Oleh: Sinar Aiza Putri, Mahasiswa Universitas Djuanda dan Peserta Harapan 2 Cabang Lomba KTIQ IIQ Fest 2026
Mata Akademisi, Milenianews.com – Di era digital yang serba cepat ini, kita sering kali merasa bahwa hidup telah berubah menjadi perlombaan yang seolah tidak pernah berakhir. Media sosial turut mendorong berkembangnya budaya self-centered, yakni kecenderungan memusatkan perhatian pada diri sendiri. Akibatnya, kesuksesan kerap diukur dari seberapa banyak yang dapat kita peroleh, bukan dari seberapa besar yang dapat kita berikan kepada orang lain. Fenomena ini, disadari ataupun tidak, perlahan mengikis semangat gotong royong yang selama ini menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.
Sebagai pelajar, kita tentu akrab dengan visi Profil Pelajar Pancasila yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Visi tersebut tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang seimbang. Salah satu dimensi utamanya adalah gotong royong. Namun, tantangan yang sesungguhnya ialah bagaimana menjadikan gotong royong bukan sekadar kewajiban dalam menyelesaikan tugas kelompok, melainkan sebagai kesadaran batin yang tumbuh secara tulus.
Spirit Itsar sebagai Fondasi Kepedulian
Di sinilah kita dapat belajar dari sebuah konsep spiritual yang begitu mendalam, yaitu itsar. Dalam khazanah Islam, itsar bukan sekadar berbagi, melainkan bentuk altruisme tertinggi, yakni sikap mendahulukan kepentingan orang lain meskipun diri sendiri sedang berada dalam kesulitan. Sejarah mencatat betapa indahnya perilaku kaum Anshar di Madinah ketika menyambut kaum Muhajirin. Mereka rela berbagi rumah, harta, bahkan makanan, meskipun hidup dalam keterbatasan.
Keteladanan tersebut bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an melalui QS. Al-Hasyr ayat 9 yang memuji kaum Anshar karena mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri. Sikap itu lahir bukan karena keinginan untuk dipuji, melainkan sebagai wujud keikhlasan yang luar biasa. Jika nilai tersebut dibawa ke lingkungan sekolah, itsar dapat menjadi energi yang mentransformasi gotong royong dari sekadar kerja sama yang bersifat mekanistis menjadi aksi pengabdian yang dilandasi keikhlasan.
Mewujudkan Itsar dalam Kehidupan Sekolah
Lantas, bagaimana nilai itsar dapat diterapkan di lingkungan sekolah? Menurut saya, penerapannya dapat dimulai melalui langkah-langkah sederhana yang menyentuh sisi kemanusiaan.
- Internalisasi sejarah. Narasi tentang kaum Anshar perlu diubah dari sekadar hafalan menjadi laboratorium moral. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu merasakan empati dan menumbuhkan semangat itsar dalam kehidupan sehari-hari.
- Program “Sahabat Anshar”. Sekolah dapat membangun ekosistem peer support yang menggeser budaya kompetisi menuju kolaborasi. Siswa yang memiliki keunggulan didorong untuk mendampingi teman-teman yang mengalami kesulitan sebagai bentuk kepemimpinan yang sesungguhnya.
- Refleksi harian. Kebiasaan mendahulukan kepentingan bersama dapat dilatih melalui aksi nyata yang kemudian dituangkan dalam jurnal refleksi. Langkah sederhana ini menjadi sarana untuk membangun kepekaan, konsistensi karakter, dan kepedulian sosial secara berkelanjutan.
Baca juga: Mengapa Rukhshah Ta’lim (Kelonggaran Pembelajaran) Diperlukan dalam Realitas Pendidikan
Pada akhirnya, internalisasi nilai itsar berpotensi melahirkan generasi “Anshar Modern”, yaitu generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kelembutan hati dan kepedulian sosial yang tinggi. Dengan meneladani semangat kaum Anshar, saya meyakini bahwa dimensi gotong royong dalam Profil Pelajar Pancasila tidak akan berhenti sebagai slogan di atas kertas, melainkan benar-benar menjadi detak jantung yang menghidupkan setiap tindakan kita demi kemajuan bangsa Indonesia pada masa depan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













