Milenianews.com – Siapa yang tidak mengenal Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, MSc? Dalam kariernya, ia terkenal sebagai dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Selain itu, ia juga merupakan seorang pebisnis.
Lahir di Palembang 24 Oktober 1962, namun Wahyu Saidi memulai sekolahnya di salah satu daerah di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Hal itu karena ia harus mengikuti jejak sang Ayah yang kala itu sedang pindah tugas.
Baca juga : Elwin Halawa, Pengusaha Muda Sukses Meski Masih Kuliah
Namun ini tidak berlangsung lama, pada akhirnya Wahyu Saidi kembali ke Palembang dan memulai sekolah dasarnya di sekolah Xaverius. Wahyu menamatkan sekolahnya di Palembang sampai ke jenjang sekolah menengah pertamanya.
Dalam ingatanya, selama berada di Lubuk Linggau, Wahyu Saidi kecil memiliki memori yang sangat berkesan. Ia terbiasa bergaul dengan orang-orang beretnis Tionghoa, yang mana rata-rata orang tua temannya adalah seorang pedagang. Hal inilah yang menginspirasinya untuk terjun di dunia bisnis.
Setelah lulus sekolah, ia melanjutkan pendidikanya di Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung, mengambil Teknik Sipil pada tahun 1996. Tidak puas dengan gelar Sarjana, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 masih di ITB pada tahun 1991.
Ketika lulus, ia memutuskan bekerja di PT. Dipasena Citra Darmaja (Pada 1994 perusahaan ini merupakan sebuah perusahaan tambak udang terpadu yang terbesar di dunia) sampai memperoleh posisi sebagai HRD Manajer.
Wahyu Saidi, ingin mencoba pengalaman baru, ia lalu pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai manajer proyek di Drassindo. Ia mengaku sempat menjadi pengangguran akibat dari krisis moneter pada tahun 1998-1999 silam.
Baca juga : Pepy Nasution: Duta Kuliner Nusantara
Sempat menganggur, Wahyu Saidi jadi pebisnis kuliner
Dalam kondisi menganggur, Wahyu berfikir untuk banting stir untuk terjun ke dunia bisnis kuliner. “Saya pilih dunia bisnis karena tidak ingin menyerah dan saya berani bersaing,” ujarnya.
Memulai usahanya dengan membuka warung bakmi dengan ketersediaan dana yang terbatas. Lalu ia mempelajari bagaimana proses bisnis dari Bakmi GM, kemudian membuat brand sendiri dengan nama “Bakmi Langgara”. Wahyu membuka outlet pertamanya di Menara Kadin, Jakarta pada tahun 2000.
Tak hanya itu saja, dalam perjalanan bisnis kulinernya, ia juga menerapkan sistem waralaba (franchise) dengan menawarkan keuntungan yang tidak main-main. Ia mampu memberi penawaran harga waralabanya mulai dari Rp10 juta hingga Rp550 juta per outlet.
Hasilnya sangat fantastis. Hanya dalam kurun waktu 4 tahun sejak membuka usaha, outletnya berkembang hingga memiliki 90 cabang.
Baca Juga : Satu-Satunya di Dunia, Ada Bakmi Jawa Kemasan Kaleng
Brand bakmi miliknya, yaitu Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet, keduanya berkembang sama cepatnya. Dalam kurun waktu 15 tahun, usahanya terus berkembang hingga menjadi 410 outlet, termasuk di dalam maupun luar negeri. Walaupun beberapa diantaranya berupa gerobak. Omzet satu outletnya bisa mencapai Rp 10 juta per hari.
Kesuksesan Wahyu Saidi dalam bisnis makanan, membuat namanya terkenal dan menjadi perbincangan banyak orang.(Herlin Aprilianty)
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.