Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Gaji Gurunya

guru honorer

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pendidikan selalu disebut sebagai investasi masa depan. Semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk membangun peradaban, memperbaiki kualitas hidup, dan menciptakan generasi yang lebih baik. Namun di balik kalimat indah itu, ada kenyataan yang sering terasa pahit. Pendidikan memang mahal, tetapi yang justru masih murah adalah gaji gurunya.

Kalimat ini bukan sekadar sindiran. Ia adalah gambaran nyata yang masih terjadi di banyak tempat. Biaya pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Orang tua harus mempersiapkan uang untuk biaya masuk sekolah, seragam, buku pelajaran, uang pembangunan, kegiatan tambahan, hingga biaya les di luar sekolah. Bahkan untuk masuk ke sekolah yang dianggap favorit, sering kali diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Di tingkat perguruan tinggi, persoalannya menjadi semakin besar. Banyak mahasiswa harus berjuang keras membayar uang kuliah yang nominalnya bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Tidak sedikit orang tua rela berutang, menjual aset, atau bekerja lebih keras demi memastikan anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan. Semua pengorbanan itu dilakukan karena mereka percaya bahwa pendidikan adalah harapan.

Baca juga: Guru Honorer dan Rendahnya Harga Pengabdian

Namun ironisnya, di tengah mahalnya biaya pendidikan, masih banyak guru yang hidup dengan penghasilan jauh dari kata layak.

Guru dihormati dengan kata-kata, tetapi belum sepenuhnya disejahterakan

Mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajar dengan penuh kesabaran, mendidik dengan hati, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa, justru sering menerima upah yang tidak sebanding dengan pengorbanannya.

Masih banyak guru honorer yang digaji sangat rendah, bahkan ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Jumlah itu tentu sulit memenuhi kebutuhan hidup, apalagi jika mereka sudah berkeluarga. Padahal tugas seorang guru bukan hanya mengajar. Mereka juga harus menyiapkan materi, memeriksa tugas, membuat laporan administrasi, mengikuti pelatihan, hingga menghadapi berbagai tuntutan perubahan sistem pendidikan yang terus berkembang.

Guru bukan hanya profesi, tetapi juga panggilan jiwa. Banyak guru tetap bertahan bukan karena gajinya besar, melainkan karena mereka percaya bahwa mendidik adalah bentuk pengabdian. Mereka menanam ilmu dengan harapan suatu hari akan tumbuh menjadi manfaat besar bagi masyarakat.

Sayangnya, semangat pengabdian itu kadang dimanfaatkan oleh sistem yang belum sepenuhnya berpihak kepada kesejahteraan guru.

Kita sering mendengar ungkapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kalimat itu memang terdengar mulia, tetapi terkadang justru menjadi pembenaran untuk mengabaikan hak-hak mereka. Seolah-olah karena guru adalah pahlawan, maka mereka harus terus ikhlas menerima keadaan tanpa banyak menuntut kesejahteraan yang layak.

Padahal menghargai guru tidak cukup hanya dengan pujian dan slogan.

Pendidikan berkualitas tidak bisa dibangun di atas ketidakpastian guru

Pendidikan yang berkualitas hanya bisa lahir dari sistem yang adil. Guru sebagai pondasi utama pendidikan harus mendapatkan perhatian yang layak. Ketika seorang pendidik hidup dalam ketidakpastian ekonomi, maka semangat dan fokus dalam mendidik tentu akan ikut terpengaruh.

Beban hidup yang berat sering membuat guru harus mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang mengajar sambil berdagang, ada yang menjadi pekerja sampingan setelah pulang sekolah, bahkan ada yang tetap bertahan mengabdi meski penghasilannya nyaris tidak cukup.

Pendidikan yang baik tidak hanya bergantung pada gedung yang megah atau teknologi yang canggih, tetapi juga pada kualitas dan kesejahteraan gurunya. Guru yang sejahtera akan lebih fokus dalam mengajar, lebih tenang menjalankan tugas, dan lebih maksimal dalam mendampingi peserta didik.

Sebaliknya, jika guru terus dibebani persoalan ekonomi, maka kualitas pendidikan pun lambat laun akan ikut terdampak.

Sudah saatnya kita berhenti memandang guru hanya sebagai pelengkap sistem pendidikan. Mereka adalah inti dari proses belajar itu sendiri. Setiap dokter, insinyur, pemimpin, pengusaha, bahkan presiden, semuanya pernah dididik oleh seorang guru. Tidak ada profesi besar tanpa peran guru di dalamnya.

Baca juga: Mengabdi Tanpa Jaminan: Guru Honorer dan Keadilan yang Tak Kunjung Datang

Menghormati guru tidak cukup lewat seremoni

Masyarakat juga perlu memahami bahwa menghormati guru bukan hanya dilakukan saat Hari Guru Nasional atau melalui ucapan di media sosial. Menghormati guru berarti memperjuangkan hak mereka untuk hidup layak, mendukung kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan mereka, dan menempatkan profesi guru pada posisi yang semestinya.

Pendidikan memang mahal, karena masa depan memang tidak murah. Tetapi jangan sampai mahalnya pendidikan hanya dirasakan oleh peserta didik dan orang tua, sementara guru sebagai jantung pendidikan justru terus hidup dalam keterbatasan.

Bangsa yang ingin maju harus dimulai dari penghargaan terhadap para pendidiknya. Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi pembentuk karakter dan masa depan bangsa. Di tangan merekalah nilai, ilmu, dan harapan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selama pendidikan masih mahal, tetapi gaji guru tetap murah, maka kita perlu jujur mengakui bahwa masih ada sesuatu yang salah dalam cara memandang arti sebuah pendidikan.

Menghargai guru bukan sekadar memberi pujian, tetapi memastikan mereka hidup dengan layak dan terhormat.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *