Jalan-Jalan ke Masjid Sheikh Zayed: Dari Megahnya Gurun Abu Dhabi hingga Syahdunya Kota Solo

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Taksi yang saya tumpangi perlahan mendekati Masjid Sheikh Zayed di Kota Abu Dhabi. Sang sopir berkebangsaan Bangladesh membenarkan bahwa bangunan putih besar di kejauhan itu adalah destinasi saya. Bangunan tersebut menyerupai istana putih yang tiba-tiba muncul di tengah gurun. Semakin dekat, wujudnya tampak semakin masif, putih bersih, dan bercahaya memantulkan terik matahari tengah hari tanah Arab.

Memasuki halamannya, pandangan saya justru terpaku pada detail arsitektur. Pilar-pilarnya berdiri kokoh dan gagah, dihiasi ukiran ornamen bunga, kaligrafi, serta pola geometris yang memenuhi berbagai sudut bangunan. Masjid ini tak pernah sepi dari peziarah dan wisatawan, baik yang ingin beribadah, sekadar mengagumi keindahannya, maupun keduanya. Masjid Agung Sheikh Zayed bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah landmark ikonik Kota Abu Dhabi.

Abu Dhabi adalah ibu kota Uni Emirat Arab (UEA) sekaligus keamiran terbesar dari tujuh emirat yang membentuk negara tersebut. Kota ini membentang di sebuah pulau di Teluk Arab, terhubung ke daratan utama (mainland) oleh beberapa jembatan megah. Abu Dhabi menjelma menjadi kota modern dengan deretan gedung pencakar langit beragam bentuk, jalan-jalan lurus nan lebar, serta area komersial, hotel, dan kawasan permukiman yang tertata apik.

Baca juga: Bengkulu dan Memori Kemerdekaan: Menyusuri Rumah Pengasingan Bung Karno hingga Masjid Jamik

Jika ditelisik lebih dalam, di balik wajah modernitasnya, Abu Dhabi menyimpan jejak panjang sebagai kota pesisir. Pada masa lampau, denyut nadi kehidupan kota ini sangat bergantung pada laut—mulai dari perdagangan, perikanan, hingga pencarian mutiara. Titik balik peradaban terjadi setelah penemuan ladang minyak pada abad ke-20. Pendapatan berlimpah dari emas hitam inilah yang memacu pembangunan infrastruktur dan mengubah wajah Abu Dhabi secara drastis. Menariknya, pesatnya modernisasi tak lantas menggerus identitas Islam dan budaya Arab. Justru di jantung kota, diapit gedung-gedung bergaya kontemporer, Masjid Agung Sheikh Zayed berdiri sebagai simbol harmoni yang abadi.

Bapak Bangsa Pemersatu Emirat dan Visi di Balik Kemegahan

abu dhabi

Sosok di balik nama besar ini adalah Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, Bapak Bangsa pendiri UEA sekaligus presiden pertamanya. Ia merupakan tokoh sentral yang menyatukan tujuh emirat menjadi satu negara berdaulat pada tahun 1971. Sheikh Zayed dikenal memiliki visi pembangunan bangsa yang tajam. Ia sangat mengedepankan pendidikan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pentingnya menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan negara-negara lain.

Lahir pada tahun 1918 dan memimpin Abu Dhabi sejak 1966, beliau wafat pada tahun 2004. Pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed diinisiasi sebagai bentuk penghormatan monumental terhadap warisan dan nilai-nilai luhur yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

Saya turun dari taksi dan menginjakkan kaki di pelataran luar masjid. Perjalanan menuju ruang utama harus melewati area pemeriksaan sebelum masuk ke jalur pengunjung. Semuanya didominasi warna putih. Marmer yang membalut bangunan ini membuat keseluruhan kompleks tampak terang dan suci. Rute menuju ruang utama mengarahkan pengunjung melewati ruang-ruang terbuka sebelum akhirnya tiba di halaman dalam.

Memasuki halaman utama, skala bangunan terasa begitu raksasa. Di sekelilingnya, berbaris pilar-pilar putih dengan ukiran bunga yang menawan. Kubah-kubah pualam tampak bertumpuk anggun menciptakan perspektif yang panjang. Sementara itu, kolam-kolam tenang yang mendominasi satu sisi halaman memantulkan bayangan masjid, menghadirkan ilusi optik yang memukau.

Begitu melangkah ke ruang dalam, nuansa interiornya langsung mengundang decak kagum yang dramatis: sejuk, tenang, dan teramat agung. Ruang salat utama menjadi primadona. Tepat di atas kepala, menggantung chandelier (lampu hias) berukuran raksasa. Langit-langitnya dihiasi kaligrafi dan ornamen rumit. Dari jarak dekat, detail kemegahan di setiap inci ruangan semakin nyata. Semburat cahaya alami yang menembus jendela kaca patri menambah kedalaman dimensi spiritual tempat ini.

Di ruang utama ini, gema langkah kaki seolah menciptakan ilusi kekaguman tersendiri. Saya dan banyak wisatawan lain berkeliling dengan tenang, sementara di sudut lain para jemaah khusyuk menjalankan ibadah. Perpaduan antara magnet aktivitas pariwisata dan sakralnya fungsi keagamaan membuahkan pengalaman monumental yang unik, yang jarang ditemukan di tempat lain.

Masjid Sheikh Zayed Solo: Hangatnya Nuansa Timur Tengah di Tanah Jawa

masjid mbz solo

Waktu berlalu, dan pagi ini saya berada di Kota Surakarta (Solo), memandangi Masjid Raya Sheikh Zayed untuk pertama kalinya. Seketika, saya merasakan kesamaan atmosfer dengan tempat yang pernah saya datangi ribuan kilometer jauhnya. Nama Sheikh Zayed memutar kembali memori saya akan mahakarya putih megah di pusat Abu Dhabi. Di Solo, wujudnya memiliki banyak kemiripan, namun dengan aura yang sama sekali berbeda.

Berdiri di luar pagar, kubah dan menaranya tampak begitu menonjol. Warna putih bersihnya membuat bangunan ini bersinar terang di tengah lanskap kota. Saat melangkah masuk melewati gerbang, pandangan saya ditarik oleh detail-detail yang meminjam cetak biru dari Abu Dhabi. Ada perasaan familier yang hangat saat melihat lekuk pilar, lengkungan ornamen, gerbang, hingga tata halaman dan pagarnya yang rapi.

Jika di Abu Dhabi Masjid Agung Sheikh Zayed berdiri mentereng sebagai simbol kebanggaan nasional di tengah kota metropolitan—dikelilingi taman luas, jalanan yang lurus dan lebar, serta latar gedung-gedung pencakar langit—situasinya berbeda di sini. Masjid Raya Sheikh Zayed Solo tumbuh di tengah permukiman masyarakat Jawa. Terletak di pusat kota, masjid ini menyatu dengan denyut kehidupan kota berukuran menengah, tanpa hamparan lapangan luas atau jalanan raksasa di sekelilingnya.

Di luar pagar kompleks, suasana keakraban khas Solo langsung menyergap. Keseharian warga, lalu lintas yang guyub, hingga keramaian tempat makan tetap berjalan normal. Jalanan di sekitarnya tidak lebar dan sering disesaki kendaraan yang parkir. Banyak bangunan warga di luar kompleks masjid yang kini beradaptasi fungsi menjadi warung makan, toko kelontong, dan area komersial. Kios-kios informal pinggir jalan pun bermunculan, antusias melayani ribuan jemaah yang datang berkunjung.

Baca juga: Jejak Transformasi Uni Emirat Arab: Dari Padang Pasir Menuju Kemakmuran

Diplomasi Arsitektur yang Memperpendek Jarak Geografis

Secara formal, hubungan bilateral antarnegara lazimnya tecermin melalui kunjungan kenegaraan, perjanjian kerja sama, atau jalur diplomatik. Namun, bentuk diplomasi sesungguhnya juga bisa mewujud dalam wujud yang lebih mudah dilihat masyarakat, salah satunya melalui bangunan arsitektur seperti masjid.

Kehadiran Masjid Sheikh Zayed dapat dibaca dalam konteks tersebut. Berdirinya masjid ini memperlihatkan bagaimana hubungan persahabatan Indonesia dan Uni Emirat Arab menghasilkan artefak monumental yang bermanfaat langsung bagi rakyat. Masyarakat awam tidak perlu memahami proses diplomasi politik untuk merayakan hubungan ini. Umat cukup datang, melangkah ke halamannya, meresapi keindahan arsitekturnya, dan bersujud beribadah di dalamnya.

Meski membawa benang merah dari Abu Dhabi, Masjid Sheikh Zayed Solo kini telah menuliskan narasinya sendiri berkat interaksi sosial dengan lingkungannya. Masjid ini perlahan menyatu menjadi kepingan sejarah Kota Solo yang terus berkembang—menjadi bukti nyata sekaligus ruang pertemuan kultural antara Indonesia dan Uni Emirat Arab.

Ini adalah bentuk hubungan yang melampaui sekat jarak geografis. Persahabatan antar-bangsa diwujudkan ke dalam ruang suci yang menyambut siapa saja. Kisah tentang dua tempat, dua budaya, dan dua pengalaman. Jika Abu Dhabi sukses membawa nama Sheikh Zayed mendunia lewat kemegahannya yang absolut, maka Solo memberinya napas baru yang merakyat dalam pelukan kehangatan Indonesia.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *