Sedapnya Kuliner Pesisir Kepulauan Kei dan Kelezatan Olahan Enbal di Kota Tual

kota tual

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Hadir di ujung timur Indonesia, di gugusan pulau-pulau karang yang indah dengan lautan yang luas, terdapat Kota Tual dan Kota Langgur—dua kota yang bersebelahan sekaligus pusat aktivitas di Kepulauan Kei, Provinsi Maluku. Berada di Pulau Kei Kecil, kedua kota ini menawarkan wisata kuliner yang unik. Berbeda dengan Jakarta dan Pulau Jawa, bahkan dengan Kota Ambon selaku ibu kota provinsi, Kepulauan Kei memiliki sajian kuliner yang khas.

Kota Tual dan Langgur dikelilingi oleh hamparan Laut Banda dan perairan Arafura. Karakter geografisnya yang didominasi oleh laut serta dikelilingi pulau-pulau kecil membuat Tual memiliki benteng alam yang unik dengan garis pantai yang panjang. Perairannya jernih sebening kristal serta kaya akan keanekaragaman hayati laut.

Pulau-pulau berpasir putih, laguna berair biru kehijauan, hutan mangrove, serta lamun dan terumbu karang yang terjaga menjadi kekayaan kawasan ini. Perpaduan antara laut luas, gugus kepulauan, variasi perbukitan, hingga budaya maritim yang lestari membuat kedua kota ini memiliki identitas yang jelas dan unik—gerbang utama yang tepat untuk dijelajahi.

Baca juga: Jelajah Tual dan Langgur: Nikmati Keajaiban Pasir Lembut serta Fenomena Pasir Timbul di Kepulauan Kei

Saya berada di Tual dan Langgur salah satunya untuk berkenalan dan menikmati kulinernya. Mengenai makanan pokok masyarakat setempat, saya dibuat terkejut. Makanan pokok mereka bukanlah nasi, dan ternyata juga bukan sagu. Ditambah lagi, pilihan makanan pokok mereka tidak hanya satu jenis.

Secara tradisional, masyarakat Kepulauan Kei memiliki beragam jenis makanan pokok turun-temurun sebelum beras masuk, yaitu enbal, sagu, pisang, dan ubi jalar. Keanekaragaman ini menunjukkan betapa kayanya tradisi dan hasil alam di sini. Walau sekarang nasi telah menjadi makanan harian, pangan lokal tetap memegang peranan penting.

Enbal: Pangan Pokok Khas Kepulauan Kei yang Unik

enbal

Enbal merupakan makanan pokok utama yang paling populer di Kepulauan Kei. Tepung enbal dibuat dari singkong pahit, jenis umbi yang mengandung senyawa alami beracun. Agar dapat dikonsumsi dengan aman, racunnya dihilangkan melalui proses pengolahan yang teliti oleh masyarakat yang berpengalaman.

Pembuatan enbal dimulai dengan mengupas dan memarut singkong, kemudian diperas menggunakan alat tradisional untuk mengeluarkan cairan beracunnya. Setelah itu, ampas singkong dijemur hingga kering, lalu digiling dan disaring hingga didapatkan tepung yang bisa disimpan lama atau langsung diolah menjadi berbagai jenis makanan.

Proses yang benar dan teliti dibutuhkan agar enbal aman dikonsumsi sekaligus tahan lama. Karakter enbal yang awet ini sangat cocok untuk masyarakat Kei yang banyak berprofesi sebagai nelayan yang melaut berhari-hari. Kini enbal diolah menjadi beragam hidangan—mulai dari makanan pokok pengganti nasi, camilan teman ngopi atau teh, hingga oleh-oleh khas.

Masyarakat mengolahnya menjadi enbal bakar berbentuk pipih dengan tekstur renyah dan rasa gurih yang cocok disajikan sebagai pengganti roti, walau nikmat pula disantap bersama gulai ikan. Sebagai makanan pokok, enbal juga bisa dikukus untuk disajikan bersama lauk-pauk, khususnya hasil laut.

Enbal yang diolah secara modern dengan sentuhan inovasi disebut enbal love. Adonan enbal yang kalis dicetak menyerupai kue dengan ragam bentuk, lalu diberi isian manis seperti cokelat, selai kacang, dan selai nanas, ataupun isian gurih seperti telur, keju, dan abon. Untuk oleh-oleh, enbal banyak dibuat menjadi keripik atau biskuit sehingga praktis dikemas dan dibawa pulang oleh wisatawan.

Kesegaran Menu Ikan Langsung dari Lautan Kei

ikan laut

Laut merupakan sumber bahan dapur utama bagi masyarakat Kei. Setiap pagi, kapal nelayan mendaratkan hasil laut seperti kakap, kerapu, tuna, cumi, dan aneka hasil laut lainnya di dermaga atau pasar. Karena hasil laut selalu melimpah, sebagian diolah menjadi sajian kuliner dan sebagian lagi dijual ke penampung untuk dikirim ke luar pulau.

Hasil laut segar yang tidak sempat dibekukan langsung diolah di warung dan restoran. Keunggulan bahan baku yang segar menjadi kunci utama kelezatan alami kuliner Kei yang sulit tertandingi.

Saat senja berganti malam, saya duduk di Restoran Faganza yang menghadap langsung ke laut. Restoran ini menghadirkan suasana terbuka yang hangat dan nyaman. Cahaya lampu terang di atas meja makan berpadu dengan temaram laut di luar yang airnya sebening kaca. Semilir angin laut masuk melewati dinding sepinggang, menciptakan atmosfer bersantap yang tenang.

Di atas meja telah tersaji enbal berbentuk bulat yang disebut enbal pizza—sajian bahan pokok pengganti nasi berbahan adonan enbal dengan tekstur renyah di luar dan empuk di dalam.

Lauk paling pas untuk mendampingi enbal adalah ikan kuah kuning yang sudah tersedia di meja. Kuahnya tampak bening keemasan dari kunyit yang diperkaya serai, bawang merah, jahe, dan perasan jeruk nipis. Cita rasanya gurih, segar, dan ringan tanpa menutupi kesegaran alami daging ikannya.

Baca juga: Berlayar ke Saparua: Menyusuri Tanah Perjuangan Rakyat Maluku dan Bentang Alam yang Lestari

Ikan bakar turut melengkapi santap malam ini. Menggunakan ikan segar hasil tangkapan yang dibakar di atas bara api hingga aromanya keluar, bumbunya meresap pas dipadukan dengan cocolan sambal segar berasan jeruk.

Sajian lat salad—kuliner khas Kei berbahan rumput laut segar dengan irisan tomat, bawang merah, mentimun, cabai, dan perasan jeruk nipis—memberikan sensasi renyah, pedas, dan asam yang menyegarkan sebagai hidangan pembuka.

Suasana restoran makin hidup dengan keramahan pelayanan dan nuansa pesisir yang khas. Makan malam di Restoran Faganza memberikan pengalaman berharga dalam menikmati warisan kuliner turun-temurun dari masyarakat maritim Kepulauan Kei.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *