Lina Dwi Puryanti Ingatkan Guru BK, Self Care adalah Kunci Jaga Kesehatan Mental

Milenianews.com, Purwokerto – Menjaga kesehatan mental merupakan fondasi utama bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang kesehariannya sarat dengan dinamika permasalahan siswa. Urgensi terkait perawatan diri (self care) ini menjadi sorotan utama dalam pemaparan Lina Dwi Puryanti, M.Pd., pada ajang Seminar & Award Pemuda Digital. Acara ini sukses diselenggarakan oleh Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Purwokerto bertempat di Hotel Luminor pada Rabu (14/10).

Mengusung materi bertajuk Self Care untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Guru BK, Lina mendorong para tenaga pendidik untuk tidak melupakan kondisi diri mereka sendiri di tengah beratnya amanah mendampingi para siswa. Pemaparan tersebut menitikberatkan pentingnya titik keseimbangan antara empati kepada orang lain dan kebutuhan memulihkan energi fisik maupun psikologis diri sendiri.

Baca juga: Lewat Vibe Coding, Nurul Ichsan Ajak Guru BK Ciptakan Aplikasi Digital Berbasis AI

Guru BK memikul tanggung jawab krusial untuk mendengar, merangkul, dan memberikan solusi atas segudang problematika siswa. Tuntutan ini kerap memicu tekanan tersendiri, terlebih ketika seorang pendidik harus menangani banyak kasus berat secara bersamaan.

Lina menguraikan beberapa faktor utama pemicu stres bagi guru BK, mulai dari tidak idealnya rasio jumlah guru dan murid, tuntutan stigma ganda, minimnya sistem pendukung di sekolah, hingga ancaman compassion fatigue.

Compassion fatigue diartikan sebagai kelelahan emosional yang timbul akibat terlalu sering larut dalam empati terhadap penderitaan orang lain. Tanpa adanya fase pemulihan, batasan profesional yang tegas, serta dukungan memadai, empati yang berlebih justru akan berbalik menjadi beban mental.

Guna memperkuat argumennya, Lina merujuk pada data survei RAND Corporation (2022) yang mengungkap bahwa 73 persen guru di Indonesia sering dihantui stres akibat pekerjaan. Ditambah lagi, studi Rostian dkk. (2021) menunjukkan sekitar 30–36 persen guru BK di sejumlah wilayah mengalami tingkat burnout (kelelahan ekstrem) pada rentang sedang hingga tinggi. Statistik ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya menjaga kewarasan para pendidik.

Makna Sejati Self Care Bukanlah Lari dari Tanggung Jawab

Lina meluruskan bahwa self care bukan berarti mengabaikan tugas. Guru BK justru diwajibkan peka terhadap kondisi personalnya, terutama ketika kelelahan mulai terasa berat, fokus mulai buyar, hingga tekanan emosi mulai mengganggu profesionalitas kerja.

Dalam kondisi kewalahan, mengenali kebutuhan diri dan mencari pertolongan bukanlah sebuah indikasi kelemahan. Sebaliknya, hal itu adalah bentuk ikhtiar pemeliharaan diri agar daya juang dalam membimbing siswa tetap maksimal.

Secara konsep, kesehatan mental ini sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Ini adalah kondisi di mana individu mampu berfungsi optimal dan mengeluarkan potensi terbaiknya untuk menghadapi rintangan. Artinya, sehat mental bukan sekadar terbebas dari masalah, tapi kecakapan dalam mengelola kehidupan.

Untuk mengaplikasikan self care secara nyata, Lina membaginya ke dalam empat dimensi. Pertama, dimensi perawatan fisik, yang meliputi penjagaan kualitas tidur, rutinitas olahraga, serta asupan makan yang teratur.

Kedua, dimensi perawatan emosional, yakni kemampuan meregulasi dan menyalurkan perasaan dengan bijak. Hal ini mutlak diperlukan saat menghadapi situasi yang menguras kesabaran. Ketiga, perawatan psikologis yang bisa ditempuh lewat praktik mindfulness, guna menyadari sepenuhnya kondisi diri dan momen saat ini.

Keempat, dimensi sosial dan profesional, di mana pendidik harus mampu menciptakan batasan (boundaries) yang sehat. Batasan ini akan memberikan ruang pemisah yang jelas antara beban pekerjaan profesi dan kebutuhan ruang privasi pribadi.

Teknik Relaksasi Sederhana: Breathing dan Grounding

Sebagai bentuk pertolongan pertama pereda stres, Lina juga membagikan dua teknik relaksasi simpel, yakni latihan pernapasan (breathing) dan grounding. Untuk latihan pernapasan, guru dapat mempraktikkan metode hitungan 4-7-8 atau 4-4-4.

Sementara untuk grounding, pendekatannya bisa dilakukan melalui kesadaran sensorik, fisik, maupun kognitif. Meski teknik-teknik ini sangat membantu, Lina mengingatkan bahwa jika tekanan emosi sudah terasa terlalu berat, mencari dukungan profesional yang tepat tetap harus dipertimbangkan.

Baca juga: UBSI Tasikmalaya Gelar Seminar Pemuda Digital, Dorong Guru BK Manfaatkan AI di Sekolah

Sebagai penutup, Lina menegaskan sebuah filosofi penting: guru yang memiliki jiwa tenang akan mampu menciptakan ruang aman (psychological safety) bagi para siswanya. Suasana emosional pendidik sangat menentukan apakah siswa merasa nyaman saat berinteraksi dan mencurahkan isi hatinya.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas layanan BK di sekolah harus senantiasa berjalan beriringan dengan perawatan kesehatan mental sang guru. Lewat pemahaman self care, guru BK diharapkan dapat lebih menyayangi diri sendiri, mengelola emosi dengan cerdas, dan terus berdaya sebagai pilar pendamping yang tangguh di lingkungan pendidikan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *