News  

Komentar Tanpa Empati Nakes di Media Sosial Jadi Sorotan, Literasi Digital Kembali Dipertanyakan

Milenianews.com – Media sosial kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Platform digital tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pengalaman, keluh kesah, hingga mencari dukungan. Di sisi lain, ruang yang diharapkan menjadi tempat berbagi cerita tersebut tidak selalu dipenuhi dengan empati. Respons yang muncul justru kerap memicu perdebatan, bahkan berujung pada penghakiman. 

Hal tersebut kembali menjadi sorotan setelah kisah Yurizal Tri Chaerawan ramai diperbincangkan di media sosial. Curahan hatinya mengenai pelayanan kesehatan yang diterimanya menarik perhatian publik. Di tengah derasnya dukungan, sejumlah akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan justru memberikan tanggapan yang dinilai kurang berempati.

Baca juga: Budaya Berpikir Indonesia: Kecerdasan Bukan Sekadar Gelar, Empati jadi Barang Langka

Kasus ini bermula ketika Yurizal mengunggah pengalamannya menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap di sebuah rumah sakit. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut dirinya merupakan peserta BPJS Kesehatan, namun tidak mengungkap identitas rumah sakit tempat dirinya menjalani perawatan. Unggahan itu kemudian menyebar luas dan menuai beragam tanggapan. Sebagian warganet memberikan doa dan dukungan, sementara sebagian lainnya melontarkan komentar yang memicu perdebatan.

Perhatian publik semakin besar setelah keluarga mengabarkan bahwa Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar tersebut membuat unggahan yang sebelumnya telah viral kembali menjadi sorotan. Tangkapan layar unggahan beserta sejumlah komentar yang muncul di kolom komentarnya kembali beredar di berbagai platform media sosial.

peristiwa ini telah memunculkan diskusi publik mengenai cara masyarakat berkomunikasi di ruang digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan di media sosial tidak selalu berawal dari perbedaan pendapat, tetapi juga dari cara seseorang berkomunikasi. Di balik layar ponsel, kata-kata sering kali terasa lebih mudah diucapkan. Jarak yang diciptakan dunia digital membuat sebagian orang lupa bahwa setiap komentar akan dibaca oleh manusia lain yang memiliki perasaan dan sedang berada dalam kondisi yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat berubah menjadi ruang penghakiman. Komentar bernada ejekan, sarkasme, atau candaan yang dianggap biasa oleh sebagian orang dapat meninggalkan luka bagi orang lain. Tidak sedikit pengguna media sosial yang menganggap platform digital sebagai ruang pribadi sehingga merasa bebas mengekspresikan emosi tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.

Praktisi sekaligus Akademisi Komunikasi Digital, Afgiansyah, menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan empati, melainkan juga rendahnya literasi media sosial. Menurutnya, masih banyak pengguna media sosial yang belum menyadari bahwa setiap unggahan maupun komentar merupakan bagian dari komunikasi publik yang dapat dilihat dan dinilai oleh masyarakat luas.

“Saya kira ini intinya soal literasi media sosial. Banyak orang merasa media sosial seperti buku harian pribadi sehingga bebas meluapkan emosi atau pendapatnya, padahal dampaknya jauh lebih luas,” ujar Afgiansyah, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Afgiansyah menjelaskan bahwa budaya komunikasi masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung tidak langsung (indirect). Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang biasanya lebih berhati-hati ketika menyampaikan kritik atau ketidaksetujuan secara langsung. Namun, situasi tersebut sering kali berubah ketika komunikasi berlangsung di media sosial. Jarak yang tercipta membuat seseorang merasa lebih berani menyampaikan komentar yang mungkin tidak akan diucapkannya saat berhadapan langsung dengan orang lain.

Baca juga: 5 Sikap Untuk Membentuk Rasa Empati pada Anak

Oleh karena itu, literasi media sosial menjadi hal yang semakin penting. Kemampuan menggunakan teknologi tidak lagi cukup apabila tidak diiringi dengan kesadaran mengenai etika berkomunikasi. Setiap unggahan, komentar, maupun respons yang disampaikan di ruang digital memiliki konsekuensi yang dapat memengaruhi individu, profesi, bahkan institusi tempat seseorang bekerja.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *