Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Selamat datang di Kota Dumai. Seolah ada sapaan hangat ketika mobil jemputan keluar dari jalan tol dan memasuki keramaian kota. Dumai merupakan kota penting yang menjaga denyut ekonomi sekaligus budaya masyarakat di pesisir Selat Malaka. Kota ini memang dikenal sebagai kota pelabuhan dan industri. Namun, di balik geliat ekonominya, Dumai juga menyimpan kekayaan kuliner Melayu yang kaya rasa dan sarat tradisi.
Kini, Dumai menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di Sumatera bagian timur. Letaknya yang berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional di Selat Malaka menjadikan kota ini memiliki posisi strategis. Dumai juga dikenal sebagai kota minyak karena sejak lama berkembang sebagai pusat industri migas sekaligus pelabuhan ekspor, termasuk untuk berbagai hasil bumi dari Provinsi Riau.
Sebagai pelabuhan internasional, Dumai berada di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan menjadi pintu penting perdagangan Indonesia dengan Singapura serta Malaysia. Selain industri migas, pertumbuhan ekonomi Dumai juga ditopang oleh industri kelapa sawit, crude palm oil (CPO), beserta berbagai produk turunannya.
Baca juga: Panorama Priangan, Sukaregang, dan Burayot dalam Satu Perjalanan ke Garut
Peran Dumai sebagai kota logistik ekspor semakin kuat dengan dukungan sarana dan prasarana transportasi yang lengkap. Pelabuhan internasional melayani kapal penumpang dengan rute reguler menuju Penang, Malaka, dan Singapura. Kota ini juga memiliki Bandara Pinang Kampai yang melayani penerbangan ke sejumlah kota serta telah terhubung dengan Jalan Tol Trans-Sumatera melalui ruas Pekanbaru–Dumai.
Sulit membayangkan bahwa kota yang kini begitu sibuk ini dahulu hanyalah sebuah kampung nelayan tradisional di pesisir timur Sumatera. Sebelum berkembang seperti sekarang, Dumai hanyalah sebuah dusun kecil yang baru memperoleh status sebagai kota pada 1999.
Ritual Kenduri, Harapan akan Keselamatan dan Keberkahan


Budaya masyarakat Dumai berakar kuat pada tradisi Melayu pesisir. Penghormatan kepada orang tua serta kebiasaan mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakatnya. Kekayaan budaya tersebut tampak dalam berbagai tradisi, seperti kenduri, tepuk tepung tawar, hingga tata cara penyajian makanan yang memiliki aturan tersendiri, baik dari jenis hidangan maupun urutan penyajiannya.
Bagi masyarakat Melayu di Dumai, kenduri merupakan tradisi adat yang sarat makna. Tradisi ini melambangkan kebersamaan, rasa syukur, sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. Kenduri bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol eratnya hubungan sosial antarmasyarakat. Dalam pelaksanaannya, kenduri hampir selalu disertai doa untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Kuliner Melayu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi tersebut. Aneka lauk, seperti gulai ikan laut, ayam kampung, sambal belacan, hingga sayur rebung, tersaji bersama berbagai kue tradisional Melayu. Melihat hidangan itu, saya langsung teringat gulai dan semakin ingin mencicipi gulai khas Dumai.
Seorang teman dari Riau mengajak saya menikmati gulai Melayu pesisir. Perbedaan paling mencolok antara gulai pesisir dan gulai pedalaman terletak pada bahan utamanya. Gulai pedalaman umumnya menggunakan ikan air tawar, seperti patin, baung, toman, atau udang galah. Sementara itu, gulai pesisir menggunakan hasil laut, seperti kakap, kakap merah, bawal, senangin, hingga udang vaname dan udang tiger.
Kuliner sebagai Identitas Budaya Melayu


Saya kemudian ditawari menu udang nanas berkuah, dan tentu saja saya menerimanya dengan senang hati. Hidangan ini menggunakan udang laut segar, umumnya udang vaname, yang dibersihkan lalu dimasak bersama rempah-rempah khas Melayu, seperti kunyit, serai, lengkuas, dan jahe. Setelah bumbu tercampur rata, potongan nanas muda dimasukkan ke dalam masakan. Proses memasaknya dilakukan dengan api besar dalam waktu singkat agar tekstur daging udang tetap lembut dan tidak terlalu matang.
Perpaduan gurihnya daging serta kaldu udang dengan sentuhan asam-manis nanas menghasilkan cita rasa yang segar. Aroma rempah yang khas semakin membangkitkan selera makan. Udang nanas berkuah menjadi gambaran bagaimana kuliner Melayu memanfaatkan kekayaan bahan-bahan lokal secara sederhana, tetapi menghasilkan rasa yang istimewa.
Penggunaan nanas ternyata cukup umum dalam masakan masyarakat pesisir Riau. Buah ini berfungsi sebagai penyeimbang rasa gurih dari hidangan laut. Berbeda dengan banyak masakan seafood di Jakarta atau Pulau Jawa yang lebih sering menggunakan jeruk nipis sebagai penyeimbang rasa.
Saya menikmati udang nanas berkuah bersama nasi hangat yang disajikan di dalam bakul. Hidangan itu ditemani sambal terasi ekstra pedas serta lalapan sayur rebus yang telah ditiriskan. Berbagai jenis sayuran tersaji dalam sepiring lalapan tersebut. Saya paling banyak menikmati terong bulat rebus karena mengingatkan saya pada menu kampung halaman di Palembang.
Ikan laut dan udang nanas berkuah menjadi kebanggaan masyarakat Dumai. Hidangan ini hampir selalu hadir sebagai menu utama dalam jamuan untuk tamu maupun di meja makan keluarga. Kuliner seperti ini layak terus didukung dan diapresiasi karena memperkuat identitas budaya bahari yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seiring berkembangnya Dumai sebagai salah satu simpul logistik nasional, industri kuliner di kota ini pun ikut bertumbuh. Ragam produknya semakin kaya berkat masuknya berbagai bahan pangan dari luar daerah, penyesuaian cita rasa dengan selera para pendatang, serta penggunaan peralatan memasak yang lebih modern. Dari sisi pelayanan, fasilitas rumah makan juga semakin baik, meskipun harga ikut mengalami penyesuaian.
Kim Teng, Soal Rasa, Pengalaman, dan Nostalgia


Dari Dumai saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, untuk bermalam sebelum penerbangan pagi menuju Jakarta. Pekanbaru tumbuh di tepian Sungai Siak dan berkembang menjadi kota yang ramai karena menjadi titik pertemuan para pedagang Melayu dengan para pendatang dari berbagai daerah. Berbasis budaya Melayu, kota ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi terbesar di Sumatera dengan dukungan sektor minyak bumi, perkebunan, dan perdagangan.
Pagi hari sebelum menuju bandara, saya sengaja mampir ke Kedai Kopi Kim Teng. Kedai kopi legendaris yang telah berdiri sejak 1950-an ini sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan Kota Pekanbaru. Kim Teng bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, melainkan ruang pertemuan lintas generasi. Di sinilah warga berkumpul untuk sarapan, berbincang, berdiskusi, atau sekadar menghabiskan waktu. Topik pembicaraannya pun beragam, mulai dari bisnis, politik, sengketa tanah, hingga makanan khas Melayu. Sebagai pendatang, saya ikut hanyut dalam suasana itu.
Baca juga: Barelang, Menyusuri Jembatan dan Sunyi di Selatan Batam
Interior kedai menghadirkan nuansa klasik warung kopi peranakan Tionghoa-Melayu. Suasananya hangat dan hampir selalu ramai pada pagi hari. Aroma kopi menyeruak dari dapur yang setengah terbuka. Para pelanggan datang silih berganti, sementara sebagian lainnya tetap asyik mengobrol tanpa terganggu lalu lalang pengunjung. Kesibukan peracik kopi dan koki yang menyiapkan sarapan menciptakan suasana khas kopitiam peranakan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Saya mengikuti saran seorang teman dengan memesan kopi susu khas Kim Teng, yang konon menjadi menu paling dicari. Kopi itu diracik secara tradisional dengan cita rasa yang lembut, tetapi tetap kuat. Sebagai pendamping, saya memilih roti bakar isi srikaya, perpaduan klasik yang sejak lama menjadi favorit pelanggan. Saya juga menambahkan telur setengah matang, menu sarapan yang mengingatkan saya pada kampung halaman di Palembang.
Sarapan di Kim Teng menjadi penutup perjalanan saya menikmati kuliner Dumai dan Riau. Pengalaman ini pada akhirnya bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang pengalaman, tradisi, dan nostalgia yang terus hidup di setiap cangkir kopi dan setiap hidangan yang tersaji.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








