News  

Al-Qur’an Bertabur Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah, Prof. Rokhmin: 5 Prinsip Nilai Pengembangan Agro-Maritim Qur’ani

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menjadi salah satu narasumber Workshop Ayat-Ayat Kauniyah dan Buka Puasa Bersama MPW ICMI  Orwil Khusus Bogor dan Majelis Daerah Kahmi Bogor bekerja sama dengan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB, di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Jumat (27/2/2026). (Foto: Dulur Rokhmin)

Milenianews.com, Bogor– Rektor Universitas UMMI Bogor  yang juga  Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menjadi salah satu narasumber Workshop Ayat-Ayat Kauniyah dan Buka Puasa Bersama Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MPW ICMI) Orwil Khusus Bogor dan Majelis Daerah Kahmi Bogor bekerja sama dengan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB, di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Jumat (27/2/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin yang juga Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat  dan  Anggota Dewan Pakar MN-KAHMI  membawakan makalah berjudul “Perspektif Al-Qur’an dalam Pembangunan Agro-Maritim Menuju Indonesia Emas 2045”.

Ia mengawali makalahnya dengan menegaskan bahwa agar  hidup manusia sukses dan bahagia, baik secara individu maupun masyarakat (bangsa), baik di dunia maupun akhirat, manusia harus berpedoman hidup kepada yang dibuat dan diturunkan oleh Allah SWT (Pencipta manusia, dan alam semesta), yakni Islam (Al-Qur’an dan Hadits sahih). Pasalnya, yang membuat Islam adalah Allah Azza wa Jalla, yang Maha Sempurna dan Mahaadil.

Lebih dari itu, ketika umat Islam menjalankan Islam secara kaffah dan itibba (Fatukh Makkah, abad-6 s/d abad-17), umat Islam mencapai masa kejayaannya (the Golden Age of Moslem). Menurutnya, sudah saatnya, umat Islam menjalankan Islam secara kaffah dan itibba’.

“Untuk itu, kita harus membaca, mentadaburi, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, baik yang tertuang dalam Al-Qur’an (ayat-ayat Qauliyah) maupun ayat-ayat yang tersebar di alam semesat (ayat-ayat Kauniyah),”  Anggota DPR RI 2024 – 2029 itu.

Ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT berupa fenomena alam semesta, kejadian fisik, maupun hukum-hukum alam (sunnatullah) yang tercipta di jagad raya. Ayat ini berfungsi sebagai bukti empiris akan eksistensi dan kekuasaan Sang Pencipta, yang diperuntukkan bagi manusia untuk direnungkan, dipelajari, dan disyukuri.

“Hubungan dengan Ayat Qauliyah: Jika ayat qauliyah adalah wahyu tertulis (Al-Qur’an), maka ayat kauniyah adalah ayat tersirat (alam semesta). Keduanya tidak boleh bertentangan karena bersumber dari Allah,” kata Prof. Rokhmin yang juga Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia).

Contoh: Peredaran planet, penciptaan manusia, tumbuhnya tanaman, dan hukum fisika. Memahami ayat kauniyah melalui ilmu pengetahuan (sains) membantu manusia mengenal Allah dengan lebih mendalam.

“Seiring dengan kemajuan Iptek, kebenaran Al-Qur’an semakin tak terbantahkan,” tegas Prof. Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia).

“Agama yang benar (haq) tidak mungkin bertentangan dengan ilmu pengetahuan.” (Hipotesis Dr. Maurice Buccalai saat melakukan penelitian dan menulis Buku “Bibble, Al-Qur’an, and Sains” 1976).

Baca Juga : Kuliah Umum di USK, Prof. Rokhmin Dahuri Paparkan Arah Riset USK untuk Mendukung Indonesia Emas 2045

Kata “laut” (Al-Bahr) disebutkan sebanyak 32 kali dalam Al-Qur’an. Sedangkan, kata “darat” (Al-Barr) hanya disebut sebanyak 13 kali. Penyebutan banyaknya kata laut dan darat itu merupakan keajaiban ilmiah, karena faktanya permukaan bumi ini ditutupi perairan laut sebesar 71,11%, dan sisanya oleh daratan. (Prof. Jennifer Hoffman. 2007. “ Ocean Science”. Smithsonian, Harper-Collins, New York).

Prof. Rokhmin mengemukakan, Al-Qur’an bertabur ayat qauliyah da ayat kauniyah tentang agro-maritim. Contohnya:

  • Air–hujan– iklim: Fondasi kehidupan dan produksi pangan. Q.S. 16:10–11; 15:22; 24:43.
  • Pesisir/estuari (barzakh): Zona penyangga ekologi pesisir. Q.S. 55:19–20, 22.
  • Ekonomi kelautan & pelayaran: Hasil laut halal; laut untuk rezeki dan konektivitas. Q.S. 5:96; 35:12; 45:12.
  • Tata kelola & antikerusakan (fasād): Larangan merusak darat– laut. Q.S. 2:205; 7:56; 30:41.
  • Panen & antiisraf: Produksi, tunaikan hak panen, hindari pemborosan. Q.S. 6:141.

Prof. Rokhmin  juga menyebutkan lima prinsip nilai pengembangan agro-maritim Qur’ani, yakni:

  • Amanah (khalifah): Sumber daya adalah titipan → tata kelola bersih, akuntabel, berpihak pada produsen (petani– nelayan).
  • Mizan (keseimbangan): Produksi harus sejalan daya dukung → berbasis ekosistem, lindungi pesisir, tanah, air, dan biodiversitas.
  • Anti fasad: Produktif tanpa merusak → stop destructive practices, kendalikan pencemaran, restorasi ekosistem.
  • Adil dan Maslahah: Nilai tambah dan akses pasar adil → reformasi tata niaga, penguatan koperasi/UMKM, perlindungan harga.
  • Anti Israf: Hindari pemborosan → kurangi food loss, efisiensi input (air, pakan, pupuk, energi), perkuat logistik/cold chain.

Workshop Ayat-Ayat Kauniyah dan Buka Puasa Bersama MPW ICMI  Orwil Khusus Bogor dan Majelis Daerah Kahmi Bogor itu dibuka dengan keynote speech oleh Kepala BRIN yang juga Ketua Umum MPP ICMI Prof. Dr. Arif Satria. Acara itu juga menampikan narasumber Prof. Dr. Evi Damayanti (Ketua Dewan Guru Besar IPB), dan Prof. Dr. Didin S. Damanhuri (Guru Besar FEM IPB dan Universitas Paramadina Jakarta). Tausiyah disampaikan oleh Syekh Nasiruddin Ishom At-Tamady.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *