Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta Gelar Kajian Jumat, Angkat Tema “Menghadirkan Qoshosul Anbiya Dalam Kehidupan Rumah Tangga”

Sekolah Bakti Mulya 400  Jakarta menggelar kegiatan Kajian Jumat bertema “Menghadirkan Qoshosul Anbiya Dalam Kehidupan Rumah Tangga” dengan narasumber Ustadz Ahmad Dasuki M.Pd., Jumat (16/10/2026). (Foto: Dok BM 400 Jakarta)

Milenianews.com, Jakarta—Sekolah Bakti Mulya 400  Jakarta menggelar kegiatan Kajian Jumat bertema “Menghadirkan Qoshosul Anbiya Dalam Kehidupan Rumah Tangga” , Jumat (16/10/2026).

Kajian Jumat itu diikuti oleh para guru dan karyawan TK-SD Bakti Mulya 400 Jakarta. Sebelum ceramah ada pengajian Surat Al Fath 16-30.

Narasumber Kajian Jumat kali ini  adalah Ustadz Ahmad Dasuki M.Pd. “Tema pengajian ini diangkat dengan tujuannya agar bagaimana caranya supaya cerita Nabi masuk ke hati anak dan isteri kita tanpa terkesan menggurui. Yaitu dengan membangun komunikasi dengan anak dan isteri yang baik dengan kisah keberanian, kelembutan para Nabi jadikan figur pembelajaran bukan pukulan,” kata Ustadz Ahmad Dasuki.

Baca Juga : HUT  Ke-43 BM 400 Dibanjiri Tokoh Nasional, Ir. Anna Rosita Subagja: Jadikan BM 400 Terbaik  di Masa Depan

Ia mengemukakan, Alquran mencatat ada 4 tipe keluarga Nabi untuk pembelajaran bagi manusia:

  1. Tipe Ideal: Suami saleh, isteri saleh dan anak saleh.

Contoh: Keluarga Nabi Ibrahim A.S., Nabi Ismail A.S., dan Nabi Muhammad S.A.W. ​“Ini tipe impian kita semua. Bapaknya nabi, istrinya (Siti Hajar/Siti Sarah) wanita mulia, anaknya manut diajak taat,” ujarnya.

Tapi ingat, kata Ustadz Ahmad Dasuki, keberhasilan ini tidak instan. Ada doa berkelanjutan yang dipanjatkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ibrahim [14]: 40: “Robbij’alnii  muqiimas sholah wa min dzurriyyatii. Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.”

2. Tipe Ujian Istri: Suami Saleh, Tapi Istri tidak Salehah

​Contoh: Nabi Nuh A.S. dan Nabi Luth  A.S. “Jangan merasa rumah tangga Bapak paling merana kalau istri suka ngomel atau kurang sefrekuensi. Nabi Nuh dan Nabi Lut itu istrinya mengkhianati dakwah suami sendiri!” ujarnya.

Allah menegaskan dalam QS. At-Tahrim [66]: 10: ​”Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah naungan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu mengkhianati suaminya…”

​“Jadi, kesalehan suami tidak otomatis ‘menular’ tanpa kemauan dan hidayah dari si istri,” ujarnya.

​3. Tipe Ujian Anak: Suami dan  Istri Saleh, tapi Anak Pembangkang

​Contoh: Nabi Nuh A.S. dan anaknya, Kan’an. “Kurang apa Nabi Nuh mendidik anaknya? Ratusan tahun berdakwah! Tapi pas banjir bandang datang, diajak naik kapal, Kan’an malah bilang, ‘Aku mau panjat gunung aja!’,” kata Ustadz Ahmad Dasuki.

​Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah S.A.W. mengingatkan bahwa hubungan nasab tidak bisa menyelamatkan seseorang tanpa amal iman:

​”Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari azab Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 & Muslim no. 206)

​4. Tipe Ujian Suami: Istri Saleh, tapi Suami Zalim/Kafir

​Contoh: Sayyidati Asiyah (Istri Firaun). ​“Ini buat Ibu-ibu yang merasa suaminya agak sulit diajak ke masjid. Tetap sabar! Suaminya Asiyah, yakni Firaun, mengaku tuhan tapi Asiyah tetap menjadi salah satu wanita ahli surga karena keteguhan imannya (QS. At-Tahrim [66]: 11),” kata Ustadz Ahmad Dasuki.

​Cara Praktis Menghadirkan Kisah Nabi di Rumah

​Bagaimana caranya supaya cerita nabi ini masuk ke hati anak dan pasangan tanpa terkesan ‘menggurui’? Ustadz Ahmad Dasuki lalu menjabarkan saran sebagai berikut:

  • ​Ganti Storytime Sebelum Tidur: Kurangi cerita dongeng fiktif, ganti dengan kisah keberanian Nabi Musa atau kelembutan Nabi Yusuf.
  • ​Jadikan Figur Pembelajaran, Bukan Pukulan: Kalau anak bandel, jangan diomeli “Kamu kok nggak kayak Nabi Ismail sih?!” Malah bikin anak takut. Ceritakan bagaimana komunikasi santun Nabi Ibrahim saat bicara ke anaknya.
  • ​Pahami Bahwa Tugas Kita Hanyalah Usaha dan Doa: Tugas orang tua adalah menanam benih, yang menumbuhkan hidayah adalah Allah.

​“Semoga Allah karuniakan rumah tangga kita keharmonisan, serta keturunan yang menjadi qurrota a’yun (penyepuluh mata/hati),” kata Ustadz Ahmad Dasuki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *