Ding Ding Hong Kong, Trem Legendaris yang Masih Hidup di Tengah Kota Modern

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Pernahkah kau tahu, trem sebagai angkutan massal perkotaan pertama di Asia muncul di kota mana? Ternyata di Jakarta, yang saat itu masih bernama Batavia. Ya, ini fakta! Pada tahun 1869 trem di Batavia masih memakai tenaga kuda, dengan rute Tanah Abang sampai Kota Tua, kawasan Stasiun Kota saat ini.

Kemudian, pada tahun 1881 trem kuda diganti dengan trem uap, yaitu trem yang dijalankan dengan tenaga mesin uap. Kemudian pada tahun 1899 trem di Batavia sudah digerakkan dengan tenaga listrik. Sayangnya, trem kemudian menghilang dari Jakarta pada tahun 1950-an, tergeser oleh mobil dan perkembangan jalan raya.

Tokyo di Jepang baru memakai trem pada tahun 1882. Hong Kong sendiri menjadi kota kelima di Asia yang menggunakan trem sebagai angkutan perkotaan. Setelah Tokyo masih ada Kolkata dan Seoul, baru kemudian Hong Kong pada tahun 1904.

Trem adalah moda transportasi massal kota yang berjalan di atas rel yang dibangun khusus di sepanjang jalan raya. Rel trem menjadi bagian dari jalan raya sehingga mobil, motor, dan kendaraan lain tetap bisa melintas di atasnya. Hal ini berbeda dengan rel kereta api atau MRT yang memiliki jalur tersendiri.

Baca juga: Masjid Kowloon: Jejak Muslim di Jantung Hong Kong

Raja angkutan perkotaan sebelum perang dunia kedua

trem

Trem pertama kali dibuka di Manhattan, New York, menghubungkan Prince Street ke 14th Street pada tahun 1832. Trem pertama ini ditarik oleh kuda. Rel besi membuat gesekan lebih kecil sehingga kuda bisa menarik penumpang lebih banyak dibandingkan gerobak yang berjalan di jalan berbatu.

Ketika mesin uap ditemukan, trem sempat menggunakan lokomotif uap. Namun jenis ini tidak berkembang luas karena asapnya menimbulkan polusi yang mengganggu kehidupan di pusat kota.

Trem mulai berkembang pesat setelah menggunakan tenaga listrik. Penemuan ini menjadi lompatan besar dalam sejarah transportasi perkotaan. Berlin menjadi kota pertama yang menggunakan trem listrik pada tahun 1881, dengan listrik yang dialirkan melalui rel.

Sistem ini kemudian disempurnakan pada tahun 1888 di Richmond, Virginia, dengan listrik yang disalurkan melalui kabel udara di atas trem. Sistem inilah yang kemudian berkembang secara global dan masih digunakan hingga sekarang.

Pada awal 1900-an trem menjadi raja jalanan di banyak kota dunia. Moda transportasi ini dibangun di berbagai negara Eropa dan kemudian menyebar ke kota-kota di wilayah koloni.

Namun setelah Perang Dunia Kedua, popularitas trem menurun. Kota-kota mulai menggunakan bus bermesin yang lebih fleksibel karena tidak bergantung pada rel. Jalan aspal berkembang pesat dan mobil pribadi menjadi semakin murah dan mudah dimiliki. Peran trem pun semakin mengecil.

Hong Kong menjadi salah satu kota metropolitan yang tetap mempertahankan trem hingga hari ini. Trem bukan hanya alat transportasi, tetapi juga daya tarik kota dan bagian dari sejarah yang masih hidup di tengah hutan beton modern.

Trem Hong Kong mulai beroperasi sejak tahun 1904 ketika wilayah ini masih berada di bawah kolonial Inggris. Moda ini tetap bertahan melewati Perang Dunia Kedua, masa pendudukan Jepang, hingga penyerahan kedaulatan dari Inggris kepada China pada tahun 1997.

Di Hong Kong trem dikenal dengan sebutan ding-ding, panggilan sayang dari warga lokal yang berasal dari bunyi lonceng yang sesekali dibunyikan oleh masinis. Trem Hong Kong juga unik karena menjadi satu-satunya sistem trem di dunia yang seluruh armadanya menggunakan dua lantai atau double decker.

Trem dan kehebatan dua gedung mewah

dalam trem

Menjelang malam saya naik ding-ding dari pemberhentian Causeway Bay menuju ferry terminal. Sesuai aturan, saya naik dari pintu belakang lalu langsung menaiki tangga spiral menuju lantai dua. Saya duduk di kursi paling depan yang masih kosong. Rasanya seperti menjadi pilot ding-ding dengan pandangan luas ke depan, ke arah metropolitan Hong Kong.

Causeway Bay masih gemerlap. Kawasan ini adalah jantung ritel Hong Kong yang selalu ramai. Di depan Sogo lampu lalu lintas menyala merah. Dari atas ding-ding saya melihat ribuan pasang kaki menyeberang, tergesa-gesa namun tetap tertib.

Trem melanjutkan perjalanan dengan perlahan. Trem memang tidak bisa melaju cepat karena menggunakan rel yang sama sejak tahun 1904. Di sepanjang Hennessy Road lautan manusia masih terlihat di kiri kanan jalan. Toko-toko menyala seperti pelita yang mengundang kunang-kunang.

Dari lantai dua saya bisa melihat jelas trem dari arah berlawanan. Jarak saat berpapasan hanya beberapa puluh sentimeter. Papan reklame neon yang menggantung di jembatan layang terasa seperti bisa dijangkau dengan tangan.

Ding-ding mulai memasuki kawasan Wan Chai. Keramaian pejalan kaki mulai berkurang. Gemerlap toko berganti dengan gedung kaca pencakar langit. Di antara bangunan modern masih terlihat beberapa tong lau, rumah toko tua yang menjadi jejak sejarah Hong Kong.

Angin malam masuk melalui jendela karena trem ini memang tidak memakai pendingin udara. Ding-ding kemudian memasuki kawasan Central. Suasana terasa lebih formal dan modern. Pencakar langit yang sebelumnya jauh kini berdiri di kiri kanan jalan.

Di hadapan saya muncul dua gedung ikonik Hong Kong: gedung HSBC setinggi 179 meter dan Bank of China Tower setinggi 367 meter.

Baca juga: Macau, Di Antara Kasino dan Jejak Iman

Ketika diresmikan pada tahun 1990, Bank of China Tower menjadi gedung tertinggi di Asia dan gedung pertama di luar Amerika yang melampaui ketinggian 300 meter. Bentuknya asimetris dan tajam, terinspirasi dari rumpun bambu yang menjulang ke atas, melambangkan energi dan pertumbuhan.

Gedung HSBC selesai lebih dulu pada tahun 1985. Bangunan ini terkenal mahal pada masanya. Rangka baja ditempatkan di bagian luar sehingga ruang dalam hampir tanpa pilar, memberi ruang luas untuk interior kantor. Dari trem gedung HSBC terasa lebih dekat. Saya bisa melihat dua patung singa perunggu besar di pintu masuknya. Patung ini dipercaya sebagai penjaga kemakmuran.

Saat trem melintasi dua gedung ini saya merasa seperti berada di tengah persaingan kehebatan dua bangunan mewah. Dari jendela trem yang terbuka saya harus mendongak melihat ketinggian 179 meter dan 367 meter itu. Leher terasa pegal, tetapi mata tetap terpesona. Di pemberhentian Sheung Wan saya turun. Saya berjalan ke pintu depan, menempelkan kartu Octopus untuk membayar perjalanan, lalu melangkah keluar.

Udara malam terasa segar, kali ini dengan aroma asin laut. Saya memang menuju ferry terminal untuk menyeberang ke Kowloon. Dari sana, katanya, kita bisa melihat panorama gedung-gedung Hong Kong yang ikonik di malam hari. Saya menyeberang menuju terminal feri. Suara ding-ding perlahan menjauh. Kartu Octopus yang baru saja di-tap saya masukkan kembali ke kantong. Itu kartu modern untuk membayar transportasi dari masa lalu.

Hong Kong tidak menyimpan masa lalunya di museum. Kota ini menampilkannya dan membiarkannya terus bergerak di rel baja setiap hari.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *