Panorama Priangan, Sukaregang, dan Burayot dalam Satu Perjalanan ke Garut

garut

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Memasuki gerbong Kereta Panoramic, saya menyadari bahwa perjalanan kali ini bukan sekadar berpindah dari Jakarta menuju Garut. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi kesempatan menikmati bentang alam Parahyangan melalui dinding kaca lebar yang membingkai setiap sudut pemandangan. Alam Priangan yang terkenal akan keindahannya menyuguhkan gunung, lembah, serta hamparan sawah yang membentang sepanjang perjalanan.

Pagi itu Stasiun Gambir dipenuhi penumpang. Stasiun utama Jakarta ini kini semakin nyaman. Dari sisi kuliner, pilihannya bahkan sudah setara dengan pusat perbelanjaan berukuran menengah. Sambil menunggu kereta menuju Garut tiba, saya mengamati kesibukan peron. Di Gambir tidak ada kereta yang lama terparkir. Kereta datang dan pergi, hanya berhenti sejenak untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Kereta Panoramic akhirnya datang. Saya pun duduk dengan nyaman ketika peluit panjang terdengar. Perlahan kereta bergerak meninggalkan kawasan Monas dan hiruk-pikuk Jakarta. Gedung-gedung tinggi mulai menjauh, kemacetan perlahan menghilang. Jatinegara dan Bekasi terlewati, berganti kawasan pinggiran menuju Karawang. Perumahan, kawasan industri, dan hamparan sawah yang masih menghijau saling berselang-seling. Seandainya melewati kawasan ini pada era 1980-an, hampir seluruh wilayah masih didominasi hamparan hijau, dengan hanya sedikit pabrik dan tempat pembakaran batu bata.

Baca juga: Pulau Sabu, Menyusuri Tambak Garam di Tanah Lontar Nusa Tenggara

Menikmati Lanskap Priangan dari Balik Kaca Panoramic

kereta panoramic

Kereta Panoramic merupakan layanan premium KAI yang dirancang bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman perjalanan berbeda. Gerbong ini dilengkapi jendela kaca berukuran besar hingga ke bagian atap (roof window), sehingga penumpang dapat menikmati panorama pegunungan, lembah, telaga, sungai, hingga persawahan tanpa terhalang. Seluruh kursi menghadap ke depan mengikuti arah perjalanan, menjadikan setiap kilometer perjalanan terasa seperti wisata alam yang bergerak.

Selepas Stasiun Purwakarta, bentang alam Parahyangan mulai menyambut. Dari balik kaca lebar, lanskap Jawa Barat tersaji tanpa batas. Rel kereta berkelok mengikuti kontur perbukitan. Di kejauhan tampak gunung-gunung yang menjulang, diselingi bukit-bukit hijau. Sawah bertingkat, aliran sungai kecil, gubuk petani, dan desa-desa sederhana menghadirkan pemandangan yang begitu khas Indonesia.

Sesekali kereta melintasi jembatan dan lembah. Jalan tol tampak bersisian dengan rel kereta, menghadirkan pemandangan kendaraan yang melaju cepat dari dua arah. Dari balik kaca panorama, hamparan hijau terbentang sejauh mata memandang. Perjalanan yang biasanya hanya dihitung dalam hitungan jam kali ini terasa berbeda. Lebih santai, seolah berubah menjadi kesempatan untuk mengagumi alam Pasundan beserta kekayaan Nusantara.

Selepas Bandung, lintasan kereta relatif lebih datar. Meski demikian, siluet gunung masih terus menemani di kejauhan. Kebun, ladang, dan perkampungan di kaki gunung mulai mendominasi pemandangan. Itu pertanda Garut semakin dekat. Bagi masyarakat perkotaan, suasana seperti ini menghadirkan kesan damai dan menenangkan. Tak heran jika wilayah ini pernah dijuluki Swiss van Java.

“Sebentar lagi kereta akan tiba di Garut,” demikian pengumuman terdengar dari pengeras suara. Suasana di dalam gerbong mulai berubah. Saya berdiri, menurunkan koper kecil dari rak bagasi, lalu merapikan barang bawaan. Sebagian penumpang masih menikmati pemandangan dari balik kaca sambil mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kereta memasuki Kota Garut.

Sukaregang, Jejak Industri Kulit yang Bertahan Sejak Zaman Kolonial

sukaregang

Kereta berhenti di Stasiun Garut. Perjalanan pun tiba di tujuan akhir. Pintu terbuka dan udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut. Udara Garut terasa jauh lebih segar dibandingkan Jakarta. Bangunan stasiunnya tampak rapi dan terawat. Meski tidak terlalu besar, suasananya terasa tenang dan bersahabat. Stasiun Garut yang telah direvitalisasi kini memadukan fungsi modern dengan nuansa sejarah perkeretaapian.

Saya mengikuti arus penumpang menuju pintu keluar. Aktivitas stasiun tetap terasa hidup, tetapi tidak terlalu padat karena hanya kereta kami yang datang dan belum ada keberangkatan lain. Fasilitas seperti toilet, wastafel, hingga kafe tersedia dengan baik. Kafe yang menyatu dengan area parkir menjadi tempat nyaman bagi penumpang yang ingin menikmati kopi, makan, atau sekadar menunggu.

Sebagian penumpang dijemput keluarga, sebagian lainnya memilih becak atau transportasi lain. Wajah-wajah wisatawan tampak antusias. Garut memang menjadi salah satu destinasi unggulan di Jawa Barat. Saya pun melangkah keluar stasiun, menandai berakhirnya perjalanan dengan Kereta Panoramic sekaligus awal petualangan di kota ini.

Keesokan harinya saya menuju kawasan Sukaregang, sentra industri kulit yang telah lama menjadi ikon kerajinan Garut. Letaknya masih berada di kawasan perkotaan sehingga mudah dijangkau dalam satu rangkaian perjalanan bersama Alun-Alun Garut, Masjid Agung, maupun pusat kuliner kaki lima.

Sentra Kulit Garut merupakan pusat industri dan kerajinan kulit terbesar sekaligus paling terkenal di Indonesia. Kawasan ini berkembang sejak awal 1900-an. Berawal dari beberapa perajin yang mengolah kulit menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti tas, dompet, sepatu, jaket, hingga pakaian. Keahlian tersebut terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Memasuki Sukaregang, deretan toko, industri penyamakan kulit, dan bengkel kerja para pengrajin berdiri dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas. Sebagian besar produk dibuat dari kulit domba, sapi, maupun kerbau. Berbekal pengalaman panjang dan keahlian turun-temurun, produk-produk Sukaregang dikenal memiliki kualitas yang baik dengan harga yang kompetitif, bahkan lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis di Jakarta. Tak mengherankan jika kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang ingin berbelanja.

Perkembangan industri kulit Sukaregang membuka banyak lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kini pemasarannya pun tidak lagi terbatas secara konvensional, tetapi telah menembus pasar mancanegara.

Baca juga: Gili Trawangan, Pulau Tanpa Motor dengan Laut yang Tak Pernah Diam

Burayot, Kudapan Khas Garut yang Tak Kalah Menggoda

burayot

Perjalanan berlanjut ke kawasan Leles, di jalur Garut–Kadungora, daerah yang sejak lama dikenal sebagai sentra produksi burayot. Udara pegunungan yang sejuk menemani pagi yang segar. Saya berjalan menyusuri kawasan ini sambil melihat aktivitas para perajin. Aroma gula aren yang dimasak tercium dari dapur-dapur produksi, menjadi pertanda bahwa burayot masih terus dibuat hingga hari ini.

Burayot merupakan kue tradisional khas Garut yang diwariskan secara turun-temurun. Bentuknya unik, bulat pipih dengan bagian tengah yang menggantung atau melorot. Dari bentuk itulah nama burayot berasal, yakni dari kata ngaburayot yang berarti bergelantungan.

Bahan pembuatannya sederhana, yaitu tepung beras, gula aren, dan santan kelapa. Adonan kemudian digoreng hingga matang sehingga menghasilkan tekstur renyah di bagian luar, tetapi tetap lembut dan kenyal di bagian tengah. Saat digantung, bagian tengah yang kenyal akan tertarik ke bawah sehingga membentuk ciri khasnya. Rasanya manis dan gurih, perpaduan tepung beras serta gula aren yang menghadirkan aroma tradisional yang menggugah selera.

Kawasan Leles menjadi sentra produksi burayot karena daerah ini merupakan penghasil gula aren. Dahulu burayot lazim disajikan dalam berbagai hajatan, acara syukuran, maupun tradisi adat masyarakat Garut. Kini burayot menjadi bagian dari warisan kuliner Sunda sekaligus oleh-oleh khas Garut yang ditawarkan kepada wisatawan, berdampingan dengan dodol Garut yang lebih dahulu populer.

Ukurannya tidak besar. Saya memasukkan sepotong burayot ke dalam mulut. Sensasi renyah di bagian luar berpadu dengan rasa manis gurih yang membuatnya mudah disukai. Saya menikmati setiap gigitannya, merasakan bagaimana bahan-bahan sederhana dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Wisata bukan hanya tentang menikmati keindahan alam atau budaya. Melalui oleh-oleh khas daerah seperti burayot, wisata juga menjadi cara sederhana untuk membantu menggerakkan ekonomi rakyat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *