Ketika Guru Diserang, Ada yang Salah dengan Pendidikan Karakter Kita

guru diserang

Mata Akademisi, Milenianews.com – Viralnya pemberitaan tentang dugaan pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah siswa terhadap seorang guru telah mengguncang ruang publik. Media sosial dipenuhi potongan video, narasi sepihak, serta opini yang saling berseberangan. Dalam waktu singkat, peristiwa ini tidak lagi sekadar menjadi kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, melainkan berubah menjadi ajang saling menyalahkan. Ada yang berdiri membela guru dan mengecam lunturnya adab peserta didik, namun tak sedikit pula yang justru menyoroti sikap pendidik yang dianggap memicu konflik. Di tengah simpang siurnya informasi, satu hal yang tak terbantahkan adalah bahwa kejadian ini menjadi cermin buram kondisi pendidikan kita hari ini.

Peristiwa kekerasan di sekolah—terlebih ketika guru menjadi korban—sejatinya bukan sekadar persoalan individu. Ia merupakan puncak dari akumulasi berbagai persoalan yang selama ini kerap diabaikan. Relasi antara guru dan siswa yang seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati, kepercayaan, dan keteladanan perlahan mengalami pergeseran. Sekolah yang idealnya menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh justru kerap berubah menjadi tempat terjadinya ketegangan emosional, bahkan kekerasan.

Baca juga: Realitas Pahit Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis

Di satu sisi, guru adalah sosok yang memikul tanggung jawab besar dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan adab. Ketika seorang guru mengalami kekerasan dari siswanya, publik wajar merasa prihatin dan marah. Banyak yang menilai kejadian tersebut sebagai bukti merosotnya moral peserta didik serta hilangnya rasa hormat terhadap pendidik. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, sebab adab terhadap guru merupakan fondasi penting dalam tradisi pendidikan bangsa.

Namun di sisi lain, muncul pula suara yang mengingatkan bahwa guru adalah manusia. Guru tidak luput dari kesalahan, kelelahan emosional, atau pendekatan yang mungkin kurang tepat. Dalam sejumlah kasus, relasi yang tidak sehat antara guru dan siswa berakar dari komunikasi yang buruk, metode disiplin yang keliru, atau minimnya empati terhadap kondisi psikologis peserta didik. Membenarkan kekerasan jelas tidak dapat diterima, tetapi menutup mata terhadap kemungkinan adanya masalah dalam pola pengasuhan dan praktik pendidikan juga bukan sikap bijak.

Inilah titik krusial yang kerap luput dalam perdebatan publik. Fokus kita terlalu cepat tertuju pada siapa yang salah dan siapa yang benar, padahal persoalan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Kasus semacam ini semestinya menjadi momentum refleksi bersama—bukan hanya bagi siswa dan guru, tetapi juga bagi orang tua, sekolah, serta sistem pendidikan secara keseluruhan.

Nilai-nilai moral dan adab yang selama ini digaungkan dalam slogan maupun kurikulum tampaknya belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Pendidikan karakter sering berhenti pada teks dan teori, tanpa keteladanan nyata. Siswa dituntut bersikap sopan dan beretika, tetapi pada saat yang sama mereka menyaksikan contoh kekerasan verbal di lingkungan sekitar—baik di rumah, media sosial, maupun ruang publik. Ketidaksinkronan ini menimbulkan kebingungan nilai yang pada akhirnya bermuara pada perilaku menyimpang.

Ketika pendidikan karakter gagal hadir dalam praktik

Begitu pula dengan guru. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut pendidik untuk terus beradaptasi. Pendekatan otoriter yang dahulu dianggap wajar kini kerap justru memicu perlawanan. Guru dituntut tidak hanya tegas, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang humanis dan dialogis. Keteladanan sikap, pengendalian emosi, serta kepekaan terhadap kondisi siswa menjadi kunci penting dalam menjaga iklim belajar yang sehat.

Peristiwa pengeroyokan yang melibatkan siswa dan guru tersebut—seberat apa pun dampaknya—semestinya dipahami sebagai sinyal kuat bahwa ada ketidakseimbangan dalam dunia pendidikan. Bukan hanya pada perilaku individu, tetapi juga pada cara sistem membentuk karakter, mengelola emosi, dan membangun relasi antarmanusia di ruang belajar.

Sekolah perlu menghadirkan pendidikan nilai yang benar-benar hidup dalam keseharian, tercermin dalam budaya, keteladanan, serta cara menyelesaikan konflik. Di saat yang sama, keluarga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab pembentukan adab kepada sekolah, karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak.

Baca juga: Pendidikan Gagal, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Dukungan negara pun menjadi krusial—tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga pendampingan berkelanjutan agar guru mampu menjalankan perannya secara aman, bermartabat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Pada akhirnya, pendidikan bukan semata soal transfer ilmu, melainkan tentang membangun manusia seutuhnya. Guru dan siswa bukan dua kutub yang saling berhadapan, melainkan mitra dalam proses belajar. Ketika kekerasan terjadi, itu menandakan ada nilai yang hilang dan relasi yang retak. Maka, alih-alih larut dalam perdebatan dan penghakiman, sudah saatnya kita bersama-sama mengembalikan ruh pendidikan yang beradab, berempati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Instagram: @innsanfaisal

Profil Singkat: Seorang pendidik berdedikasi yang mengajar di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Selain aktif mengajar, ia juga memiliki hobi menulis yang ia tekuni secara konsisten. Kecintaannya terhadap dunia literasi membuahkan hasil dengan terbitnya beberapa karya tulis, termasuk buku yang telah dipublikasikan. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menyampaikan gagasan, nilai-nilai pendidikan, dan inspirasi bagi para pembaca, khususnya generasi muda.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *