Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Bengkulu, siapakah yang pernah ke kota ini? Sebuah kota di pesisir barat Pulau Sumatera yang tidak selalu muncul dalam bayangan orang ketika membicarakan perjalanan sejarah Indonesia. Ini adalah kota yang memiliki ritmanya sendiri, sebuah ibu kota provinsi yang tidak seramai Jakarta, dan mungkin juga tidak seramai Solo. Pembandingnya mungkin lebih mirip dengan Kota Cirebon atau Kota Pekalongan.
Bengkulu adalah kota pesisir dengan pantai panjang yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Penduduknya tidak padat, sehingga kota ini berkembang dengan ritme yang tenang sebagai pusat pemerintahan, kota perdagangan, dan terus mengembangkan potensi pariwisatanya. Bengkulu menawarkan pesona alam berupa pantai, kawasan hijau dengan latar belakang pegunungan Bukit Barisan, serta keragaman budaya yang tetap mempertahankan tradisi lokal.
Sama seperti kota-kota lain di Sumatera, Bengkulu saat ini terus berusaha tumbuh dan berkembang. Namun, sesuai dengan potensi yang ada, pertumbuhannya tidak tergesa-gesa; ia tetap berusaha memperkuat ekonomi dan meningkatkan kemakmuran rakyat. Kehidupan masyarakat terus bergerak mengikuti irama zaman. Jalan utama, permukiman, pusat kuliner, serta ruang publik tumbuh berdampingan dengan bangunan dan situs bersejarah.
Perlu diingat bahwa identitas Bengkulu sangat kuat karena dipengaruhi oleh sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sini ada dua rumah yang mengharuskan saya untuk berhenti sejenak—dua rumah yang menjadi artefak penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
Baca juga: Sedapnya Kuliner Pesisir Kepulauan Kei dan Kelezatan Olahan Enbal di Kota Tual
Pada tahun 1938, Soekarno tiba di Bengkulu setelah sebelumnya menjalani pengasingan di Ende, Flores. Pemerintah kolonial Belanda memindahkannya ke Bengkulu karena aktivitas politiknya di Jakarta dan Ende dianggap mengancam kekuasaan kolonial. Selama empat tahun berikutnya, Soekarno menjalani kesehariannya di Bengkulu sebagai tokoh pergerakan yang berada jauh dari pusat politik Hindia Belanda. Memang saat itu Batavia (kini Jakarta) merupakan pusat pemerintahan kolonial dan aktivitas politik.
Bengkulu kala itu berada jauh di pesisir barat Pulau Sumatera. Tidak ada angkutan reguler menuju ke sana, bahkan menyeberang dari Batavia ke Pulau Sumatera pun masih sangat sulit. Oleh karena itu, pengasingan ini bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan juga pemutusan hubungan komunikasi dan informasi. Soekarno menjalani kehidupan yang terisolasi dari jaringan politik yang sebenarnya menjadi bagian penting dari perjuangannya.
Tempat Sederhana di Tengah Pengasingan

Namun, berkat kreativitasnya, kehidupan di Bengkulu tidak berhenti di batas-batas pagar rumah pengasingan. Soekarno tetap berhubungan dengan masyarakat, dan pemerintah kolonial tidak melarangnya. Ia terlibat dalam kegiatan pendidikan serta aktivitas Muhammadiyah, membangun relasi dengan lingkungan sekitar, dan aktif dalam kegiatan sosial maupun pendidikan informal.
Rumah pengasingan menjadi bagian dari kesehariannya: tempat beristirahat, membaca, berdiskusi, dan menerima tamu, walau dalam situasi yang tidak sepenuhnya bebas. Hingga tahun 1942, Soekarno menjalani kehidupan yang jauh dari panggung politik utama. Pada tahun tersebut situasi berubah ketika Jepang datang, kekuasaan Hindia Belanda berakhir, dan Soekarno akhirnya kembali ke Jakarta.
Saat di Bengkulu, saya menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Pengasingan Soekarno yang kini dibuka untuk umum. Dari luar, ini tampak seperti rumah biasa, walau ukuran lahannya cukup luas di pusat kota. Bangunannya terbuat dari kayu dan pasangan bata, tampak sederhana, serta tidak terkesan sebagai tempat yang menyimpan kisah besar bangsa. Suasananya tenang dan tidak banyak pengunjung yang datang.
Memasuki rumah, terdapat ruang-ruang yang mencerminkan kehidupan sehari-hari, bukan ruang resmi milik pejabat. Saya membayangkan Soekarno—yang selama ini dikenal melalui foto-foto pidato dan upacara kenegaraan—ternyata pernah menjalani hari-hari yang sangat biasa di Bengkulu. Di ruang tamu terdapat sepeda ontel yang dipakai Bung Karno saat itu, sebuah sepeda kumbang biasa yang masih tampak kokoh. Ini adalah alat transportasi penting pada masa itu.
Terdapat pula ratusan buku berbahasa Belanda yang dipajang. Hal ini memperlihatkan bahwa walau berada di pengasingan, ia tidak pernah berhenti membaca, belajar, dan berpikir. Ada juga kostum grup sandiwara Monte Carlo, bukti bahwa Soekarno juga menjadikan seni dan teater sebagai bagian dari aktivitasnya di Bengkulu.
Keluar dari rumah ini, saya merasa sosok Soekarno tampak sedikit berbeda. Ia tidak hanya hadir sebagai tokoh yang garang berdiri di podium dan berbicara mengenai kemerdekaan, tetapi juga pernah menjadi seseorang yang tinggal di rumah sederhana, menjalani hari-hari yang panjang, serta berinteraksi dengan warga sekitar sambil menunggu perubahan zaman.
Bukan Hanya Seperti Tampak di Buku Sejarah

Dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah pengasingan Soekarno, terdapat bukti sejarah lain yang membawa saya pada sosok yang berbeda. Ini bukan tentang seorang tokoh pergerakan yang sedang berhadapan dengan kekuasaan kolonial, melainkan tentang seorang perempuan muda yang nasib kehidupannya bersentuhan langsung dengan sejarah kemerdekaan Indonesia—seorang perempuan yang masa muda dan kehidupan keluarganya memiliki kaitan erat dengan Bengkulu. Ya, perjalanan saya berlanjut ke Rumah Fatmawati.
Kita perlu sejenak melupakan sosok Fatmawati sebagai Ibu Negara yang ada di buku sejarah. Jauh sebelum itu, beliau adalah seorang perempuan muda yang sedang mekar di Bengkulu, tumbuh di lingkungan budaya lokal dan organisasi Muhammadiyah, serta menghabiskan masa remaja dan masa mudanya di kota ini.
Berbeda dengan rumah Soekarno yang beraroma politik dan pengasingan, rumah Fatmawati memiliki perspektif yang lebih personal. Kota dan rumah ini terseret menjadi bagian dari masa pertumbuhan seorang wanita muda yang kemudian namanya tercatat penting dalam sejarah Indonesia.
Dari luar, rumah yang terletak di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kota Bengkulu ini tampak sederhana. Bangunannya berupa rumah panggung kayu dengan karakter tradisional khas Bengkulu. Ukurannya tidak besar, hanya sekitar 92 meter persegi, dan dibangun mengikuti bentuk rumah aslinya. Menaiki tangga dan masuk ke dalam, suasananya lebih menyerupai rumah keluarga daripada sebuah museum besar. Terdapat ruang utama, dua kamar tidur, serta ruang belakang berupa ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Rumah ini memiliki ornamen ukiran khas Bengkulu, antara lain motif pucuk rebung, bunga seroja, dan lebah begayut. Di dalamnya terdapat berbagai foto, pakaian, dan benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan Fatmawati. Rumah tersebut telah mengalami renovasi besar pada tahun 1990-an dan terus dipelihara sebagai situs sejarah hingga hari ini.
Baca juga: Nostalgia Kota Malang Dari Anggunnya Masjid Agung Hingga Kehangatan Kajoetangan
Sentuhan Karya Soekarno di Atap dan Tiang Masjid

Jarak Masjid Jamik dari rumah pengasingan Soekarno tidak terlalu jauh, walau juga tidak dapat dikatakan dekat, yaitu sekitar 1,5 kilometer. Untuk urusan bolak-balik ke masjid ini, diperkirakan sepeda ontel Soekarno memegang peranan penting. Berjalan ke masjid ini dan bersosialisasi dengan para jamaah menjadi bagian dari keseharian Soekarno, sehingga ia dapat merasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Soekarno tercatat sebagai jamaah tetap Masjid Jamik yang sering datang untuk beribadah sekaligus bersosialisasi.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Soekarno kemudian berinisiatif untuk merenovasi dan membenahi Masjid Jamik agar menjadi lebih besar dan bagus. Ketika Soekarno berada di Bengkulu, masjid ini memang sedang direnovasi dan arsitekturnya diperbaiki. Soekarno terlibat langsung di dalamnya, terutama berkaitan dengan perancangan ulang bentuk atap dan desain tiang-tiang masjid.
Masjid Jamik Bengkulu menjadi bagian penting dari cerita perjalanan Soekarno selama di Bengkulu. Di rumah pengasingan, kita melihat seorang pemuda dengan energi serta pemikiran berlebih yang harus hidup jauh dari pusat politik dan rekan-rekan seperjuangannya. Sementara itu, Masjid Jamik menjadi media berkreasi sekaligus ruang di mana ia bisa terus berhubungan dengan masyarakat, mengembangkan gagasan, dan mewujudkannya secara nyata.
Masjid ini masih berdiri kokoh dan tetap menjadi bagian dari kehidupan warga Bengkulu hingga saat ini. Lokasinya kini berada di pusat kota, di tengah keramaian yang terus bergerak maju. Para jamaah ada yang merupakan warga tetap, dan ada pula yang sekadar datang dan pergi—baik penduduk setempat maupun pengunjung yang kebetulan melintas. Di tengah semua dinamika itu, bangunannya tetap menyimpan memori ketika Soekarno pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kota ini.
Bengkulu menyimpan seluruh memori itu dengan cara yang sangat sederhana. Kita hanya perlu melangkah sedikit lebih pelan untuk menyadarinya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













