Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Peran guru tidak pernah berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru adalah figur teladan, penjaga nilai, sekaligus pembentuk karakter generasi masa depan. Karena itu, seorang guru dituntut untuk terus mengembangkan diri agar tetap relevan dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Belajar bagi guru bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Belakangan ini, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kasus seorang guru yang dianggap membuat konten mengarah pada child grooming. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa tantangan guru di era digital tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran, tetapi juga menyangkut etika, batas profesional, dan sensitivitas terhadap psikologi anak.
Guru kini tidak hanya berhadapan dengan siswa di ruang kelas, tetapi juga dengan ruang digital yang penuh risiko, jejak permanen, dan pengawasan publik. Setiap tindakan, ucapan, dan interaksi dapat ditafsirkan beragam, bahkan berpotensi berimplikasi hukum dan sosial.
Baca juga: Mengabdi Tanpa Jaminan: Guru Honorer dan Keadilan yang Tak Kunjung Datang
Pentingnya literasi psikologi bagi guru
Di sinilah pentingnya guru mempelajari psikologi, meskipun secara mandiri. Psikologi membantu guru memahami tahap perkembangan anak, cara berpikir, kondisi emosional, serta batas-batas interaksi yang sehat antara pendidik dan peserta didik. Tanpa pemahaman ini, niat yang semula dianggap wajar bisa disalahartikan, bahkan berpotensi melanggar norma sosial dan hukum.
Pemahaman psikologi membuat guru lebih peka dalam bersikap. Guru mampu membedakan mana bentuk perhatian yang mendidik dan mana yang telah melewati batas kewajaran. Dengan bekal ini, guru akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial, sehingga tidak terjebak dalam perilaku yang dapat merugikan diri sendiri, siswa, maupun institusi pendidikan.
Selain itu, psikologi membantu guru menghadapi keragaman karakter peserta didik. Tidak semua anak dapat diperlakukan dengan pendekatan yang sama. Ada siswa yang membutuhkan penguatan emosional, ada yang memerlukan batasan tegas, dan ada pula yang memerlukan pendampingan khusus. Guru yang memahami psikologi akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terbawa emosi atau prasangka.
Belajar mandiri sebagai tanggung jawab profesional
Belajar psikologi secara mandiri bukanlah sesuatu yang mustahil, bahkan semakin relevan di tengah perubahan zaman yang cepat. Di era keterbukaan informasi, guru memiliki banyak pintu untuk memperkaya pemahaman diri. Buku psikologi pendidikan, jurnal ilmiah, pelatihan daring, webinar, hingga forum diskusi profesional antarpendidik dapat diakses dengan relatif mudah.
Semua sumber tersebut dapat dimanfaatkan tanpa harus menunggu program formal, selama ada kemauan dan kesadaran untuk terus bertumbuh. Kemauan belajar inilah yang menjadi kunci utama kualitas seorang guru. Guru yang terus meng-upgrade diri menunjukkan bahwa ia memahami tanggung jawab moral dan sosial yang melekat pada profesinya.
Guru yang menyadari dinamika peserta didik yang terus berubah tidak akan berhenti pada pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. Dengan memperdalam psikologi, guru mampu membaca situasi kelas dengan lebih jernih, bersikap lebih empatik, serta mengambil keputusan yang lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan siswa.
Refleksi bersama: Menjaga marwah profesi guru
Kasus-kasus yang mencuat ke ruang publik seharusnya tidak hanya menjadi bahan kecaman atau penghakiman, melainkan menjadi cermin refleksi bersama bagi dunia pendidikan. Setiap peristiwa mengingatkan bahwa profesionalisme guru tidak hanya diukur dari penguasaan materi ajar, tetapi juga dari kedewasaan sikap dan kemampuan mengendalikan diri.
Baca juga: Ketika Guru Diserang, Ada yang Salah dengan Pendidikan Karakter Kita
Dunia pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan psikologis. Kematangan inilah yang memungkinkan guru menjaga batasan, etika, serta nilai-nilai luhur dalam menjalankan tugasnya.
Dengan terus belajar dan memperdalam pemahaman diri, guru akan mampu menjaga marwah profesi pendidik. Ia dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bermartabat, di mana siswa merasa dilindungi, dihargai, dan diarahkan secara tepat.
Pada akhirnya, guru yang terus belajar adalah guru yang memahami bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membimbing manusia seutuhnya. Untuk membimbing manusia, guru perlu memahami cara manusia berpikir, merasa, dan berkembang. Kesadaran inilah yang menjadikan profesi guru tetap mulia dan relevan di tengah ujian moral zaman yang terus berubah.
onton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













