Milenianews.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, akhirnya buka suara soal kritik publik yang menyoroti rekam jejaknya ketika masih menjabat sebagai Menteri Kehutanan. Dalam obrolannya bareng Denny Sumargo di podcast Curhat Bang pada Selasa (2/12), Zulhas mengaku bahwa penindakan hukum di masa itu bukan hal yang gampang.
Baca juga: Banjir Bandang Sumatera, Jejak Izin Sawit 1,64 Juta Hektar Era Zulkifli Hasan Kembali Disorot Publik
Ia menjelaskan, situasi saat itu penuh dengan yang ia sebut sebagai “surplus demokrasi”, ditambah perlawanan puluhan ribu perambah hutan yang bikin proses penertiban jadi super rumit. Meski begitu, ia menilai bahwa kondisi penegakan hukum hutan saat ini sudah jauh lebih efektif.
Zulhas juga menanggapi wawancara lamanya bersama Ford yang sempat viral. Ia mengatakan bahwa wawancara itu sebenarnya bagian dari syuting film dokumenter. Namun, menurutnya, ia justru diposisikan sebagai “penjahat” dalam skenario tersebut. Ia bahkan menceritakan bahwa Taman Nasional Tesso Nilo kala itu dikuasai sekitar 50.000 orang.
“Tapi dia nggak mau rupanya. Saya ada tunggu di kantor, rupanya sudah disetting. Itu sudah ada empat kamera,” ujarnya di podcast tersebut pada Selasa (2/12).
Hambatan penegak hukum hutan
Zulhas blak-blakan bilang bahwa para pejabat kala itu takut kepada rakyat. Pemilihan langsung bikin masyarakat punya pengaruh besar, sementara aparat jadi serba salah dalam mengambil tindakan. Ia mengakui bahwa penegakan hukum waktu itu tidak berjalan maksimal.
“Kami hanya bertahan 7 hari. Nggak bisa turun. Kalau turun kita dikepung sama masyarakat,” ungkapnya.
Ia pun nggak menutupi rasa sesalnya karena tidak bisa menuntaskan penindakan secara tuntas pada masa tersebut. Menurutnya, itu adalah periode yang penuh tantangan besar, di mana penegakan hukum benar-benar membutuhkan dukungan luas dari berbagai pihak.
Baca juga: Zulhas Optimisme Ekonomi Dorong Swasembada Pangan Nol Impor
Saat membandingkan kondisi dulu dan sekarang, Zulhas memuji dukungan politik dari presiden saat ini yang disebutnya berani memangkas birokrasi dan menegakkan hukum secara tegas. Menurutnya, gaya kepemimpinan yang lebih berani ini membuat banyak masalah bisa diselesaikan lebih cepat.
Ia juga menyoroti keberhasilan penertiban praktik ilegal yang berhasil menyita sekitar 4 juta hektar kebun sawit ilegal, termasuk penindakan tambang-tambang ilegal di berbagai daerah seperti Sumatera Utara. “Ini sudah beres, ada 4 juta yang disita negara. Saya mesti tunggu berapa itu 16 tahun baru bisa,” tambahnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.











