Milenianews.com, Depok– Pengalaman membangun desa dari persoalan masyarakat menjadi pembahasan dalam diskusi refleksi kepemimpinan tingkat akar rumput yang menghadirkan Kepala Desa Bojongkulur, Bogor, Firman Riansyah, dan Kepala Desa Karamatwangi, Garut, Rana Kurnia, dalam rangkaian Kuliah Umum dan Bedah Buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa di Gedung SEBI Hall, Institut SEBI, Depok, Senin, 31 Agustus 2026.
Keduanya membagikan pengalaman dalam menjalankan pemerintahan desa, mulai dari pembangunan sumber daya manusia (SDM), pengembangan potensi lokal, penanganan persoalan lingkungan, hingga pengelolaan ekonomi desa. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di tingkat akar rumput tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dan menciptakan solusi yang berdampak.
Firman Riansyah membagikan refleksinya selama 12 tahun memimpin Desa Bojongkulur. Ia mengawali perjalanan sebagai kepala desa pada 2014. Menurutnya, seorang pemimpin membutuhkan pedoman yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan administratif, tetapi juga pembentukan karakter.
Firman Riansyah menilai buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa memiliki relevansi bagi para kepala desa karena dapat menjadi panduan dalam membentuk pribadi, hati, dan pikiran seorang pemimpin. “Buku ini sangat penting untuk memandu pribadi, hati, dan pikiran para kepala desa,” ujar Firman.
Desa Bojongkulur yang berada di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, berbatasan langsung dengan Kota Bekasi serta diapit Kali Cileungsi dan Kali Cikeas. Kondisi tersebut membuat desa memiliki tantangan, salah satunya kerawanan banjir.
Pada awal kepemimpinannya, Firman Riansyah juga menghadapi persoalan infrastruktur, termasuk kondisi jalan yang rusak. Secara bertahap, pembangunan dilakukan hingga sebagian besar jalan di wilayah tersebut kini berada dalam kondisi yang lebih baik.
Baca Juga : Institut SEBI dan LAZNAS YAKESMA Siapkan Mahasiswa Jadi Komunikator Andal melalui Pelatihan Public Speaking
Selain infrastruktur, pemerintah desa mengembangkan Early Warning System (EWS) untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat ketika terdapat potensi banjir. Sistem tersebut terus dikembangkan agar informasi dapat diterima lebih cepat, termasuk melalui rencana notifikasi langsung ke telepon seluler warga.
Pengelolaan pemerintahan dan dana desa Bojongkulur juga pernah mendapat perhatian dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada 2017, Firman Riansyah menyampaikan bahwa pihak KPK datang untuk mempelajari praktik pengelolaan dana desa yang diterapkan di Bojongkulur.

Sementara itu, Rana Kurnia menekankan pentingnya pembangunan SDM sebagai fondasi pembangunan desa. Menurutnya, kualitas masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan kepemimpinan.
“Kunci keberhasilan sebuah kepemimpinan itu adalah SDM-nya. Tahun 2015 sampai 2019 itu waktunya membangun kualitas SDM di sana,” ujar Rana.
Setelah penguatan SDM, Desa Karamatwangi mengembangkan potensi wisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Infrastruktur wisata mulai dibangun sejak 2019 dan terus mengalami perkembangan.













