Sering Disalahpahami, Konsumsi Justru Jadi Motor Penggerak Ekonomi

ekonomi sirkular

Oleh: Shofwan Fuad A., Mahasiswa Prodi Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI

Mata Akademisi, Milenianews.com – Apakah pernah muncul rasa bersalah di dalam hati Anda setelah membelanjakan uang untuk membeli segelas kopi susu atau baju baru? Seolah-olah uang yang Anda keluarkan di tengah kondisi ekonomi saat ini akan membuat masa depan menjadi lebih buruk. Kita juga sering mendengar nasihat finansial tentang larangan konsumsi yang berlebihan. Namun, petuah ini kerap disalahpahami. Banyak orang membatasi konsumsi secara ekstrem karena adanya persepsi keliru bahwa menahan belanja secara total akan otomatis memperbaiki kondisi ekonomi.

Mari kita bayangkan jika seluruh masyarakat Indonesia tiba-tiba berhenti berbelanja dan memilih untuk menyimpan uang mereka di bawah kasur secara bersamaan. Penjual makanan pinggir jalan hingga restoran bintang lima akan seketika kehilangan pendapatan. Sekarang coba balik sudut pandangnya. Bayangkan Anda adalah seorang penjual es matcha di pinggir jalan, lalu tiba-tiba seluruh pelanggan yang setiap hari berdatangan mendadak berhenti membeli dagangan Anda. Anda pasti akan merugi. Uang tidak lagi berputar dan hanya mengendap menjadi tumpukan kertas mati di bawah kasur.

Baca juga: Ironi Ekonomi Hijau: Mengapa Produk Daur Ulang Justru Lebih Mahal?

Bensin Utama Produk Domestik Bruto (PDB)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir (termasuk hingga kuartal terbaru pada 2026), konsumsi rumah tangga selalu menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang sekitar 53–56% dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Melihat angka yang signifikan ini, jelas bahwa saat kita berbelanja, kita sebenarnya sedang menyalakan mesin ekonomi negara. Belanja adalah motor perputaran uang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, perlu digarisbawahi bahwa konsumsi yang dimaksud di sini bukanlah pengeluaran impulsif yang dipaksakan demi gengsi.

Contoh nyata bahwa konsumsi adalah “bensin” ekonomi dapat kita lihat pada kejadian pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Ketika rumah-rumah ditutup rapat, sekolah diliburkan, jalanan sepi, bahkan transportasi umum berhenti beroperasi, masyarakat memilih untuk menahan belanja dan memperbesar tabungan. Akibatnya, ekonomi Indonesia langsung terperosok ke jurang resesi. Sebaliknya, ketika pembatasan mulai dibuka dan masyarakat kembali berbelanja, roda ekonomi pun berangsur pulih.

Memahami Circular Flow dalam Ekonomi

Aktivitas ini layaknya sebuah lingkaran yang saling terhubung. Saat kita membeli sebungkus mi instan, kita secara tidak langsung ikut membiayai pabrik yang memproduksinya. Di pabrik tersebut, ada ratusan pekerja yang menggantungkan nafkah dan menerima gaji dari sana. Pihak pabrik pun membeli bahan baku produksi dari para peternak dan petani, yang akhirnya ikut kecipratan penghasilan. Selanjutnya, keluarga para pekerja dan petani tersebut akan membelanjakan pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan harian lainnya. Inilah yang dinamakan dengan arus lingkaran kegiatan ekonomi atau circular flow.

Kendati demikian, kita harus tetap memperhatikan batasan konsumsi yang sehat. Konsumsi yang sehat berarti membeli barang atau jasa yang memang memenuhi kebutuhan, meningkatkan produktivitas, dan sesuai dengan kemampuan finansial pribadi. Jangan sampai kita belanja hanya karena letupan keinginan sesaat atau didorong oleh gengsi takut ketinggalan tren—yang populer dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Memaksakan diri membeli sesuatu dengan uang yang sebenarnya tidak kita miliki, lalu mengambil jalan pintas melalui utang atau fitur paylater demi gaya hidup, jelas bukan konsumsi yang sehat.

Strategi Mengalirkan Uang secara Bijak

Lantas, bagaimana kita menerapkan konsep konsumsi penggerak ekonomi ini tanpa terjebak dalam pemborosan? Kuncinya bukan berhenti belanja total, melainkan bagaimana kita mengalirkan uang tersebut dengan bijak melalui dua cara sederhana berikut:

  • Pertama, alokasikan, bukan batasi total. Banyak orang terjebak pada ekstremitas finansial: antara belanja sesuka hati atau melakukan penghematan ketat yang menyiksa diri. Padahal, dalam perencanaan keuangan yang sehat, konsumsi atau bahkan liburan adalah ‘hak’ kita setelah kewajiban tabungan, cicilan, dan dana darurat terpenuhi. Intinya adalah menggunakan uang secara tepat sesuai porsi kondisi masing-masing.

  • Kedua, pilih belanja yang berdampak. Agar konsumsi tidak menjadi pemborosan yang sia-sia, arahkan belanja Anda ke sektor yang menghidupkan ekonomi lokal. Sebagai contoh, beralihlah membeli produk dalam negeri dibanding merek luar. Saat kita membeli barang dari merek asing, uang yang kita belanjakan akan mengalir keluar negeri. Namun, jika kita memilih produk lokal, uang akan terus berputar di dalam masyarakat. Secara tidak langsung, Anda sedang membantu pemilik kedai kopi lokal membayar gaji karyawannya atau membantu tukang sayur menyekolahkan anaknya.

Baca juga: Pusat Gadai Menjamur: Inklusi Keuangan atau Gejala Kesulitan Ekonomi?

Jangan pernah takut untuk membelanjakan uang Anda. Konsumsi bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan motor penggerak ekonomi yang kuat jika dilakukan dengan benar dan terukur. Menabung untuk masa depan tetaplah sebuah keharusan, tetapi setelah pos tersebut aman, konsumsi dan menikmati hidup adalah hak Anda. Kuncinya sekali lagi bukan berhenti belanja, melainkan belanja dengan kesadaran penuh.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *