi ini berhasil menangkap ratusan anggota kelompok pemeras Black Hand. Namun, saat menjalankan misi rahasia di Palermo, Sisilia, pada 12 Maret 1909 untuk memutus jalur imigrasi kriminal, Petrosino tewas ditembak. Kematian Petrosino menjadi pemantik aksi solidaritas nasional pertama di AS dalam melawan mafia.
2. Integritas Moral dan Penindakan Logistik (Eliot Ness)
Pada kurun 1929 hingga Oktober 1932, Eliot Ness dari Agen Biro Pelarangan Minuman Keras membentuk tim super elite berisi 9–11 agen terlipilih. Tim yang dikenal sebagai “The Untouchables” ini dibentuk dengan seleksi integritas ketat agar tahan terhadap suap. Ness menerapkan penyadapan telepon (wiretapping) secara masif pada jalur logistik dan mendobrak gudang penyulingan ilegal milik Al Capone menggunakan truk militer berlapis baja
Penindakan ini menyita jutaan galon miras ilegal dan menutup puluhan pabrik rahasia, sehingga menimbulkan kerugian jutaan dolar bagi Al Capone. Operasi Ness terbukti melumpuhkan pasokan logistik dan dominasi operasional kelompok tersebut di Chicago.
3. Menyusup ke Jantung Finansial (Michael Malone)
Sejak 1930 hingga 17 Oktober 1931, Michael Malone, agen intelijen Departemen Keuangan AS, melakukan penyamaran tingkat tinggi (deep undercover). Dengan identitas palsu sebagai pesulap/penjudi asal Philadelphia bernama “Pat O’Rourke”, ia tinggal di Hotel Lexington yang menjadi markas Al Capone. Malone memfokuskan operasinya pada pencarian buku kas fisik dan membujuk dua juru tulis keuangan Capone untuk bersaksi.
Malone berhasil mengumpulkan bukti pembukuan yang sah mengenai pendapatan ilegal Al Capone. Bukti tersebut membawa Capone pada vonis 11 tahun penjara atas tuduhan penggelapan pajak penghasilan pada 17 Oktober 1931. Metode hukum finansial ini terbukti ampuh menjatuhkan pimpinan mafia ketika instrumen pidana umum gagal bekerja akibat intimidasi saksi.
4. Menghancurkan Kode Kerahasiaan (Joseph D. Pistone / “Donnie Brasco”)
Antara tahun 1976 hingga 26 Juli 1981, agen rahasia FBI Joseph D. Pistone menyusup menggunakan identitas “Donnie Brasco”, seorang pencuri permata keliling. Melalui pendekatan psikologis, ia berhasil meraih kepercayaan anggota senior mafia, Benjamin “Lefty” Ruggiero, hingga masuk ke dalam lingkaran keluarga kriminal Bonanno di New York. Selama operasi, Pistone menyembunyikan alat perekam suara mini (body wire) dalam setiap pertemuan penting.
Operasi dihentikan FBI pada 26 Juli 1981 demi menyelamatkan nyawa Pistone. Rekaman suara dan kesaksiannya di pengadilan menghasilkan lebih dari 200 dakwaan dan 100 vonis bersalah. Operasi ini berhasil meruntuhkan kode kerahasiaan (Omerta) serta mengubah peta strategi FBI dalam memberantas kejahatan terorganisir.
5. Martir Penegakan Hukum (David Hennessy)
Sebagai Kepala Polisi New Orleans (1880–1890), David Hennessy menangkap kriminal kelas kakap Italia, Giuseppe Esposito, pada 1881. Ia berupaya membersihkan kota dari perang wilayah antar-keluarga mafia Sisilia (klan Provenzano dan Mantranga).
Hennessy tewas dibunuh dalam penyergapan brutal di jalanan pada Oktober 1890. Kematiannya memicu ketegangan diplomatik dan kemarahan publik yang menjadi titik balik kesadaran warga AS terhadap bahaya laten kejahatan terorganisir.
Realitas Indonesia: Fenomena “saling sandera” dan mafia hukum
Di Indonesia, istilah “mafia” merujuk pada sindikat kolusi sistemis yang melibatkan pengusaha (oligarki), makelar kasus, dan oknum aparat penegak hukum. Mantan Menko Polhukam dan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Mahfud MD, mengibaratkan kondisi peradilan di Indonesia layaknya “toko kelontong”, tempat pasal-pasal hukum dapat dipesan sesuai kebutuhan penawar.
Tantangan terbesar dalam meredam praktik ini adalah fenomena “Saling Sandera Perkara”. Kondisi ini terjadi ketika penindakan hukum terhenti karena antar-oknum lembaga penegak hukum—seperti Polri, Kejaksaan Agung, KPK, hingga lembaga peradilan/Mahkamah Agung—saling memegang kerahasiaan atau “kartu truf” pelanggaran masing-masing.
Langkah strategis membongkar jaringan mafia
Guna mengurai benang kusut persanderaan hukum tersebut, diperlukan pendekatan sistematis dan terukur, sebagaimana langkah-langkah yang diinisiasi oleh Mahfud MD:
- Memetakan Modus Operandi
Mengidentifikasi dan mengumumkan secara terbuka modus-modus utama kejahatan, seperti pada kasus mafia tanah (pemalsuan sertifikat girik, kolusi dengan oknum BPN, hingga manipulasi putusan pengadilan). Pemetaan ini penting untuk melindungi aset warga serta aset negara dari pengambilalihan secara tidak sah.
- Reformasi Instrumen Peradilan
Menanggapi maraknya penindakan terhadap oknum hakim dan pegawai peradilan, perlu dirumuskan pembenahan instrumen hukum secara konstitusional. Langkah ini diambil untuk memutus rantai permainan pasal, intervensi penyidikan, hingga jual-beli vonis.
- Inisiasi Lembaga Peradilan Khusus
Mendorong pembentukan badan peradilan spesifik, seperti Pengadilan Khusus Pertanahan. Kehadiran lembaga ini bertujuan agar proses hukum acara, pembuktian, hingga eksekusi konflik agraria dapat berjalan lebih cepat, transparan, dan terhindar dari intervensi makelar hukum.
- Strategi “Potong Jalur” Melalui Bedah Kasus Akademis
Untuk mengimbangi taktik mafia yang sering melimpahkan kasus secara prematur ke pengadilan, pendekatan eksaminasi atau bedah kasus bersama para pakar akademisi dapat diterapkan. Langkah ini menguatkan argumen hukum pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung guna menandingi kekuatan finansial dan sokongan oknum di belakangnya.
- Tekanan Publik melalui Transparansi Komunikasi
Memanfaatkan saluran komunikasi publik dan media digital secara terbuka untuk mengungkapkan pola kerja serta keterlibatan oknum dalam bisnis ilegal (seperti tambang ilegal dan pemerasan hukum). Keterbukaan informasi ini menciptakan keterikatan kontrol sosial (social pressure) agar lembaga penegak hukum tetap akuntabel dalam menjalankan tugasnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













