News, Tokoh  

Kisah Bu Nurma dan Lapak Es Teh Betawi: Untung Tipis, Asal Jadi Ladang Berkah

es teh bu nurma

Milenianews.com, Tangerang Selatan – Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Deru mesin kendaraan yang mulai memadati kawasan Ciputat perlahan tersapu oleh hembusan angin pagi yang masih menyisakan kesejukan. Di tengah hiruk-pikuk warga yang mulai bersiap menyambut hari, seorang pemilik usaha es teh lokal mulai sibuk berbenah di lapaknya yang sederhana.

“Es Teh Betawi”, begitu ia menamai lapaknya. Lapak sederhana yang baru berdiri selama lima bulan ini memang punya daya pikat tersendiri bagi warga sekitar. Di tengah teriknya Ciputat, senyum ramah Bu Nurma dan kesegaran es teh racikannya menjadi penawar dahaga favorit yang selalu dicari pelanggan, mulai dari warga sekitar hingga para mahasiswa.

Baca juga: Kisah Leo, Alumni UBSI yang Berhasil Naik Karier dari Barista Menjadi Team Leader Bank

Bagi Bu Nurma, kebersihan adalah kunci utama. Ia tidak ingin terburu-buru menyajikan hingga mengabaikan kebersihan produknya. Bahkan, dalam sehari ia bisa berkali-kali menyeduh ulang teh baru agar kualitasnya tetap terjaga.

“Banyak pembeli itu tuh tidak bisa ditargetkan. Kadang belum buka pun sudah banyak yang menanyakan, ‘Sudah buka belum?’ Saya biasanya bilang ke pembeli, tunggu beberapa menit, karena buat berbenah dulu dan dipastikan semua higienis,” ujar Bu Nurma sambil tersenyum sumringah dalam wawancara, Rabu (16/9).

Lapak ini buka sejak pukul 8 pagi dan tutup tidak tentu, kadang pukul 10, kadang 11 malam. Jam kerja yang panjang ini sering kali membuatnya kewalahan menghadapi gempuran pembeli. Namun, rasa lelah itu selalu terbayar dengan rasa syukur.

Mencari Kelancaran Dagang, Bukan Untung Besar

Di tengah gempuran kenaikan harga bahan baku, salah satunya bahan teh yang naik seribu rupiah, Bu Nurma memilih jalan konsisten dengan mempertahankan harga murah demi kenyamanan pembeli.

“Saya jualan es teh itu memang mau kasih harga murah, yang penting pembelinya nyaman dan mau balik lagi beli di sini. Soalnya tujuan saya tidak mencari keuntungan besar, saya cari kelancaran dagang. Buat apa dagang dimahalkan tapi tidak lancar?” tuturnya mantap.

Prinsip tersebut terbukti berhasil. Walaupun harga bahan baku merangkak naik, hasil penjualan es teh ini masih memadai untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan mencapai targetnya.

Prinsip berdagangnya kian nyata saat hari Jumat tiba. Lapaknya selalu menghadirkan ruang berbagi lewat aksi “Jumat Berkah”. Es teh segarnya dijual dengan potongan harga, yaitu es teh jumbo yang semula Rp4.000 menjadi Rp3.000, sementara es teh varian lainnya yang semula Rp5.000 menjadi Rp4.000.

Tak jarang, ia juga menyiapkan sekitar 50 cup gelas kecil khusus untuk jemaah usai menunaikan shalat Jumat. Meski terkadang tenaga terbatas dan suasana sangat ramai, ia tetap berikhtiar menyisihkan porsi es teh tersebut.

Kebaikan Bu Nurma ini rupanya memantik kebaikan balik dari para pembeli. “Kadang pembeli uangnya kelebihan, pas kita mau kasih kembalian mereka bilang tidak usah, dan biasanya di hari Jumat ini sering banget kejadiannya,” kenangnya dengan senyum merekah.

Bukan hanya harga murah dan potongan harga Jumat Berkah yang membuat lapak Bu Nurma dirindukan, melainkan juga kehangatan pelayanannya. Menghadapi berbagai karakter pembeli, termasuk para mahasiswa, Bu Nurma punya ciri khas tersendiri.

Baca juga: Kisah Paguyuban Kalijawi, Ibu-Ibu Yogyakarta Sulap Kampung Kumuh dengan Tabungan Rp2.000 Sehari

“Kita melayani pembeli itu dengan cara berbicaranya bercanda, supaya pembeli tidak bete sama pelayanan kita. Humoris, jadi tidak sekadar melayani saja,” katanya.

Usaha lima bulan ini mungkin masih sederhana, namun rasa syukur dan keikhlasan telah mengubah lapak kecilnya menjadi wadah berbagi.

“Alhamdulillah, masih menutup kebutuhan dan target karena jualannya air. Yang penting lancar, berkah, dan semua orang senang,” pungkas Bu Nurma.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *