Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Sebagai wisatawan muslim yang sedang berkunjung ke New York, berkunjung ke masjid dan komunitas Islam bisa memberikan kenyamanan dan membuat lebih betah di New York. Saya merasa perlu ke Islamic Cultural Center New York (ICCNY) karena pendiriannya berhubungan erat dengan perkembangan komunitas muslim dan diplomasi dunia Islam di New York. Gagasan ini sudah ada sejak tahun 1960-an atas inisiatif dari para duta besar negara-negara muslim yang bertugas di PBB.
Masjid Islamic Cultural Center New York selesai dibangun pada tahun 1991 dan dirancang oleh firma arsitektur terbesar di Amerika. Arsitekturnya menarik, menggabungkan kubah sebagai identitas arsitektur Islam, menara, serta posisi yang menghadap ke kiblat yang dibuat menyatu dengan lingkungan gedung modern Manhattan.
Naik bus dari stasiun subway 96th Street, melewati 10 blok dan memotong Central Park New York, saya sampai di halaman ICCNY. Ini merupakan salah satu landmark Islam penting di New York dan di Amerika Utara. Berada di kawasan Upper East Side, East Harlem Manhattan, lokasinya persis di pusat Kota New York sebagai simbol keberadaan komunitas muslim internasional di tengah kota yang modern dan multikultural.
Masjid ini berdiri di lahan yang cukup luas, sekitar setengah hektar. Bangunan masjid yang digabung dengan pusat kebudayaannya mengambil tapak sekitar 2.000 meter persegi dengan ruang salat yang bisa menampung 1.000 jemaah. Sisanya adalah area terbuka, plaza halaman, akses kendaraan, serta ruang teras transisi yang membuat pengunjung merasa lega dan lapang. Kawasan masjid ini sangat istimewa di jantung Manhattan—kawasan dengan nilai tanah tertinggi di dunia yang sangat membanggakan.
Baca juga: Masjid di Manhattan, Menemukan Jejak Muslim di Tengah Jantung New York
Tapak Bangunan yang Miring Demi Menghadap Kiblat

Menjelang siang, Manhattan mulai sibuk. Suara klakson sesekali terdengar, diselingi langkah kaki pekerja yang berangkat kantor serta deru bus seolah menjadi orkestrasi kota yang mulai menggeliat. Sebuah menara tinggi dan kubah besar berwarna hijau berdiri anggun di tepi jalan. Ada perasaan bangga melihat sebuah masjid megah dengan nuansa Timur Tengah hadir di tengah salah satu kota paling modern di dunia.
Arsitektur masjid memadukan gaya modern Amerika dengan elemen klasik Islam tanah Arab. Bangunannya tampil sederhana, kokoh, dan monumental. Salah satu hal yang paling unik adalah desain bangunan yang tampak miring terhadap jalanan Manhattan dan blok Kota New York. Ini sesuai rencana agar ruang salat bisa tepat menghadap kiblat.
Berjalan makin dekat dari sisi depan, fasad bangunan memancarkan banyak rona Islami. Ukiran pola geometris khas menghiasi dinding luar, dipadukan dengan kaligrafi Arab. Pintu masuk yang kokoh dan lebar memberi kesan tenang, sementara pintu gerbang yang dihiasi detail kaligrafi memberi kesan elegan, tidak berlebihan, dan tetap sakral.
Pagi menjelang siang sudah tidak ada pengunjung, tetapi saya masih diperbolehkan masuk. Melangkahi pintu utama masjid, terdapat koridor tempat melepaskan alas kaki. Di ruang ini ada tangga naik ke lantai dua ruang salat serta pintu menuju tempat wudu. Karpet merah tebal membentang memenuhi ruang utama, sementara pencahayaan alami masuk dengan lembut melalui jendela kaca di sekeliling bangunan. Pola geometris Islam dan kaligrafi Arab tampil ringan pada interiornya yang tidak ramai, menghadirkan suasana damai dan khusyuk.
Mihrab dan mimbar terletak di tengah ruang yang menghadap kiblat dengan desain bersih, modern, dan sentuhan marmer berdetail Islami. Karakter New York sebagai kota internasional tetap mencerminkan keunikannya pada detail pintu, lampu penerangan, hingga desain rak Al-Qur’an dan pernak-pernik di dinding. Tidak ada orang lain di sana kecuali dua orang pengurus masjid di dekat tempat sepatu yang menunggu. Saya pun menyempatkan diri untuk melaksanakan salat Dhuha dan berdoa.
Perjuangan 25 Tahun Mewujudkan Pusat Islam

ICCNY bukanlah masjid yang dibangun secara instan. Gagasan umat Islam untuk memiliki pusat Islam yang lebih besar—bukan sekadar tempat salat—sudah tercetus sejak awal 1960-an. Beberapa duta besar negara muslim di PBB menjadi penggerak awal dengan mendirikan Islamic Cultural Center. Diawali dari sebuah bangunan lima lantai di kawasan 72nd Street dan Riverside, mereka meretas cita-cita besar menghadirkan pusat Islam yang membanggakan di antara institusi agama besar lainnya di New York.
Arab Saudi, Kuwait, dan Libya menjadi pembuka jalan. Pada tahun 1966, ketiga negara ini menyumbang dana yang cukup untuk membeli lahan yang saat ini digunakan. Namun setelah tanah dibeli, pembangunan tetap belum berjalan lancar. Rentang tahun 1966 sampai 1987 menjadi masa yang panjang untuk pengumpulan dana, penyelesaian administratif, perencanaan, serta persiapan pembangunan. Masalah pendanaan akhirnya selesai setelah penggalangan dana berkembang menjadi gerakan internasional.
Masjid mulai dibangun pada tahun 1987 dengan keterlibatan 46 negara muslim dalam pendanaannya, di mana Kuwait menjadi pendukung finansial utama. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan masjid ini mencapai US$ 17 juta. Peletakan batu pertama pada tahun 1987 dihadiri oleh Wali Kota New York, korps diplomatik negara-negara muslim, dan komunitas muslim internasional di New York.
Para penggagas awal dan pengurus ICCNY menginginkan masjid yang tetap tegas identitas keislamannya, tetapi juga menyatu harmonis dengan arsitektur New York modern. Oleh karena itu, sempat terjadi pergantian arsitek dari perusahaan Iran-Amerika ke firma arsitektur skala internasional asal New York. Hasilnya seperti yang terlihat sampai kini: bangunan memiliki ciri khas kubah dan menara Islam dengan struktur utama yang modern berbahan beton, baja, granit, kaca, serta elemen arsitektur kekinian.
Proyek ini sempat terguncang saat Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990 yang memicu Perang Teluk. Krisis tersebut berdampak pada pembangunan masjid yang sangat bergantung pada negara-negara muslim. Namun, proyek tetap melaju hingga selesai pada tahun 1991. Pembukaan resminya dipimpin langsung oleh Emir Kuwait, Sheikh Jaber Al-Ahmad Al-Sabah, menandai terwujudnya masjid yang lama dicita-citakan.
Baca juga: Queens, Oase Multikultural Sedunia dan Transformasi Sepotong New York yang Hangat
Jejak Tokoh dan Nama Indonesia di ICCNY

Melihat sejarah awal pembangunan ICCNY pada tahun 1960-an, tercatat nama Kamal Abdur Rahim, seorang diplomat Mesir. Awalnya ia berperan dalam pendirian Islamic Center di Washington, lalu membawa konsep yang sama ke New York saat bertugas sebagai wakil Mesir di PBB. Rahim mengajak para duta besar negara muslim di PBB untuk secara kolektif mendirikan Board of Trustees.
Pada akhir tahun 1960-an, diplomat Pakistan Agha Shahi menjadi sosok yang menggemakan visi kosmopolitan masjid ini tentang pentingnya pusat Islam di New York sebagai ibu kota dunia. Memasuki tahun 1980-an, muncul Mohammad A. Abulhasan dari Kuwait yang memimpin proses pembangunan hingga selesai dalam kapasitasnya sebagai Duta Besar Kuwait untuk PBB.
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar memang tidak banyak tercatat pada awal pembangunan gedung ini, yang kemungkinan dipengaruhi oleh dinamika politik dalam negeri pada era 1960-an dan 1970-an.
Namun dalam perjalanan sejarah ICCNY selanjutnya, ada nama Indonesia yang mengukir jejak penting. Salah satunya adalah Imam Shamsi Ali, tokoh Islam Indonesia asal Sulawesi Selatan yang menjabat sebagai Imam di ICCNY dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni dari tahun 2001 hingga 2011. Shamsi Ali dikenal luas atas perannya dalam dialog antariman (Islam, Yahudi, dan Kristen) serta usahanya membangun citra Islam yang moderat di New York, khususnya pasca-peristiwa 11 September 2001.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







