Rupiah Merosot, Rakyat Terdampak,  Apa Solusinya?

Nur Bintang S, Mahasiswa STEI SEBI. (Foto: Istimewa)  

Milenianews.com, Mata Akademisi– Tahun 2024 ini menjadi tahun yang bersejarah untuk sebuah nilai mata uang rupiah. Pasar keuangan Indonesia menyaksikan peristiwa yang menarik perhatian banyak pihak: pengenduran nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Fenomena ini tidak hanya menjadi sorotan di kalangan ekonomi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat umum. Nilai tukar mata uang rupiah anjlok menembus 1$ sama dengan 16.045 rupiah (24 Mei 2024) lebih rendah dibanding tanggal 16 April 2024 menembus 1$ sama dengan 16.302 rupiah.

Mengapa Rupiah Terjun Bebas?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada tahun 2024. Pertama-tama, faktor internal seperti defisit perdagangan yang terus meningkat dan ketidakpastian politik juga turut berperan dalam melemahnya rupiah. Defisit perdagangan yang tinggi dapat mengakibatkan aliran keluar modal dari pasar keuangan Indonesia, yang pada gilirannya dapat menekan nilai tukar rupiah. Sementara itu, ketidakpastian politik baik di tingkat nasional maupun global juga dapat menyebabkan investor enggan menanamkan modalnya di pasar Indonesia, yang berdampak negatif pada nilai tukar rupiah.

Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga barang impor. Dengan melemahnya rupiah, biaya impor barang-barang dari luar negeri menjadi lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan inflasi dan memberatkan konsumen. Selain itu, pengenduran rupiah juga dapat berdampak pada utang luar negeri Indonesia. Dengan melemahnya rupiah, biaya pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri Indonesia yang berdenominasi dalam dolar Amerika menjadi lebih tinggi, yang dapat menimbulkan beban tambahan pada anggaran negara.

Inflasi  Menjadi Penyebab Utama?

Ketidakpastian global terkait dengan pandemi Covid-19 masih mempengaruhi pasar keuangan global akibat terganggunya Supply Chain. Meskipun Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dampak ekonomi dari pandemi. Berapa tahun setelahnya terjadi gejolak geopolitik antara Ukraina – Rusia. Satu  tahun belakang terjadi Genosida / Perang Israel dan Palestina (Jalur Gaza). Terakhir peristiwa balas-balasan rudal Iran – Israel. Sehingga Bank Sentral menaikkan suku bunga, agar supply mata uang dan orang-orang mengurangi jumlah belanja mereka.

Di sisi lain, naiknya suku bunga juga dari surat utang negara akan ikut naik. Termasuk surat utang Amerika Serikat (US Treasury) yang menjadi idaman para investor dunia. Hal ini menyebabkan para investor dunia menarik dana mereka dari negara berkembang dan membeli US Treasury karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dan lebih aman. Indonesia menjadi negara berkembang yang menerapkan imbal hasil / bunga 6,25% lebih tinggi daripada jepang hanya 0,1%.

Mengapa demikian?

Di Indonesia masih banyak orang menyimpan uang / tabungannya di dominasi perbankan mulai dari deposit dan lain-lain. Dengan menaikkan suku bunga di perbankan menarik masyarakat Indonesia untuk menabung. Secara otomatis masyarakat Indonesia mengurangi jumlah belanja mereka. Ini menjadi titik pembeda karena sifat uang yang setiap masanya selalu berkurang,  kalau didiamkan tanpa diinvestasikan. Maka yang terjadi pengendapan nilai mata uang tanpa adanya pertambahan. Di Jepang masyarakatnya lebih melihat dunia properti menjadi titik empuk untuk menginvestasikan uang tabungannya dibanding diperbankan yang hanya mendapat nilai bunga 0,1%. memiliki satu gedung apartemen atau penthouse bisa menjadi pilihan yang tepat. Keduanya kerap kali dipilih sebagai salah satu media investasi properti jangka panjang yang memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Bisnis roperti ini dianggap lebih menjanjikan karena minat untuk membeli apartemen terus meningkat seiring dengan melonjaknya harga rumah.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk memperkuat rupiah agar tidak terjun bebas kembali di atas Rp 16.000 per dolar AS?

Sebagai warga negara yang baik, ada beberapa upaya yang bisa kita terapkan mulai dari diri kita sendiri untuk Indonesia dengan selalu membantu menguatkan nilai tukar rupiah. Mari kita mulai dengan tiga  langkah mudah berikut ini.

  1. Beli produk dalam negeri

Dari permasalahan di atas, kita sudah mengetahui bahwa dengan semakin tingginya impor, maka nilai tukar rupiah semakin melemah. Oleh karena itu, salah satu langkah awal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi membeli produk impor.  Tidak semua produk Indonesia itu di bawah kualitas. Cintailah produk lokal dan tanamkan rasa bangga dan cinta terhadap produk dalam negeri karena jika bukan kita yang menggunakannya, siapa lagi? Selain itu, langkah ini mampu membantu mengangkat industri dan  kewirausahaan Tanah Air sehingga bisa terdepan, berkembang dan akan mengurangi tingkat pengangguran.

  1. Berinvestasi di dalam negeri

Banyak bisnis di Indonesia yang sudah berskala internasional yang bisa kita beli banyak sahamnya. Kita bisa mengeksplorasi banyak keanekaragaman hayati dan non hayati untuk membangun bisnis. Tidak selamanya nilai tukar rupiah menurun membuat investasi kita rugi. Kita masih bisa berinvestasi dengan membeli Surat Utang Negara (SUN) atau Obligasi Negara Ritel (ORI) yang diterbitkan oleh pemerintah yang memiliki risiko kecil.

Selain investasi, instrumen perbankan syariah bisa tanpa takut terkena dampak dari penurunan nilai tukar rupiah yang mempengaruhi suku bunga. Dengan proses akad Murabahah atau kesepakatan harga jual dan margin keuntungan, akan membuat investasi menjadi lebih mudah dan pasti.

  1. Tidak menimbun dolar

Sebagai warga negara yang bijak, kita harus tetap memegang rupiah dan tidak ikut-ikutan menukarkan rupiah ke dolar untuk meraup keuntungan. Sebaliknya, peredaran uang dolar tanpa penimbunan akan menghasilkan siklus ekonomi yang sehat. Selain itu, memiliki banyak dolar dapat membantu pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian dengan menukarkannya kembali ke rupiah. Kita harus percaya bahwa naik turunnya ekonomi seperti sebuah siklus. Cepat atau lambat, nilai mata uang rupiah akan menguat kembali.

Penulis: M.  Nur Bintang S, Mahasiswa STEI SEBI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *