Suku Kajang dan Adat Ammatoa

Milenianews.com – Sulawesi selatan adalah salah satu provinsi yang kental akan adat budaya dan keindahan alamnya. Salah satunya adalah kekentalan budaya Suku Kajang di desa Ammatoa tepatnya Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Ammatoa adalah sebutan bagi kepala desa Suku Kajang. Dalam berkomunikasi, masyarakatnya menggunakan bahasa Makassar dengan dialek Konjo.

ADOP

Baca Jua : Wisata Malam Yogyakarta, Wajib Sobat Kunjungi

Desa ini terkenal dengan kebudayaan masyarakatnya yang masih kental dan berdampingan dengan alam. Selain itu, masyarakatnya juga masih menganut mitos yang bertujuan untuk menjaga perilaku orang-orang sekitar agar hidup serasi dan berdampingan dengan alam.

Desa Ammatoa dikelilingi oleh hutan dan pohon-pohon besar, yang memberi kesejukan bagi masyarakat dengan keasriannya. Pohon yang banyak ditemui adalah pohon dengan jenis kayu Biti (Vitex Kofasuss) yang memiliki kualitas terbaik.

Kayu yang bengkok adalah kayu terbaik untuk digunakan sebagai bahan kapal
phinisi. Pada saat malam hari, masyarakat menggunakan lentera untuk penerangan, sehingga cahaya bulan dan gemerlap bintang dapat terlihat dengan jelas.

Semua bentuk rumah Suku Kajang terlihat sama, berbentuk panggung memanjang yang terbuat dari kayu. Di ujung atap rumahnya terdapat bentuk ekor ayam jantan yang di sebut Anjong. Ini merupakan warisan dari kerajaan Gowa.

Setiap rumah menghadap ke barat yang di percaya dapat memberikan keberkahan. Di bagian depan rumah langsung disambut dengan dapur.

Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada tamu yang datang apa saja yang dimiliki oleh sang pemilik rumah tercermin dari dapurnya. Sehingga tidak ada hal yang disembunyikan.

Di pekarangan rumah warga, rata-rata mereka memelihara hewan peliharaan seperti ayam, sapi, atau kuda. Ada yang unik, masyarakat setempat tidak menggunakan smartphone, lampu, TV, sepeda motor dan alat-alat modern lainnya.

Masyarakat disini lebih memilih menggunakan alat-alat tradisional untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bukan tidak menerima kemajuan teknologi, tetapi mereka
memilih untuk menggunakan apa yang sudah disediakan oleh alam, mengambil sewajarnya dan menjaga kelestariannya.

Saat diperhatikan, pendopo gerbang masuk desa Ammatoa seolah menjadi pembatas antara kehidupan modern dan kehidupan adat khas Suku Kajang. Jika diamati, setiap warga desa Ammatoa semuanya menggunakan pakaian berwarna hitam, termasuk seragam sekolah dari Sekolah Dasar Negeri 351 kawasan Ammatoa.

Bagi Masyarakat Ammatoa, warna hitam merupakan filosofi hidup yang menggambarkan gelapnya rahim, ketika di dalam kandungan dan gelapnya saat kembali ke liang lahat.

Warna hitam juga diartikan sebagai bentuk kekuatan dan persamaan dalam segala
hal seperti kesamaan derajat dihadapan sang pencipta, kesamaan yang dimaksud adalah dalam bentuk wujud lahir, menyikapi kedaan lingkungan, salah satunya adalah menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan.

Masyarakat juga tidak memakai alas kaki sebagai pelindung saat beraktivitas. Menurut mereka, bersentuhan langsung dengan tanah menjadi pengingat bahwa kita diciptakan dari tanah dan akan kembali lagi ke tanah.

Adapun tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Ammatoa adalah Acara Pattasa Jera’ atau membersihkan makam, yang wajib dilakukan setiap tahun sekali penjelang lebaran.

Ini dilakukan untuk menghargai dan mendoakan para arwah nenek moyang, maupun keluarganya yang dikubur di tempat tersebut.

Sementara itu, dalam upacara adat tertentu, warga menggunakan alat musik tradisional yang disebut Basing. Basing adalah alat musik tiup yang berbentuk seperti suling dan digunakan sebagai pengiring.

Selain itu, ada sebuah peraturan yang harus dipatuhi oleh warga setempat. Masyarakat Suku Kajang harus menikah dengan sesama orang di dalam kawasan adat. Jika peraturan itu dilanggar, maka mereka harus tinggal di luar kawasan adat.

Bagi pasangan yang ingin tinggal di kawasan adat juga harus mengikuti adat dan budaya Suku Kajang. Masyarakat Desa Ammato memiliki sitem kepercayaan yang unik, yaitu satu sisi mereka percaya pada kekuatan tunggal (Monoteisme) namun di sisi lain mereka menyembah dan mengabdi pada roh atau benda seperti batu, gunung, dan lain-lain (Politeisme).

Baca Juga : Keindahan Alam Pulau Maratua, Maldivesnya Indonesia

Bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung ke Desa Ammatoa, dapat memakai jasa kendaraan umung yang di sebut Pete-pete.

Pengunjung juga dilarang menggunakan barang elektronik, handphone, ataupun kamera di kawasan Ammatoa, memakai pakaian hitam untuk menghargai penduduk setempat, dan dilarang berkata kasar.

 

Tulisan Karya : Dinda Felya Sya’bani, dalam lomba menulis artikel dari Milenianews tentang “Keindahan Kampung Halaman yang Belum Terjamah”.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here