Sekolah BM 400 Jakarta Gelar Kegiatan Mengkaji Al-Qur’an, Kupas Surat Luqman Ayat 12-19

Ustadzah Neneng Huliyah S.Ag. membahas makna dan pesan  Surat Luqman ayat 12-19 kegiatan Mengkaji Al-Qur’an yang diadakan di Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Jakarta, Jumat (30/10/2026). (Foto: Dok BM 400)

Milenianews.com, Jakarta—Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Jakarta menggelar kegiatan Mengkaji Al-Qur’an, bertempat di Bakti Mulya 400 EYP Praayer Room, Jumat (30/10/2026).

Narasumber kegiatan tersebut adalah Ustadzah Neneng Huliyah S.Ag. Dalam kesempatan tersebut, ia mengupas tema “Surat  Lqman ayat 12-19”. “Nasehat Luqman di ayat 12-19 ini terintegrasi antara iman, ilmu, ibadah, dan akhlak,” kata Ustadzah Neneng Huliyah S.Ag.

Ia menjabarkan pesan ayat per ayat dalam Surat Luqman tersebut  sebagai berikut:

Ayat 12 : Hikmah dan rasa syukur

Pokok ayat: Allah memberikan hikmah kepada Luqman dan memerintahkannya untuk bersyukur kepada Allah.

“Hikmah adalah mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu baik pengetahuan maupun perbuatan. Ilmu amaliah dan amal ilmiah,” kata Ustadzah Neneng Huliyah.

Luqman dianugerahi hikmah, yaitu kemampuan memahami kebenaran, menempatkan sesuatu secara tepat, dan mengamalkan pengetahuan dalam kehidupan. Hikmah bukan sekadar banyaknya ilmu, melainkan kemampuan menggunakan ilmu untuk membimbing diri sendiri dan orang lain menuju kebaikan.

“Ungkapan ‘an usykur lillāh’ menunjukkan bahwa hikmah harus melahirkan rasa syukur kepada Allah. Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdapat betapa besar nikmat dan anugrahnya disertai dengan kekaguman yang melahirkan cinta kepada-Nya,” ujarnya.

Ayat 13 : Larangan syirik

Pokok ayat: Luqman menasihati anaknya agar tidak mempersekutukan Allah,  karena syirik merupakan kezaliman yang besar.

Dalam penjelasan Tafsir Al-Maraghi, nasihat Luqman memperlihatkan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari dasar yang paling penting, yaitu akidah tauhid. Sebelum mengajarkan berbagai pengetahuan dan perilaku sosial, orang tua perlu menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Baca Juga : Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta Resmikan Marketing Lounge

“Kata ‘yā bunayya’  yang berarti ‘wahai anakku’ menunjukkan panggilan penuh kasih sayang. Pendidikan tidak hanya menyampaikan perintah, tetapi juga membangun kedekatan emosional agar nasihat lebih mudah diterima,” kata Neneng Huliyah.

Syirik disebut sebagai kezaliman yang besar karena menempatkan sesuatu yang bukan Tuhan pada kedudukan yang hanya layak bagi Allah.

Ayat 14 : Berbakti kepada kedua orang tua

  • Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
  • Mengingatkan manusia tentang perjuangan dan pengorbanan seorang ibu ketika mengandung dan menyusui.
  • Mengajarkan agar manusia bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada kedua orang tua.
  • Menegaskan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah.

Ayat 15 : Ketaatan kepada orang tua memiliki batas

Ayat ini memberikan keseimbangan dalam pendidikan Islam. Di satu sisi, anak diperintahkan menghormati orang tua. Di sisi lain, penghormatan tersebut tidak berarti semua permintaan orang tua harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan kebenaran.

“Jika orang tua memaksa anak melakukan kemusyrikan atau sesuatu yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah, anak tidak boleh mengikuti permintaan tersebut. Namun, penolakan itu tidak membenarkan anak bersikap kasar, menghina, atau memutus hubungan baik dengan orang tua,” ujarnya.

Ayat 16 : Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui

Sekecil apa pun suatu perbuatan, sekalipun seberat biji sawi dan tersembunyi di tempat yang sangat sulit dijangkau, Allah mengetahuinya.

Luqman mengajarkan kepada anaknya bahwa tidak ada perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah. Perbuatan yang dianggap kecil oleh manusia tetap memiliki nilai dan akan diperhitungkan oleh-Nya.

“Pendidikan pada ayat ini membangun kesadaran batin atau pengawasan diri. Seseorang berbuat baik bukan hanya karena dilihat guru, orang tua, atau masyarakat, melainkan karena menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu,” kata Ustadzah Neneng Huliyah.

Ayat 17 : Salat, amar makruf nahi munkar, dan kesabaran

Ada empat pesan utama dalam ayat ini.

  1. Mendirikan salat. Salat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah sekaligus sarana membangun kedisiplinan dan kesadaran spiritual.
  2. Mengajak kepada kebaikan (amar makruf). Seorang Muslim hendaknya mendorong perilaku yang benar dan bermanfaat.
  3. Mencegah kemungkaran (nahi mungkar). Meninggalkan perbuatan tidak baik.
  4. Menjalankan kebaikan tidak selalu mudah. Karena itu, diperlukan keteguhan hati ketika menghadapi kesulitan, penolakan, atau tantangan.

Ayat 18 : Larangan berlaku sombong

Luqman melarang anaknya memalingkan wajah dari manusia karena kesombongan dan berjalan di bumi dengan angkuh.

“Ayat ini menekankan pentingnya kerendahan hati dalam hubungan sosial. Kesombongan dapat muncul melalui bahasa tubuh, cara memandang orang lain, sikap meremehkan, maupun kebiasaan membanggakan diri,” ujar Neneng Huliyah.

Ia menambahkan, “Dalam konteks pendidikan karakter, seseorang yang memiliki ilmu, prestasi, kekayaan, atau kedudukan tidak boleh menggunakan kelebihannya untuk merendahkan orang lain.”

Ayat 19 : Kesederhanaan, kesantunan, dan pengendalian suara

Luqman mengajarkan anaknya agar berjalan secara wajar dan merendahkan suara.

Ayat ini melengkapi pendidikan akhlak dengan mengatur perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Berjalan secara wajar menunjukkan sikap seimbang, tidak berlebihan, dan tidak dibuat-buat untuk menarik perhatian.

Baca Juga : Bakti Mulya 400 Salurkan Donasi  melalui PMI dan Dompet Dhuafa

Sementara itu, perintah merendahkan suara mengajarkan kesantunan dalam berkomunikasi. Perbandingan dengan suara keledai menegaskan buruknya suara yang keras dan tidak pantas dalam konteks perilaku yang dibahas ayat ini.

“Pesan tersebut bukan berarti seseorang tidak boleh berbicara keras dalam segala keadaan, melainkan agar cara berbicara disesuaikan dengan kebutuhan, tidak kasar, dan tidak digunakan untuk menyakiti orang lain,” kata Neneng Huliyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *