News  

Kebakaran Hanguskan Desa Adat Sade Lombok, Puluhan Bangunan Tradisional Terdampak

Kebakaran besar melanda salah satu warisan budaya yang menjadi ikon budaya Lombok, Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Sabtu (22/8) malam. (DOK. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Milenianews.com, Jakarta – Sade selama ini dijual kepada wisatawan sebagai tempat melihat wajah asli kehidupan Suku Sasak. Namun pada Sabtu (22/8) malam, wajah itu berubah menjadi merah oleh kobaran api. Kebakaran melanda Desa Adat Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan menghanguskan banyak bangunan tradisional.

Data terbaru ANTARA menyebut 120 bangunan terdampak, sementara laporan lain mencatat 129 rumah terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pemerintah masih melakukan pendataan dan penanganan warga terdampak.

Baca juga: Pemusnahan Mahkota Cenderawasih: Anggota DPR dan Tokoh Adat Kecam Keras BBKSDA

Api Menyebar Cepat

Api berkobar pada malam hari dan cepat menjalar karena sebagian besar bangunan menggunakan material seperti kayu, bambu, bedek, dan ilalang.

“Kondisi Kampung Sasak Sade yang kita cintai malam ini sudah tidak ada satu rumah pun yang tersisa, tidak ada satu barang pun yang bisa kami selamatkan karena api segitu cepat,” kata warga Sade, Tohirman Hayanto. Dikutip dari Kompas.com.

Selain rumah, fasilitas umum, lapak UMKM, museum, dan sejumlah barang ekonomi warga turut terdampak. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat sekitar 320 warga dari 120 kepala keluarga terdampak.

Tim pemadam kebakaran, aparat, dan warga berjibaku memadamkan api hingga Minggu dini hari. Pada Minggu, petugas gabungan juga mulai membersihkan puing-puing yang tersisa.

Bukan Hanya Rumah yang Terbakar

Sade bukan sekadar deretan rumah kayu. Kampung ini dikenal sebagai salah satu destinasi budaya Lombok, tempat wisatawan mengenal tradisi Suku Sasak, rumah adat, tenun, serta kesenian tradisional.

Karena itu, kebakaran ini bukan cuma persoalan kehilangan tempat tinggal. Ada aktivitas ekonomi, ruang budaya, dan bagian dari identitas masyarakat yang ikut terdampak.

Komunitas Lombok Heritage and Science Society bahkan menilai kejadian tersebut menjadi alarm keras bagi sistem perlindungan warisan budaya NTB. Mereka menyoroti perlunya mitigasi kebakaran karena kawasan didominasi material organik yang mudah terbakar.

Pemerintah Mulai Pikirkan Pemulihan

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas. Pemerintah menyiapkan tempat pengungsian dan penanganan kebutuhan makanan, kesehatan, serta pendidikan anak-anak terdampak.

Baca juga: Kekentalan Budaya Suku Kajang dan Keasrian Alam Desa Adat Ammatoa

Langkah berikutnya bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi menentukan bagaimana Sade bisa bangkit tanpa kehilangan identitas budayanya.

Sebab membangun rumah kembali mungkin bisa dihitung dengan semen, kayu, dan biaya. Namun membangun kembali sebuah kampung adat membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal memastikan sejarah yang terbakar tidak ikut hilang bersama abunya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *