Milenianews.com – Sore itu, jalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tetapi tubuh sudah lebih dulu menyerah pada lelah. Di balik kemudi, tangan tetap memegang setir meski energi perlahan terkuras sejak fajar.
Puasa mengubah banyak hal: ritme tubuh, pola tidur, hingga cara seseorang merespons situasi di sekitarnya, termasuk saat berada di jalan.
Kemacetan yang biasanya hanya menjadi gangguan kecil kini terasa seperti ujian kesabaran. Bunyi klakson terdengar lebih tajam, lampu merah seolah menyala lebih lama, dan waktu seperti berjalan tanpa kompromi. Di titik itulah makna puasa menjadi nyata. Seseorang belajar menahan bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga emosi.
Tubuh yang Lelah, Emosi yang Lebih Rentan
Selama berpuasa, tubuh bekerja dengan pola berbeda. Tanpa asupan makanan dan cairan selama berjam-jam, energi menurun, konsentrasi melemah, dan sensitivitas emosi meningkat. Kondisi ini membuat pengendara lebih rentan terhadap stres, terutama ketika menghadapi situasi tak terduga di jalan.
Founder dan Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan bahwa berkendara tidak sekadar aktivitas fisik. Stabilitas mental dan emosional juga memegang peran penting.
“Masalah-masalah berat akan mempengaruhi konsentrasi. Kemampuan persepsi akan menurun, kemampuan menganalisis dan solusi kontrol emosi juga demikian,” kata Jusri, dikutip dari Kompas.com.
Ia menegaskan bahwa mengemudikan kendaraan membutuhkan kemampuan kompleks, mulai dari kontrol emosi hingga empati terhadap pengguna jalan lain. Aktivitas ini menuntut kesiapan fisik dan mental secara bersamaan.
Sering kali seseorang tidak menyadari perubahan itu. Ia bisa menjadi lebih mudah tersinggung, kurang sabar, atau lebih impulsif dibanding biasanya. Padahal di jalan raya, satu keputusan kecil dapat membawa dampak besar.
Baca juga: Rahasia Puasa dalam Menghajar Lemak Perut yang Bikin Risiko Jantung Naik
Emosi dan Kendaraan yang Bergerak Bersamaan
Selama Ramadhan, kepadatan lalu lintas cenderung meningkat. Perubahan jam aktivitas masyarakat dan kebiasaan berburu takjil menjelang Maghrib turut memicu lonjakan kendaraan di jalan. Banyak orang bergegas pulang atau mencari makanan untuk berbuka dalam waktu yang hampir bersamaan.
Situasi tersebut kerap memancing ketidaksabaran. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya pengendalian emosi sebagai bagian dari keselamatan berkendara.
Psikolog Elina Raharisti Rufaidhah menjelaskan bahwa kondisi emosional berpengaruh langsung pada perilaku pengemudi.
“Pikiran yang jernih akan menghasilkan pola berkendara yang harmonis. Sebaliknya, jika pengemudi tidak bisa mengendalikan emosi, hal itu dapat menimbulkan masalah lain di jalan,” ujarnya.
Menjelang Berbuka, Ketika Jalanan dan Harapan Bertemu
Menjelang Maghrib, arus kendaraan dipenuhi orang-orang dengan satu tujuan: pulang. Sebagian ingin segera berkumpul bersama keluarga, sebagian lain hanya ingin tiba di tempat yang memungkinkan mereka berbuka dengan tenang.
Namun perjalanan menuju momen itu tidak selalu mudah.
Pengendara menghadapi tantangan ganda. Mereka harus menjaga fokus di tengah kepadatan lalu lintas sekaligus mempertahankan ketenangan diri. Dehidrasi dan kelelahan dapat memengaruhi konsentrasi serta kemampuan mengambil keputusan.
Di balik lampu merah yang terasa lama dan antrean kendaraan yang mengular, sesungguhnya ada proses pembelajaran yang berlangsung diam-diam. Setiap orang berlatih untuk tetap tenang, tetap sadar, dan tetap manusia.
Berkendara sebagai Latihan Kesabaran
Puasa bukan hanya tentang menahan diri dari hal-hal yang terlihat, tetapi juga tentang mengelola emosi dan dorongan spontan.
Pelajaran itu terasa nyata di balik kemudi. Saat kendaraan di depan bergerak lambat, seseorang belajar menunggu. Ketika perjalanan terasa lebih panjang, ia belajar menerima. Ketika emosi mulai muncul, ia belajar mengendalikannya.
Pada akhirnya, berkendara bukan sekadar soal mencapai tujuan, melainkan tentang cara menjalani prosesnya.
Baca juga: Ingin Puasa Lancar? Jauhi Makanan Pemicu Asam Lambung Ini
Perjalanan yang Mengajarkan Lebih dari Sekadar Sampai
Langit perlahan berubah warna. Di dalam kendaraan, seorang pengendara menarik napas panjang. Jalan masih padat dan perjalanan belum selesai, tetapi ketenangan tetap dijaga.
Puasa mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak. Kekuatan justru tampak dari kemampuan mengendalikan diri.
Di tengah lapar, haus, dan kemacetan, setiap pengendara perlu memilih untuk bersabar. Sebab perjalanan selama Ramadhan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang tiba dengan selamat dan dengan hati yang tetap terkendali.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













