Milenianews.com – Bruges atau Bruggee adalah kota wisata yang menawan di Belgia Barat Laut. Seperti diketahui, Belgia adalah negara di Eropa Barat yang berada di antara Prancis, Belanda, Jerman, dan Luksemburg. Belgia biasanya menjadi tujuan singgah bagi orang Indonesia yang bepergian ke Eropa. Banyak wisatawan Indonesia yang menyempatkan mampir atau menginap jika perjalanan dari Amsterdam ke Paris atau sebaliknya. Belgia merupakan negara unik karena memiliki tiga bahasa resmi: Belanda, Perancis, dan Jerman. Sebagai negara Eropa Barat, Belgia memiliki sejarah kolonial di Kongo, sehingga sering dibandingkan dengan sejarah kolonial Belanda di Indonesia.
Bruges dijuluki “Venesia dari Utara” karena kota ini memiliki kemiripan dengan Venesia di Italia, yaitu jaringan kanal-kanal berliku. Sama seperti di Venesia, kanal-kanal Bruges dulunya berfungsi sebagai sarana transportasi perdagangan dan barang-barang. Pada masanya, Bruges adalah pusat perdagangan penting di Eropa, dengan produk utama tekstil dan rempah. Kanal-kanal ini kini, di era industri wisata, menjadi jalur perahu untuk wisatawan. Wisata di atas air memungkinkan pengunjung melihat rumah-rumah abad pertengahan, sarana pertanian, jembatan batu yang mengesankan, serta menara gereja yang ikonik—semua masih terawat baik dan terjaga apik.
Baca juga: Taj Mahal Bukan Sekadar Simbol Cinta, tapi juga Pesona Sejarah yang Memikat
Berjalan di Bruges serasa melintasi buku dongeng tentang abad pertengahan; tertata, romantis, dan penuh detail arsitektur klasik. Kombinasi jalan berbatu, kanal yang masih seperti masa lalu, serta bangunan bergaya gotik membuat Bruges terlihat indah dan Instagramable dari semua sisi. Beberapa negara Eropa lain yang memiliki kanal-kanal terawat antara lain Venesia, Amsterdam di Belanda, dan St. Petersburg di Rusia. Bruges tidak hanya kanalnya yang terjaga; lingkungan dan prasarana abad pertengahannya juga masih hadir dan bisa dinikmati.
Bruges bisa dicapai dengan perjalanan satu jam dari Brussel, ibukota Belgia. Dari Belanda, kota Amsterdam tidak harus melewati Brussel, bisa langsung ke Bruges lewat kota Antwerpen. Transportasi di kota Bruges tersedia taksi, tetapi berjalan kaki lebih baik dan mengasyikkan. Bruges adalah kota kecil; semua wisata utama berada di dalam kota dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Jarak terjauh sekitar satu jam perjalanan, tetapi itu tidak terasa lama jika punya banyak waktu, karena sepanjang perjalanan bisa mampir di café, restoran, ataupun bangunan dan jembatan—serasa berjalan di abad pertengahan.
Selfie of Bruges: bukti Flanders pernah jaya

Markt Square adalah alun-alun yang terletak di pusat kota Bruges. Lokasi ini menjadi sentral dalam wisata menikmati kota. Markt, yang berarti “pasar”, luasnya sekitar satu hektar, merupakan pusat kota dan jantung yang telah berdetak sejak abad pertengahan. Keseharian Markt Square bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai panggung yang menyajikan budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bruges. Alun-alun ini dikelilingi deretan rumah bergaya Flemish, yaitu gaya rumah khas area utara Belgia yang berbatasan dengan Belanda, dengan atap bertingkat berwarna merah bata, kuning, dan hijau yang berderet rapi. Lantai dasar bangunan rumah ini dijadikan tempat komersial seperti toko, restoran, atau café.
Tepat di tengah alun-alun Markt Square berdiri patung Jan Breydel dan Pieter de Coninck. Patung ini menjadi simbol identitas bangsa sekaligus titik temu pengunjung. Patung didirikan pada tahun 1887. Kedua tokoh ini adalah pahlawan rakyat Flanders yang memimpin pemberontakan Bruges dan Pertempuran Golden Spurs pada tahun 1302. Jan Breydel memimpin serikat tukang daging (butchers) melawan dominasi ekonomi dan politik Prancis. Mereka dijadikan simbol nasionalisme Flemish.
Saat datang, mata pengunjung Markt Square langsung tertuju pada menara bata yang menjulang tinggi: Belfry of Bruges. Menara setinggi 83 meter ini berdiri kokoh di tengah alun-alun, dikelilingi kafe, restoran, dan toko cokelat Belgia. Menara ini awalnya berfungsi sebagai kantor pusat administrasi, gudang arsip, sekaligus menara pengawas area alun-alun. Dibangun pertama kali pada tahun 1240 sebagai bagian dari balai kota, menara ini pernah terbakar dan beberapa kali direnovasi hingga bentuknya seperti sekarang.
Seperti bangunan lain di Bruges, menara bergaya gotik khas Flemish dengan dinding bata tebal berwarna merah. Di dalam menara terdapat 366 anak tangga yang menuju bagian atas, tempat carillon—alat musik lonceng berjumlah 47 buah—yang masih dimainkan secara rutin. Lonceng dulunya menjadi penanda jam kerja, jam malam, dan peringatan bahaya. Pengunjung dapat menaiki menara menuju puncak untuk melihat panorama pusat kota Bruges, termasuk atap-atap bangunan bergaya Flemish, kanal-kanal kota, dan horizon Bruges. Menara ini telah masuk daftar warisan dunia UNESCO dan pernah menjadi lokasi syuting film In Bruges. Megah dan kokoh, menara ini menegaskan kekuasaan ekonomi dan perdagangan pada masa kejayaan Flanders.
Si imut Praline dan Truffle, ikon cokelat Belgia

Belgia terkenal dengan cokelatnya, dan kota Bruges adalah bagian dari itu. Saat berjalan kaki menelusuri jalan berbatu, deretan toko yang bentuknya tidak berubah sejak masa lalu memancarkan aroma manis cokelat yang dilelehkan dari jendela dapur. Semua tampaknya menarik; masuk ke satu chocolaterie, pengunjung akan disambut susunan cokelat yang memanjakan mata. Aneka cokelat warna-warni—praline, truffle, cokelat lelehan, dan batangan—ditata seperti perhiasan di meja, rak, dan etalase.
Praline adalah salah satu ikon cokelat Belgia. Cokelat berlapis tipis ini di dalamnya berisi beragam bahan: krim lembut, buah, kopi, atau kacang almond dan hazelnut yang dihaluskan; bahkan ada yang berisi liquor. Tampilannya cantik dan elegan, bisa dinikmati sekali gigit, sehingga praline sering disebut sebagai “permata dari Belgia.” Praline lahir di Brussel pada tahun 1912 oleh seorang apoteker yang bereksperimen dengan cokelat. Awalnya, cokelat diisi obat agar lebih mudah ditelan, kemudian berkembang menjadi cokelat manis dengan berbagai rasa, yang akhirnya membawa cokelat Belgia mendunia.
Truffle ukurannya sama imut dan mewah, tetapi berbeda dengan praline. Perbedaan paling mendasar adalah bentuknya; truffle permukaannya kasar, ditaburi bubuk cokelat, cokelat serut, bubuk kacang, gula halus, atau serutan lainnya. Isinya biasanya ganache—campuran cokelat dan krim kental lumer. Keduanya, praline dan truffle Belgia, memberikan citra mewah aristokrat.
Toko cokelat di Bruges biasanya berada di rumah tua bergaya Flemish yang tampak agung namun sederhana. Jendela kayu besar dan pintu relatif kecil menambah kesan artistik. Di dalam, suasananya elegan dan hangat, dengan cokelat tertata rapi di meja, keranjang, dan rak kaca. Lampu ditempatkan dengan tepat agar cokelat tampak berkilau, menciptakan kesan mewah namun ramah. Pembuat cokelat (chocolier) selalu siap dengan senyum menjelaskan berbagai jenis cokelat, termasuk praline dan truffle. Pengunjung juga dapat melihat proses pembuatan cokelat melalui kaca dapur bening.
Kanal, dari prasarana dagang jadi wisata

Tour kanal Bruges menggunakan perahu kayu kecil untuk menelusuri kanal sempit, menikmati rumah-rumah abad pertengahan di sisi kanal. Rumah bata merah dengan atap segitiga khas Flemish serasa membawa pengunjung kembali ke abad pertengahan. Perahu melewati jembatan batu rendah yang membuat spontan menunduk, meski sebenarnya cukup tinggi. Sepanjang kanal, terlihat kafe-kafe kecil untuk menikmati kopi, cokelat Belgia, waffle hangat, atau bir lokal.
Kanal ini dulunya jalur dagang penting untuk komoditi tekstil, rempah-rempah, dan hasil bumi pada abad ke-13. Kanal ini terhubung dengan Laut Utara. Dari perahu, terlihat menara gereja, bekas gudang wol, dan rumah pedagang kaya—semuanya Instagramable.
Panjang total kanal Bruges sekitar 12 km, lebar 8–15 meter, ada yang mencapai 20 meter. Terdapat 80 jembatan, baik batu tua maupun modern. Jembatan tua memiliki ketinggian 2–3 meter dari permukaan air, memberi sensasi tersendiri saat perahu melewatinya.
Baca juga: Dari Hagia Sophia hingga Bosphorus: Petualangan Sejarah dan Kuliner di Istanbul
Wisata bisa dimulai dari beberapa dermaga resmi. Semua dermaga dioperasikan oleh koperasi masyarakat dengan rute kurang lebih sama. Tour kanal tidak menelusuri seluruh kanal, hanya sekitar satu kilometer lebih, dengan durasi 30 menit—cukup untuk menikmati pemandangan. Dermaga paling populer adalah dermaga Rosary, hanya lima menit jalan kaki dari alun-alun, dan letaknya dekat dengan menara Belfry, yang bisa dijadikan latar belakang foto.
Pusat perdagangan Bruges meredup karena sedimentasi kanal pada abad ke-15 sehingga kehilangan akses langsung ke Laut Utara. Perdagangan bergeser ke kota pelabuhan lain, yaitu Antwerpen. Pada abad ke-20, kanal tidak lagi menjadi jalur niaga, melainkan jalur nostalgia dengan nilai ekonomi dari pariwisata. Bruges, kota yang pernah berjaya di masa lalu, berdamai dengan masa kini dan tetap hadir untuk dinikmati.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













