Nalar

Banyak dari kita yang kurang peka dengan situasi sekitar, pernahkah terbesit di dalam pikiran menanyakan sedang apakah mereka? atau di manakah mereka berdiri dan memperhatikan kita? dan apakah mereka sedang ada di dekat kita saat ini?

Seseorang dengan pikiran bercampur aduk antara kenyataan atau halusinasi belaka. Dengan langkah yang mengayun membawa suasana tersendiri dari tiap kaki seolah berat saat berpijak. Pandangan yang tak hentinya memikirkan kebenaran, dan hati maupun pikiran yang menolak lupa akannya.

Sebuah kelebihan atau kekurangankah itu? terbesit dari hati yang terdalam dengan berbagai pertanyaan, apakah normal kehidupan ini? bisakah tidak terpaku dengan apa yang kurasakan. Apa yang aku pertanyakan sebuah dugaan yang tak ada henti-hentinya menggaung seolah membenarkan kejadian yang aku terima.

ADOP

Pada dasarnya itulah kebenarannya, kita hidup saling berdampingan dengan mereka, sebuah makhluk satu alam namun berbeda. Banyak dari kita yang kurang peka dengan situasi sekitar, pernahkah terbesit di dalam pikiran menanyakan sedang apakah mereka? atau di manakah mereka berdiri dan memperhatikan kita? dan apakah mereka sedang ada di dekat kita saat ini? Menakjubkan, banyak sekali kehidupan-kehidupan yang kita tidak ketahui.

Baca Juga : Bertatapan dengan Genderuwo Mall

Perasaan itu berlanjut hingga kini, yang mana asal mulanya pun aku tak begitu mengingatnya. Aku Cahya yang hidup terus bergantung akan sebuah kejadian ganjal di luar nalar. Aku sebutkan kejadian. Dimana aku mulai merasakan kepekaan yang tidak biasa dirasakan oleh orang pada umumnya.

Meskipun dari kecil merasakan, namun aku perhatikan dengan jelas, bahwa aku mulai mengerti saat mengetahui sebuah bayangan hitam besar tinggi berkelebat seketika. Saat aku sedang mengarahkan pandangan pada lorong kamar mandi sekolah waktu kelas 5 SD.

Dengan pikiran polos kukejar bayangan itu, namun hilang saat aku sudah sampai di belakang bangunan sekolah persis di belakangnya, temanku pun spontan mengejarku turut melihat muka heranku yang sangat jelas di hadapan mereka.

Mereka bertanya kenapa? apa? sebuah pertanyaan yang membuatku bingung juga, tak sekali dua kali aku mengalami seperti ini.

Saat umurku sudah di atas 10 tahun. Kejadian itu mulai bertambah anehnya. Bahkan bisa dibilang mungkin sesuai umur. Kejadian itu akan tertera keanehannya pada tingkatan umur seberapa bisa aku menanggungnya dan seberapa kuat bisa menahannya.

Pada umur 13 tahun, masa SMP lebih tepatnya perasaan ganjil semakin menjadi dari sebelumnya, ada salah satu kejadian yang aneh, mengapa mereka menyerupai keluargaku sendiri. Aku bertanya kepada ibu, saat ibu sedang berada di luar rumah di malam hari.

Tidak terlalu malam mungkin sekitar jam 8, terlihat di luar rumah ada sebuah kamar mandi kecil, selain kamar mandi yang ada di dalam rumah. Kemudian aku mendengar ada suara guyuran seperti orang mandi. Aku pun beranjak ingin bertanya tentang makanan di meja dapur.

“Ibu itu makanan punya siapa, boleh Dira makan?” tanyaku saat itu, namun Ibu tidak menjawab dan tidak merespon sama sekali ucapanku.
Akhirnya aku bertanya lebih dekat, karena mungkin tidak terdengar olehnya.
“Ibu makanan itu punya siapa, boleh Dira makan?” tanyaku lagi.
Dengan jawaban yang begitu amat kaku dia lontarkan “iya” kata Ibu.

Kemudian aku berbalik arah menuju dapur. Tanpa diduga, ternyata ibuku ada di dapur sedang merapikan barang di meja. Aku tercengang tak bisa berkata apapun.

Anehnya, kenapa suara yang kudengar mirip dengan suara ibu. Padahal baru berapa langkah aku menuju dapur, apakah secepat itu jalannya ibu? Aku bertanya di dalam hati, bukankah jalan menuju dapur hanya satu lorong saja?

Tersentak mataku membelalak, saat aku sadar itu bukan ibu sudah pasti bukan ibu, ingin menolak kenyataan tetapi itulah kenyataannya.

Tak hanya itu saja, di umukur yang semakin tinggi, kejadian ini semakin rumit untuk dijelaskan, kejadian yang aneh terulang kembali.

Saat ingin beranjak tidur, berbaring dan terlelap. Kenapa aku masih berada pada kendali bahwa aku belum tidur. Hanya saja mataku terpejam kaku. Suara memekakan telinga, tak bisa berkutik. Tubuh kaku seperti diberi obat bius.

Namun, terdengar jelas suara perempuan memanggil namaku, sangat jelas di dekat telinga memanggil “Cahya”. Mata yang ingin aku buka tidak bereaksi sama sekali, tubuh ingin kugerakkan bahkan hanya terbujur kaku, keringat panas dingin mengalir membasahi dahi.

Aku melantunkan ayat suci Al-Qur’an di dalam hati, membaca istighfar sebanyak mungkin. Hingga suara itu hilang dengan sendirinya, mata yang tadinya kaku menjadi sangat lelah dan aku pun mulai kehilangan kesadaran kemudian terbangun di pagi hari dengan perasaan gemetar mengingat kejadian semalam.

Dari sini aku mengerti, kita memang diciptakan berdampingan. Tetapi, mengapa mereka merasakan kepekaan ini. Semakin hari, semakin aku biasa menjalani hari-hari yang seperti ini terus menerus.

Baca Juga : Selaput Darah Berharga

Mulai menerima takdir bahwa kekuranganku adalah kelebihanku, kubuka dan kuceritakan satu persatu kejadian yang kualami kuceritakan kepada keluarga, mereka mengerti dan memberi dukungan penuh, aku selalu mengingat pertolongan Allah karena kapanpun pasti ada, selalu berdzikir pagi dan petang itulah benteng dari halauan mereka yang mengganggu.

Bahwa di dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 dijelaskan yang artinya “ (yaitu) orang orang yang beriman. Hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”

Penulis : Dita

Sobat Milenia yang punya cerita horror, boleh kirimkan naskahnya ke email redaksi@milenianews.com, untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here