Ketika Kata “Wajar” Berubah Menjadi Alat Pembenaran

normalisasi kata wajar

Oleh: Aurellia Sarah Gunawan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mata Akademisi, Milenianews.com – Saat sedang curhat, membaca sebuah argumentasi di media sosial, atau mendengarkan ceramah, pernahkah kamu mendengar seseorang menutup sebuah perdebatan dengan kalimat, “Ya wajar lah, namanya juga…” atau “Ya sudah, wajar saja.”

Kalimat itu mungkin muncul ketika membahas teman yang terjebak dalam hubungan toxic, rekan kerja yang gajinya tak kunjung naik, atau bahkan ketika kamu dibuat merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahanmu. Anehnya, begitu kata “wajar” diucapkan, percakapan sering kali berhenti. Seolah-olah tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Seolah rasa marah, kecewa, atau keberatan menjadi tidak pantas hanya karena telah diberi label “wajar”.

Padahal, benarkah demikian?

Baca juga: Ghosting: Ketika Sebuah Kata Bahasa Inggris “Menghantui” Cara Kita Memaknai Putus Kontak

Sebenarnya apa sih arti dari kata “wajar”?

Jika merujuk pada KBBI, kata wajar memiliki dua makna. Pertama, biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun. Kedua, sesuai dengan keadaan yang ada atau sebagaimana mestinya. Sementara itu, dalam kamus Indonesia–Inggris, kata wajar diterjemahkan sebagai natural. Dengan kata lain, sesuatu yang disebut wajar adalah sesuatu yang dipandang berlangsung secara alami atau memang sewajarnya terjadi.

Es mencair ketika terkena panas. Jantung berdetak lebih cepat saat berolahraga. Seseorang menginginkan gaji yang lebih besar setelah bekerja lembur. Berbeda pendapat dengan orang lain. Gagal pada percobaan pertama. Semua itu dapat disebut wajar karena menggambarkan sesuatu yang secara umum dapat dipahami.

Pada titik ini, kata “wajar” menjalankan fungsi dasarnya sebagai penjelas keadaan. Ia bersifat deskriptif, bukan menghakimi. Namun, entah sejak kapan, makna itu mulai bergeser.

Dari menggambarkan jadi membenarkan

Perlahan-lahan, kata “wajar” tidak lagi sekadar digunakan untuk menggambarkan keadaan, tetapi juga untuk membenarkan tindakan. Yang semula bersifat deskriptif berubah menjadi justifikasi. Bukan lagi menjelaskan sesuatu yang memang terjadi, melainkan menghentikan pertanyaan tentang apakah hal tersebut memang pantas terjadi.

Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda. Tidak semua yang sering terjadi layak diterima. Tidak semua yang umum terjadi otomatis menjadi benar.

Sayangnya, dalam percakapan sehari-hari, batas di antara keduanya kerap kabur. Begitu seseorang berkata, “Ya memang wajar,” fokus pembicaraan bergeser. Dari mempertanyakan masalah menjadi diminta untuk memakluminya.

Ketika ia jadi normalisasi

Di sinilah kata “wajar” menjadi lebih berbahaya daripada yang terlihat. Ketika sesuatu diberi label “wajar”, perlahan-lahan ia masuk ke dalam kategori yang dianggap tidak perlu dipersoalkan lagi. Kita berhenti bertanya apakah sesuatu itu adil, sehat, atau bahkan masuk akal.

Ambil contoh dalam hubungan. “Dia posesif? Wajar, namanya juga sayang.” Kalimat itu terdengar romantis, bahkan seperti bentuk pembelaan atas nama cinta. Padahal, diam-diam ia sedang mengubah perilaku mengontrol menjadi bentuk kasih sayang yang dianggap layak diterima. Yang dinormalisasi bukan cinta yang sehat, melainkan relasi yang mengekang.

Hal serupa juga muncul di dunia kerja. “Baru juga masuk kerja, wajar kalau harus pulang malam.” Kalimat ini terdengar seperti nasihat agar siap menghadapi kerasnya dunia kerja. Padahal, itu bukan penjelasan mengenai kondisi kerja yang ideal, melainkan pembenaran atas ekspektasi yang bahkan tidak pernah disepakati.

Bentuk yang paling berbahaya muncul ketika kata “wajar” digunakan untuk menyalahkan korban. “Wajar dia dilecehkan, pakaiannya saja begitu.” Dalam satu kalimat, tanggung jawab bergeser dari pelaku kepada korban. Yang dipersoalkan bukan tindakan pelaku, melainkan penampilan orang yang mengalami kerugian.

Yang membuat normalisasi seperti ini sulit dikenali adalah caranya yang begitu halus. Ia jarang hadir dalam bentuk kalimat yang kasar. Sebaliknya, ia terdengar masuk akal, bahkan terkesan bijak. Karena itulah kita sering tidak menyadari bahwa yang sedang kita terima bukan penjelasan, melainkan pembenaran.

Wajar menurut siapa?

Jika diperhatikan lebih jauh, kata “wajar” sering kali mengalir ke arah yang sama: membenarkan pihak yang memiliki posisi lebih kuat. Atasan terhadap bawahan. Mayoritas terhadap minoritas. Pelaku terhadap korban. Orang tua terhadap anak.

Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang mengucapkan kata “wajar” memiliki niat buruk. Banyak yang mengatakannya dengan tulus karena itulah cara berpikir yang mereka warisi sejak lama. Mereka mendengarnya berulang kali, menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, lalu tanpa sadar mengulanginya kepada orang lain.

Di situlah letak persoalannya. Normalisasi yang paling kuat bukan terjadi ketika seseorang sengaja memanipulasi, melainkan ketika semua orang merasa tidak ada yang salah.

Baca juga: Healing: Ketika Kata Penyembuhan Berubah Menjadi Liburan

Mungkin, ini juga wajar?

Setelah membaca sampai di sini, mungkin wajar jika mulai sekarang kamu sedikit curiga setiap kali seseorang terlalu cepat berkata, “Ya wajar lah.” Mungkin juga wajar jika kamu mulai bertanya, “Wajar menurut siapa?”

Sebab, bisa jadi selama ini bukan kamu yang terlalu sensitif. Bisa jadi, kamu hanya terlalu sering diminta memaklumi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dimaklumi.

Namanya juga… wajar?

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *