News  

Cuaca Panas Ekstrem Hantam Eropa, Jutaan Warga Terdampak dan Ratusan Sekolah Tutup

Ilustrasi

Milenianews.com, Jakarta – Kalau dulu orang Eropa sering bercanda soal liburan mengejar matahari, kini matahari justru datang mengejar mereka. Jalanan yang biasanya dipenuhi turis berubah menjadi lautan aspal panas, pendingin ruangan bekerja tanpa henti, dan suhu yang dulu dianggap ekstrem kini perlahan terasa seperti “normal baru”. Alam seolah sedang menyampaikan pesan yang selama ini terlalu sering diabaikan: bumi tidak sedang baik-baik saja.

Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di Eropa Barat dan Eropa Tengah. Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Swiss, hingga Luksemburg mengeluarkan peringatan cuaca panas tingkat tertinggi (red heat alert) setelah suhu melonjak hingga 40–44 derajat Celsius.

Baca juga: Musim Hujan Makin Aktif, BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Muncul saat Nataru

Di Prancis, suhu di Bordeaux bahkan menyentuh 42 derajat Celsius, sementara lebih dari separuh wilayah negara itu berada dalam status siaga panas. Badan meteorologi setempat memperkirakan suhu tinggi masih akan bertahan hingga pertengahan pekan.

Sahara Kirim “Paket Panas” ke Eropa

Gelombang panas kali ini dipicu oleh massa udara panas dari Gurun Sahara yang bergerak ke utara dan terjebak di atmosfer Eropa Barat serta Eropa Tengah.

Fenomena tersebut membuat suhu meningkat drastis di berbagai negara. Para ilmuwan menyebut kondisi ini bukan lagi peristiwa langka, melainkan pola yang semakin sering muncul akibat perubahan iklim.

Data Meteo-France menunjukkan dari 51 gelombang panas yang tercatat sejak 1947, sebanyak 34 terjadi setelah tahun 2000, dan lebih dari separuhnya muncul sejak 2011.

Di Spanyol, suhu tercatat 5 hingga 10 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata musim panas. Beberapa wilayah bahkan diprediksi mencapai 44 derajat Celsius.

Sekolah Tutup, Aktivitas Lumpuh

Cuaca ekstrem mulai mengganggu kehidupan masyarakat.

Di Prancis:

  • 845 sekolah ditutup sementara.
  • Sekitar 1.800 sekolah memulangkan siswa lebih awal.
  • Sekitar 63 juta warga terdampak gelombang panas.

Sementara itu, Italia menetapkan peringatan cuaca panas tertinggi di 12 kota besar, termasuk Roma, Milan, Florence, Venesia, Bologna, dan Turin.

Dampak Tak Hanya Rasa Gerah

Gelombang panas bukan sekadar membuat orang berkeringat lebih banyak.

Di Prancis selatan, dua balita ditemukan meninggal dunia di dalam mobil keluarga. Penyebab pasti masih diselidiki, tetapi suhu ekstrem diduga menjadi faktor yang berkontribusi.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak berenang di sungai maupun danau tanpa pengawasan setelah belasan orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam selama akhir pekan.

Di Yunani, kombinasi udara panas, angin kencang, dan kondisi kering memicu kebakaran hutan yang memaksa penutupan sementara sejumlah jalan utama.

Baca juga: Indonesia Diprediksi Hadapi Fenomena El Nino Ekstrem Mulai April 2026

Para ahli memperkirakan suhu baru akan mulai menurun menjelang akhir pekan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukanlah kapan gelombang panas ini berakhir, melainkan seberapa sering fenomena serupa akan datang di masa depan.

Cuaca ekstrem yang dahulu dianggap kejadian luar biasa kini semakin sering menjadi berita tahunan. Ironisnya, ketika termometer terus memecahkan rekor baru, sebagian orang masih sibuk memperdebatkan apakah perubahan iklim benar-benar nyata.

Padahal, bagi jutaan warga Eropa yang kini harus menutup sekolah, membatasi aktivitas luar ruangan, hingga menghadapi ancaman kebakaran hutan, jawabannya sudah terasa bukan lagi di ruang diskusi, melainkan langsung di bawah terik matahari.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *